Ads (728x90)

                                              Catatan : Amoe Hirata,

SUATU saat, Ali bin Abi Thalib Ra. berkata: “Menurutku, ada dua golongan yang akan binasa (celaka). Pertama, berlebih-lebihan dalam mencintaiku, yang mana kecintaannya membawanya pada sesuatu yang tidak haq (benar). Kedua, berlebih-lebihan dalam membenciku, yang mana kebenciannya membawa pada yang tidak haq (benar). Golongan yang paling baik keadaannya –menurutku- adalah golongan yang pertengahan. Maka tetapilah mereka dan ikutilah al-Sawād al-A`ḍam (kelompok yang besar) karena sesungguhnya “tangan Allah” berada pada jama`ah” (Baca: ‘Ibnu Saba` Haqīqatun Lā Khayāl” yang artinya, ‘Ibnu Saba adalah Kebenaran Bukan Khayalan’ karya: Sa`adi bin Mahdi al-Hāsyimi, 3/15).

Apa yang dikatakan Ali Ra. benar-benar terbukti. Dalam perjalanan sejarah, ada dua golongan yang berada pada dua titik ekstim sekaligus bersebrangan. Pertama, Syi’ah (yang mengkafirkan sahabat selain ahlul bait versi mereka, bahkan pada taraf tertentu menabikan dan menuhankan Ali Ra.).

Kedua, Khawarij (yang kecewa terhadap Ali Ra. pasca peristiwa tahkīm[arbitrase]). Menanggapi dua golongan yang sama-sama ekstrim dalam hal mencintai dan membenci ini, Ali Ra. berpesan agar umat Islam –baik pada masanya maupun sesudahnya- menetapi, dekat bahkan mendukung jamaah yang moderat (pertengahan), yang mana jika kita bahasakan dengan bahasa saat ini ialah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sikap Ali Ra. terhadap Syi’ah (yang dibidani oleh Abdullah bin Saba’ dan para pendukungnya) sangat tegas dan jelas. Ali menolak segala bentuk pengkultusan dan doktrin-doktrin menyimpang mereka. Ada dua riwayat yang yang menunjukkan sikap Ali Ra. terhadap Syi`ah pada zamannya. Pertama, orang-orang tersebut dibakar (Hr. Bukhari).

Kedua, diasingkan ke daerah Madain (Hr. Ibnu Asakir). Terlepas dari perbedaan riwayat tersebut, sikap Ali Ra. terhadap mereka sangat jelas yaitu menolak berbagai bentuk pembelaan dan pengkultusan mereka terhadap dirinya.

Sebagaimana Ali bin Abi Thalib, sikap Ust. Arifin Ilham yang menolak Syi`ah sebagaimana yang termaktub dalam sepanduk (yang menimbulkan penyerangan terhadap Majelis Az-Zikra), sudah benar. MUI Pusat pun pernah menerbitkan buku yang berjudul: “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi`ah di Indonesia”. Ini menunjukkan memang Syi`ah benar-benar bahaya.

Secara historis, di awal kemunculannya, memang mereka suka membuat ulah. Karakteristik mereka yang suka berdusta atas nama agama, memecah-belah umat, mengkafirkan sahabat, mereduksi istilah ahlu al-bait, mengeksploitasi kondisi umat yang lemah, serta doktrin menyimpang lainnya, membuat mereka sangat wajar ditolak.

Dari kasus yang menimpa Ust. Arifin ilham dengan Majlis Azzikranya (Rabu 12 Februari 2015), minimal akan membuat masyarakat sadar tentang hakikat dan bahaya Syi`ah. Apa yang digembor-gemborkan selama ini tentang sikap toleran Syi`ah, ternyata hanya isapan jempol. Toleransi menjadi sekadar basa-basi.

Di sepanjang sejarah, bisa dibuktikan bahwa, ketika menjadi minoritas, mereka akan ber-taqiyah (pura-pura pro), sekaligus membuat konspirasi (sebagaimana Ibnu al-`Alqami dan Nashīru al-Dīn al-Thūsi ketika menginfiltrasi Daulah Islam Baghdad) sedangkan ketika menjadi mayoritas, mereka tidak segan-segan memberangus bahkan membantai orang yang tidak sepaham dengannya (baca: Shalāhuddīn al-Ayyūbi wa Juhūduhu fi al-Qadhā `alā al-Daulah al-Fāthimiyah, karya: Muhammad Shallābi).

Sebagai penutup, untuk menjaga persatuan dan menguatkan barisan umat, serta terhindar dari kebinasaan, maka nasihat Imam Ali Ra. di atas perlu dicamkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pertama, mewaspadai pergerakan Syi`ah. Kedua, menjalankan agama secara wasaṭ (pertengahan) tidak berlebihan sebagaimana yang dilakukan Syi`ah dan Khawarij. Kedua, mendukung, menguatkan, dan bergabung dengan Ahlus Sunnah wal jama`ah. Karena pada hakikatnya, ‘tangan Allah’ berada pada jama`ah lurus, bukan menyimpang. Wallahu a`lam.       Penulis Bina Qalam Indonesia.

Post a Comment