Ads (728x90)

PADANG POS (Padang)-Sebagai  Ketua DPD PAPPRI Provinsi Bengkulu, Eka Putra meminta para pembajak lagu untuk bertobat, karena pembajakan lagu dan karya seni itu sama saja dengan membunuh kreativitas musisi dan pelaku seni, serta memutus mata rantai regenerasi musisi dan seniman dibelantika dunia seni musik.
 
“Sampai sekarang, industri musik di Provinsi Bengkulu boleh dikatakan tak ada dan kalau pun ada rekaman atau relis album, diproduksi di Sumatera Barat,” kata Ketua DPD PAPPRI Provinsi Bengkulu Eka Putra, di sela-sela Rakernas PAPPRI di Hotel Sari Pan Pasipic, Jakarta, 24-26 November 2014.
 
Padahal, kata Eka Putra, banyak generasi muda yang berbakat di bidang tarik suara di Provinsi Bengkulu, namun sayangnya tidak ada wadah untuk menyalurkan bakat mereka tersebut. “Setelah saya dilantik jadi Ketua DPD PAPPRI Provinsi Bengkulu, saya akan mencoba merangkul para pengusaha untuk mau berbisnis di industri musik di Bengkulu,” kata pencipta lagu dan penyanyi ini.
 
Menurut Eka Putra, dirinya telah merelis lebih kurang enam belas album, seperti Gampo di Ranah Minang, Manggunggung Janji Cito, Mamak Jo Kamanakan, Jaso Pahlawan, Mancari Ayah, Marubah Nasib, Pulang MaubekRindu, Tadorong Sayang, Parasaian Anak Rantau, Musibah Ranah Minang, Dagang Nan Malang, Palimo Agam, Rancaknyo Ranah Minang, Minang Maimbau, Indang Seniman.
 
Kemudian, Kata Eka Putra dirinya juga menciptakan lagu Bengkulu, seperti  Dendam Tak Sudah, Bengkulu Kota Pelajar, Gadis Mana, Betandang ke Seluma, Bereh Lebong, Musibah di Utara, Kepahyang, Serasi Nian, Kucing Air.
 
Kedepan, kata Eka Putra lagi, dirinya akan mengajak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk konsekwen dan berkomitmen menerapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. “Tujuannya, agar para pelaku pembajakan ditindak tegas sesuai undang-undang,” katanya. (yal aziz).

Post a Comment