Ads (728x90)

KEHADIRAN bangsa asing di Kota Padang diawali dengan kunjungan pelaut Inggris pada tahun 1649. Kota ini kemudian mulai berkembang sejak kehadiran bangsa Belanda di bawah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1663, yang diiringi dengan migrasi penduduk Minangkabau dari kawasan luhak.

Selain memiliki muara yang bagus, VOC tertarik membangun pelabuhan dan permukiman baru di pesisir barat Sumatera untuk memudahkan akses perdagangan dengan kawasan pedalaman Minangkabau. Selanjutnya pada tahun 1668, VOC berhasil mengusir pengaruh Kesultanan Aceh dan menanamkan pengaruhnya di sepanjang pantai barat Sumatera, sebagaimana diketahui dari surat Regent Jacob Pits kepada Raja Pagaruyung yang berisi permintaan dilakukannya hubungan dagang kembali dan mendistribusikan emas ke kota ini.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada 7 Agustus 1669 terjadi pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC. Meski dapat diredam oleh VOC, peristiwa tersebut kemudian diabadikan sebagai tahun lahir Kota Padang. (Baca: Sejarah Kota_Padang)

Rusli Amran menulis tentang Pauh, kota pahlawan, mengutip tulisan De Steurs dalam buku De vestiging en uitbreiding der Nederlanders ter Sumatra's Westkust atau Pendudukan dan Perluasan Orang-orang Belanda di Sumatera Barat (1849). De Steurs mengakui, kontrak-kontrak dagang yang dipaksakan dan larangan membikin garam sangat menjengkelkan rakyat. Hal ini menimbulkan pemberontakan-pemberontakan dan balas dendam. 

Kota Pahlawan Pauh, menurut Van Bazel, antara 1665 dan 1740 tidak kurang dari 20 kali memberontak terhadap kekuasaan Belanda. Pauh memang luar biasa. Hanya merupakan daerah kecil lebih kurang 6 kilometer dari timur Kota Padang dengan sedikit penduduk.

Orang-orang Indonesia yang membenci Belanda atau anasir yang pro-Aceh banyak yang berdiam di Pauh atau Koto Tangah sewaktu mereka terpaksa meninggalkan kota-kota yang telah dikuasai oleh VOC, Kompeni Belanda. (Baca: Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia)

Bila hanya untuk mengamankan Pauh, Belanda menggunakan pasukan-pasukan Bugis dan Ambon yang terkenal sebagai pasukan khusus atau crack troop pada masa itu di bawah pimpinan Aru Palaka dari Sulawesi Selatan dan Kapten Yonker dari Maluku. Kapten Yonker dan Aru Palaka adalah orang-orang yang turut memperkuat pasukan Belanda. 

Pasukan yang mereka pimpin sewaktu di Minangkabau cukup membuat repot karena keberanian dan keahlian berperangnya. Meskipun Kapten Yonker dan Aru Palaka ini berperang untuk pasukan Belanda namun kehebatan mereka dalam berperang patut mendapat catatan tersendiri. Akhir hidup dari Kapten Yonker ini sebagai pendukung Belanda yang setia dan banyak jasanya cukup mengenaskan, dikhianati oleh bangsa Belanda yang dibela dengan nyawa. Sentot Alibasya masih lebih beruntung yang hanya di istirahatkan dengan mewah di Bengkulu. 

Kembali kepada pemberontakan rakyat Pauh. Orang Pauh dianggap sebagai orang-orang pemberani dan ditakuti. Hasil bumi terpenting ialah padi sebab di daerah Pauh yang terletak di kaki Bukit Barisan terbentang luas sawah. Pada tahun 1665 terjadinya perang Rupit, perang Rupit adalah peperangan masyarakat Pauh melawan Belanda. Antara tahun 1665 – 1740 rakyat Pauah selalu memberontak terhadap kekuasaan Belanda. Walau Kota Pauh selalu dibumi hanguskan oleh Belanda, tetap, rakyat kembali dan menyusun pemberontakan dari tanah pusakonya.

Jacob Gruys pada bulan April 1666 dengan 200 pasukan Belanda dan pasukan-pasukan pembantunya menyerang kota Pauh untuk memadamkan pemberontakan rakyat. Serangan itu berakhir tragis bagi Belanda, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup, Jacob Gruys sendiri juga tewas, begitu pula 2 kapten dan 5 letnan.

