Ads (728x90)

PADANGPOS,
Tidak sedikit menteri yang masuk bui setelah selesai menjabat. Mereka terbukti melakukan korupsi dan merugikan negara. Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dipidana 1 tahun 8 bulan dalam korupsi sapi, sarung dan mesin jahit. Sementara mantan Mendagri Hari Sabarno divonis 2,5 tahun dalam kasus korupsi pemadam kebakaran.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib Menteri Pemuda dan Pembangunan RI, Supeno. Dia ditangkap, dan langsung dieksekusi mati oleh tentara Belanda.

Ketika Belanda menyerang Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1948, Supeno ikut bergerilya keluar masuk hutan. Pasukan Belanda terus memburunya. Setelah berbulan-bulan bergerilya, Supeno dan rombongannya tertangkap Belanda di Desa Ganter, Dukuh Ngliman, Nganjuk. Ketika itu Supeno sedang berada di pancuran untuk mandi.

Tentara Belanda menyuruh Supeno jongkok dan menginterograsinya. "Sapa Kowe?" gertak Belanda.

"Penduduk sini," jawab Soepeno tanpa takut.

Belanda tak percaya. Walau Supeno berpakaian seperti penduduk desa, dia tidak berbau seperti orang desa. Belanda terus mendesak Supeno berbicara. Tapi dia tetap bungkam. Serdadu Belanda menempelkan ujung pistolnya di pelipis Supeno. Supeno tetap bungkam, tanpa gentar.

Beberapa orang yang menjadi saksi peristiwa itu bisa melihat ketegaran Supeno. Sikapnya teguh, sama sekali tidak ada rasa takut pada pemuda itu.

"Dor!" pistol menyalak. Darah segar mengalir dari kepala Supeno. Dia tewas seketika.

Belanda kemudian mengeksekusi enam orang lainnya. Ajudan Supeno, Mayor Samudro juga ditembak mati.

Peristiwa dramatis tersebut dilukiskan Julius Pour mengutip Rosihan Anwar. Julius Pour menuliskannya dalam buku 'Doorstoot Naar Djokja, Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer' terbitan Penerbit Buku Kompas, halaman 157-158.

Supeno ditetapkan menjadi pahlawan Nasional. Jenazahnya dipindahkan dari Nganjuk ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Supeno lahir tahun 1916 di Pekalongan, Jawa Tengah. Saat tewas usianya baru 33 tahun.

Jika Supeno melihat menteri-menteri yang hanya sibuk memperkaya diri dan bolak-balik ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tidakkah dia merasa sedih?

Post a Comment