Ads (728x90)


PADANGPOS,  (Padang)
Gonjang - ganjing harga cabe di Sumatera Barat selalu menjadi momok yang mempengaruhi inflasi di provinsi ini. Sebab, selain tingginya konsumsi cabe masyarakat di daerah ini, petani cabe lokal juga cenderung menjual hasilnya ke provinsi lain.

"Harga cabe terkadang cenderung tidak terkendali di Sumatera Barat. Padahal dari data yang kita miliki, petani cabe kita cukup banyak. Namun hasilnya dijual keluar," kata Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno saat memantau harga kebutuhan pokok khususnya cabe di Pasar Raya Padang, Rabu (18/3).

Dalam kesempatan ini, Gubernur yang didampingi Danrem 032/Wirabraja, Wakil Walikota Padang dan Kepala BI Perwakilan Sumatera Barat mengungkapkan, dari hasil pantauan di Pasar Raya Padang tak ada satu pun cabe asal Sumatera Barat yang dijual pedagang, melainkan didatangkan dari Jawa.

"Ada lima atau enam pedagang besar yang memasok cabe setiap hari sekitar 5 sampai 6 ton," ujar Irwan.

Sehingga harga cabe di Pasar Raya Padang yang merupakan pasar sentral di Sumatera Barat, menurut Irwan ditentukan oleh pedagang yang memasok cabe dari Jawa tersebut.
"Dengan demikian bisa saja kita tidak tahu, dasar apa yang menyebabkan tinggi rendahnya harga," katanya.
Dari hasil pantauan ini, lanjut Gubernur Irwan, pihaknya akan melakukan tindakan seperti gerakan menanam cabe di dalam polibag setiap rumah.

"Gerakan ini sudah dimulai Pemerintah Kota Padang, yaitu gerakan menanam seribu pohon cabe. Hal yang sama juga dilakukan TNI di jajaran Korem 032 Wirabraja," pungkas Irwan.

Terpisah Wakil Walikota Padang, Emzalmi mengatakan, gerakan menanam cabe dalam polibag sudah dicanangkan beberapa bulan ini. Melalui dinas terkait, Pemko sudah membagikan ribuan batang pohon cabe pada 3.000 rumah di Kota Padang.

"Hal ini diharapkan bisa menekan pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk berbelanja cabe. Dengan demikian juga akan menekan inflasi akibat lonjakan harga cabe," ulas Wawako.(tf/du)

Post a Comment