Kekalahan tragis Jacob Gruys ini membuat Belanda kehilangan muka dan orang-orang Minang mulai memandang rendah Belanda serta melanggar kesepakatan dagang yang telah dibuat. Keadaan ini harus segera diatasi, maka pada bulan Agustus 1666 diberangkatkan dari Batavia 300 serdadu Belanda, 130 serdadu Bugis dibawah Aru Palaka dan 100 serdadu Ambon dibawah Kapten Yonker dibawah pimpinan Abraham Verspreet dengan gelar Komandan dan Komisaris.

Kepada Verspreet ditegaskan bahwa dalam setiap formasi tempur, pasukan Bugis pimpinan Aru Palaka dan pasukan Ambon pimpinan Kapten Yonker harus selalu berada didepan pasukan Belanda supaya korban dari pihak Belanda bisa dikurangi.

Setelah konsilidasi di Padang, pasukan Belanda mendapat tambahan sekitar 500 orang dari kota Padang yang ternyata dalam peperangan nanti tidak banyak membantu tetapi cukup gesit dalam melakukan penjarahan setelah peperangan selesai.

Dalam peperangan pertama, korban dipihak Belanda adalah 10 orang tewas dan 20 luka-luka termasuk Aru Palaka dan Kapten Yonker yang terkena 3 buah tusukan tombak. Pasukan Aru Palaka dan Kapten Yonker ini sering kali terpisah dengan pasukan induk disetiap peperangan karena begitu sibuk membantai (biasanya dengan memenggal kepala) dan sulit diperintah untuk tetap dalam barisan. (Baca: Petualangan Kapten Yonker dan Aru Palaka di Minangkabau)

Si Patai
Pada ujung abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20 desa Pauh di pinggir utara kota Padang, menjadi pelintasan pedagang yang pulang-pergi dari pedalaman Minangkabau ke kota. Lama kelamaan desa itu menjadi sarang pelarian dari tangkapan pemerintah. Baik yang musuh politik maupun penjahat. 

Rakyat menyebutnya sebagai sarang orang bagak dan para pendekar. Aliran silat pendekar desa itu terkenal kemana-mana. Sehingga banyak orang berlajar ke sana. Dinamakan sebagai aliran Silat Pauh. Kekuatannya pada kaki, menyepak, menerjang dan menungkai.

Polisi selalu was-was memasuki desa itu. Patroli tentera pun enggan. Banyak sudah korban di pihaknya. Sedangkan musuh yang dicari tidak pernah dapat.

Seorang pendekar yang paling disegani, paling ditakuti, Si Patai namanya. Ilmunya banyak, pengikutnya pun banyak. Menurut cerita yang tersebar, pada masa itu Si Patai sering keluar masuk kota. Tak seorang pun berani melapor kepada pemerintah bila melihatnya. Karena setiap ada yang melapor, selalu saja rumah pelapor kena rampok malam harinya. 

Lambat laun, setiap terjadi peristiwa perampokan atau pembunuhan, dikatakan Si Patai jadi otaknya. Maka Tuanku Laras selalu melapor kepada residen setiap terjadi peristiwa perampokan itu. Akhirnya Si Patai dinyatakan musuh nomor satu yang paling dicari, hidup atau mati.

Namun, ada cerita lain yang mengisahkan, bahwa Si Patai pernah ditangkap karena lawannya berkelahi terbunuh. Yang terbunuh itu kebetulan anak Tuanku Laras yang kalap karena judinya kalah. Selama di penjara Si Patai sering disiksa anak buah Tuanku Laras untuk melampiaskan dendamnya. 

Sebaliknya Si Patai banyak pula berguru berbagai ilmu pada sesama tahanan dari Bugis dan Banten. Ketika ilmunya dirasa sudah cukup, Si Patai meloloskan diri dari penjara. Dia bersembunyi di Pauh. Bergabung dengan mereka yang memusuhi pemerintah. Lambat laun Si Patai yang menjadi pemimpin. Setiap usaha menangkapnya selalu gagal. (Baca: Rekayasa Sejarah Si Patai)

(Ditulis oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Media Sumatera Barat - PMSB dan Wakil Ketua PK KNPI Kuranji)

Post a Comment