Ads (728x90)

PADANG POS (Bengkulu)-Meskipun Pilgub Gubernur Bengkulu masih gonjang ganjing dan belum ditabuh, tapi sebagai Ketua DPD Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Provinsi Bengkulu, Eka Putra telah  menghimbau para seniman di Provinsi Bengkulu untuk mendukung atau menyalurkan aspirasi politiknya kepada calon gubernur yang peduli seni music. 

“Jika gubernur Bengkulu mendatang, figure yang peduli seni music, saya yakin dan optimis para pencipta lagu dan pemusik di Bengkulu akan mampu berkarya dan bersaing dengan pencipta lagu dan penyanyi daerah lain, seperti dari  Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” kata Eka Putra kepada Padang Pos, Sabtu 29 November 2014. 

Menurut Eka, adat dan istiadat masyarakat Bengkulu tentang Kain Bersurek  yang bertuliskan huruf Arab gundul, merupakan  kepercayaan masyarakat di Provinsi Bengkulu yang mayoritas atau  95 persen beragama Islam. “Jadi, saya akan mencoba melaksanakan lomba menciptakan lagu tentang Kain Basurek, yang selalu dipakai setiap masyarakat di Provinsi Bengkulu setiap melaksanakan  sunat rasul, upacara adat perkawinan, upacara mencukur rambut anak yang baru lahir,” katanya.

Kemudian, kata Eka Putra masalah Tabut yang sekarang popular dengan sebutan Tabot yang selalu dimeriahkan setiap  tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 Muharram setiap tahunnya, yang tujuannya untuk memperingati gugurnya Hasan dan Husen cucu Nabi Muhammad oleh keluarga Yalid dari kaum Syiah, dalam peperangan di Karbala pada tahun 61 Hijriah. 

“Saya melihat, pada perayaan TABOT yang selalu dilaksanakan berbagai pameran serta lomba ikan – ikan, telong – telong, sehingga menjadikan ajang hiburan rakyat dan menjadi salah satu kalender wisatawan tahunan ini, ada pula lagunya,” katanya. 

Sedangkan dari sisi budaya, di Provinsi Bengkul terdapat empat bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Bengkulu, seperti Bahasa Melayu, Bahasa Rejang, Bahasa Pekal, Bahasa Lembak, karena secara historis penduduk Provinsi Bengkulu berasal dari tiga rumpun suku besar terdiri dari Suku Rejang, Suku Serawai, Suku Melayu. “Saya berkeinginan juga, agar lagu daerah Lalan Balek menjadi lagu yang harus di promosikan secara proposional, sehingga semua anak bangsa di republic ini tahu dengan lagu Lalan Balek tersebut,” tambahnya. 

Sebanarnya, kata Eka Putra, masih banyak nilai adat dan istiadat Provinsi Bengkulu yang masih terpendam dan sudah saatnya diangkat kepermukaan dengan lagu daerah.”Kalau gubernurnya peduli seni music, saya yakin lagu-lagu daerah Bengkulu akan go nasional dan internasional,” kata pencipta lagu dan penyanyi ini. (Yal Aziz)

Post a Comment