Ads (728x90)

PADANGPOS,  (JAKARTA)
Banyaknya para pelaku teroris memanfaatkan dunia maya sebagai jalur propaganda membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merintis program antisipasi.

Program yang diberi nama 'Tahun Damai di Dunia Maya' tersebut dilakukan guna menahan gempuran propaganda teroris melalui internet.
“Kita lihat masalah krusial saat ini adalah propaganda teroris melalui dunia maya sehingga kita gagas program nasional ‘Tahun Damai di Dunia Maya’. Saat ini perkembangan website teroris dari tahun 1998 berkembang pesat dan menyasar generasi muda,” kata Deputi 1 Bidang Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Agus Surya Bakti dalam pernyataannya, Kamis(5/3/2015).

Menurut data BNPT, pada tahun 2013 ada 2650 website yang lakukan propaganda terorisme. Setahun kemudian sudah bertambah menjadi 9800 website dan sebagian besar sulit diketahui identitasnya.
"Mereka (teroris) menjadikan internet untuk propaganda karena mudah diakses, tidak ada kontrol, punya audience yang luas,

serta tidak bisa diketahui identitasnya. Internet bisa jadi source pemberitaan para jurnalis. Inilah yang akan kita lawan dengan membangun suasana damai di dunia maya,” kata Agus.
BNPT lanjut Agus sudah mempunyai website sendiri untuk mencegah aksi terorisme di internet yakni damailahIndonesiaku.com dan jalandamai.org.

Lebih jauh Agus menjelaskan contoh nyata teroris di dunia maya adalah langkah teroris baru Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menjadikan dunia maya sebagai alat utama dalam menyebarkan ajaran dan merekrut anggota dari kalangan anak muda dan terpelajar. Data dari Studi Agama Universitas Surya yang menemukan bahwa 78 persen mahasiswa sains dan teknologi mengikuti akun beridentitas Islam.

Sementara itu, Pengasuh Kompasiana Pepih Nugraha melihat gerakan terorisme di dunia maya terorganisir.

“Mereka punya anak-anak muda yang paham media sosial dan tahu bagaimana memanfaatkan media sosial, serta sangat ekspansif. Ini membahayakan generasi muda Indonesia,” ujar Pepih.

Menurutnya ISIS punya jaringan komunikasi canggih dan gunakan isu dan model yang sedang tren di kalangan anak muda. Karena itu Pepih menyarankan BNPT mencoba program pencegahan seperti yang dilakukan TNI dengan memanfaatkan syber army dan intelijen di bidang internet.

"Pemerintah melalui Depkominfo juga harus sigap menutup situs-situs terorisme. Selain itu, pengelola dan penggiat media juga jangan kecolongan dengan propaganda ala terorisme,” ucap Pepih.  dikutib dari tribun.

Post a Comment