Ads (728x90)

PADANGPOS,
Di zaman serba digital, media cetak pun mengalami transformasi besar-besaran. Kini, tak sedikit awak media cetak yang mengubah pola kerja ”ngantor” mereka.

The Medium is the message. Jauh-jauh hari, Marshall McLuhan (1964) mengingatkan, bentuk media—bukan sekadar konten informasinya—ikut memengaruhi khalayak.

Suguhan informasi di televisi, koran, dan media online tak berkarakter sama. Media cetak terbilang paling konvensional, melalui rentang masa ratusan tahun, membentuk pola kerja khas bagi awaknya.
Teknologi hari ini memungkinkan informasi membanjir, bukan saja yang berupa produk jurnalisme. Perusahaan media cetak dituntut merespons hal ini dengan suguhan informasi online, sembari tetap mempertahankan edisi cetak. Pola kerja yang lama terbentuk pun berangsur berubah.

Selasa (10/3) siang, newsroom Grup Media Berita Satu sibuk, seperti biasanya. Ruang produksi berita ini merupakan hall luas, tanpa sekat khusus untuk membedakan area kerja awak beberapa media yang bergabung dalam satu grup itu: Jakarta Globe, Investor Daily, Suara Pembaruan, Majalah Investor, Berita Satu TV, dan Berita Satu Online.

Meski begitu, penghuni hall ini bisa mengenali ”wilayah” masing-masing. Tim produksi TV dan editor media cetak yang setiap hari bekerja di kantor punya meja dengan desktop komputer masing-masing. Sebaliknya, area yang lebih kasual—meja panjang ala kafe atau meja pendek dengan sofa—digunakan para wartawan yang berlaptop.

”Sebelumnya, setiap wartawan juga punya meja dengan desktop komputer masing-masing,” ujar Hari Gunarto, Redaktur Pelaksana Investor Daily. Desain newsroom ini berubah mengikuti perubahan pola kerja yang sudah lebih dulu terjadi. Tiap wartawan Investor Daily dibekali laptop dan telepon pintar serta diwajibkan mengirim berita bukan saja untuk edisi koran, melainkan juga untuk Berita Satu Online.

Tugas mengirim berita online yang sebelumnya tidak ada pada awak media cetak itu menuntut wartawan mengirim berita sesegera mungkin setelah peristiwa terjadi, bahkan saat peristiwa berlangsung.

Akibatnya, perjalanan ke kantor setelah liputan kerap dirasa membuang waktu. Apalagi di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta.

Perangkat teknologi memungkinkan berita dibuat dan dikirim dari mana saja. Tempat kerja wartawan tak lagi sebatas newsroom di kantor media. Institusi yang kerap jadi sumber berita, kementerian misalnya, juga menyediakan ruang media.

Di situ, awak beragam media menggarap berita masing-masing, berdiskusi, atau sekadar melewatkan waktu menunggu narasumber. Namun, kafe hingga teras mushala di perkantoran ataupun mal juga bisa jadi tempat kerja favorit untuk wartawan.

Tambahan tugas untuk menggarap berita online membuat Investor Daily sejak sekitar dua tahun lalu membebaskan wartawan dari kewajiban masuk kantor.

Perubahan pola kerja ini juga dinilai lebih efisien dari sisi manajemen kantor media, terutama pada grup yang menggabungkan beberapa media baru. di kutib dari tri
bun.

Post a Comment