Ads (728x90)

PADANG POS-BUMI nusantara sepertinya memang ditakdirkan menjadi sebuah kawasan yang teramat kaya dengan sumber daya alam, baik yang terpendam di bawah pemukaan tanahnya seperti minyak, gas bumi, batu bara, besi, timah, nikel, tembaga, emas dan bahan-bahan tambang lainnya. Maupun sumber daya alam yang tumbuh dipermukaan tanahnya, berupa tumbuhan palawija dan berbagai jenis rempah-rempah yang sangat dibutuhkan manusia.

Kekayaan alam yang melimpah itu, sudah lama diketahui oleh berbagai bangsa yang pernah berinteraksi dengan kawasan ini. Para petualang di masa lalu, yang pernah menyinggahi wilayah ini, pasti terpikat dan terpukau dengan semua kekayaan yang dimiliki itu. Mereka terheran-heran dengan apa yang dimiliki kawasan nusantara ini, inilah kawasan layaknya surga, di mana keindahan dan kekayaan bergelut di permukaannya.

Keterpukauan dan keterpikatan itu, kemudian berubah menjadi hasrat ingin memiliki, menguasai, mengeksploitasi, mendominasi bahkan menghegemoni. Itulah yang terjadi sepanjang sejarah wilayah ini. Kawasan nusantara telah menjadi pusaran kontestasi berbagai kekuatan utama dunia terutama dari daratan Eropa, mereka silih berganti berusaha menjadi yang paling kuat, karena pada gilirannya mereka dapat dipastikan menjadi yang paling banyak merampas dan merompak kekayaan alam wilayah ini. 

Seiring dengan kemajuan dan berbagai penemuan tekhnologi pasca Revolusi Industri di Eropa, maka ekploitasi kekayaan yang terpendam di perut bumi nusantara pun bermula. Penemuan dan eksplorasi berbagai jenis bahan tambang dilakukan di berbagai tempat dengan berbagai konsekwensi dan implikasi memilukan yang ditimbulkannya.

Inilah persoalan krusial yang menjadi perhatian dan buah keprihatinan seorang Akademisi Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Prof. Erwiza Erman. Dalam diskusi dengannya pada Jum’at tanggal 28 November lalu di Ruang Sidang FIS-UNP, ia membongkar fakta, betapa kekayaan alam negeri ini telah dirampas sewenang-wenang dalam rentang waktu yang sangat panjang, yaitu sejak zaman kekuasaan VOC yang tiranik hegemonik hingga zaman berkuasanya anak-anak bangsa pribumi yang eksploitatif dan koruptif.

Sebagai seorang yang pantas dijuluki ‘Sejarawan Sosiolog Antropolog’, Prof. Erwiza berhasil membongkar anatomi persoalan dan karut marut tambang di nusantara ini. Dengan menggunakan pendekatan ‘inter-disipliner’ ia membedah persoalan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto dalam sebuah bukunya “Membaranya Batu Bara: Konflik Kelas Dan Etnik Ombilin-Sawahlunto Sumatera Barat (1892 - 1996)”.

Buku yang berbasis Desertasi Erwiza ketika menyelesaikan Studi S3-nya di Universitas Amsterdam Belanda ini menguliti secara mendalam dan komprehensif dengan menggunakan pendekatan Sejarah Sosial Politik Pertambangan dalam kurun waktu yang merentang lebih dari satu abad.

Sebagaimana diketahui, ditemukannya batu bara oleh De Greeve dalam sebuah rombongan ekspedisi ke pedalaman wilayah Sumatera Barat pada tahun 1867 telah mengantarkan kawasan Sawahlunto, khususnya Ombilin, memasuki suasana baru. Sawahlunto kemudian berubah menjadi wilayah yang ramai, multi-etnis dan kosmopolit. Suasana baru itu, tak dapat dielakkan, telah menciptakan berbagai persoalan sosial ekonomi yang sangat menarik untuk dikaji.

De greeve melaporkan ekspedisi tersebut dalam sebuah ikhtisar bertajuk “Het Ombilien-Kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra’s Westkust. De Greeve sendiri meninggal akibat menjalankan misi untuk kepentingan persiapaan pengadaan jalur transportasi sungai demi kebutuhah distribusi batubara pasca penambangan.

Verbeek yang melanjutkan ekspedisi De Greeve melaporkan bahwa diperkirakan di sekitar kawasan Sawahlunto terdapat kandungan batubara sekitar 205 juta ton yang diestimasi belum akan habis selama dua abad proses eksplorasi. Temuan ini telah mendorong Pemerintahan Hindia Belanda untuk melakukan investasi besar-besaran demi pengadaan semua instrumen, mesin dan peralatan lainnya yang dibutuhkan dalam kegiatan pertambangan.

Harus diakui bahwa seiring dengan dieksplorasinya batubara, terjadi perkembangan dan pembangunan infrastruktur yang luar biasa di daerah ini. Dapat dibayangkan betapa hebat dan majunya Sawahlunto, sejak tahun 1894 kawasan ini sudah terhubung langsung dengan kota Padang melalui pembangunan jaringan rel kereta api. Tetapi, sebagaimana dijelaskan Rusli Amran dalam buku “Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang” yang diterbitkan Sinar Harapan Jakarta, 1985, bahwa masyarakat setempat tidak menjadi bagian dari berkah yang ditemukan itu, bahkan mereka tidak tahu menahu apa yang tengah berlangsung di daerah mereka. Keadaan itu berlangsung hingga Sawahlunto mencapai masa keemasannya pada puluhan ketiga abad ke-20.

Kegiatan pertambangan adalah kegiatan yang melibatkan ribuan pekerja, demikian juga halnya dengan pertambangan batubara Ombilin. Para pekerja di pertambangan Ombilin berasal dari dua sumber. Pertama, kuli kontrak. Pada umumnya mereka adalah para pekerja yang didatangkan dari Jawa dan sebagian etnis China. Kedua, pekerja yang berasal dari ‘Orang Rantai’. Mereka adalah narapidana yang dihukum  pemerintah Hindia Belanda karena berbagai “kejahatan” yang dilkukannya. Mereka disebut Orang Rantai karena diharuskan memakai kalung besi di leher, satu sama lainnya dikaitkan dengan rantai, masing-masing rantai diberi beban bola-bola besi yang beratnya bisa mencapai 10 kilogram.

Dalam keadaan seperti itulah mereka bekerja di lobang-lobang penggalian batubara, dengan kondisi terikat sedemikian rupa, hampir dapat dipastikan mereka tidak punya peluang untuk melarikan diri. Keadaan menjadi semakin tidak manusiawi bagi mereka, ketika disebarkan ketakutan kepada masyarakat sekitar bahwa mereka adalah para pembunuh, penculik, perampok dan pemerkosa yang siap melakukan aksi kejahatannya jika mereka keluar dari lubang-lubang tambang. Sungguh mereka sudah mati ketika hari pertama memasuki areal pertambangan. Jika ada di antara mereka yang jatuh sakit, mereka tidak diobati, malah dilemparkan ke lobang-lobang dalam bekas penambangan. Dibiarkan mati meregang nyawa dalam kondisi penistaan kemanusiaan yang tidak terperi.

Prof. Erwiza Erman menggambarkan bahwa kondisi ‘in humanity’ yang dialami para pekerja tambang Ombilin mengakibatkan meningkatnya angka bunuh diri. Dari seluruh kawasan Hindia Belanda, Ombilin berada di posisi paling puncak tingginya angka bunuh diri. (Bersambung dan Penulis Adalah Dosen FIS-UNP)

Post a Comment