Ads (728x90)

                                                                                                          PADANGPOS (Padang Panjang)
Dilarang Merokok......., selamatkan diri anda dari sakit Jantung.
Ada yang istimewa ketika memasuki Kota Padang Panjang di Sumatera Barat. Jejeran nama-nama Allah (Asmul Husna) yang berjejer rapi.

Selain itu tanpa satupun iklan rokok. Ya.. Kota Padang Panjang satu-satunya kota di Indonesia yang menolak iklan rokok masuk di kota yang wilayahnya memiliki ketinggian di atas 800 meter dari permukaan laut.

Sejak tahun 2008, Kota Padang Panjang menolak iklan rokok. Saat terakhir menerima iklan rokok sebelum tahun 2008, jumlahnya memang tidak terlalu besar,  yakni Rp 75 juta per tahun. Namun jumlah itu terbesar dari iklan reklame yang mencapai Rp 100 juta.  Kini dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah ) mencapai Rp 40 miliar, Wakil Walikota Padang Panjang Mawardi memperkirakan jika masih mengambil iklan dari rokok bisa mencapai Rp 400 juta.

Mereka juga memberlakukan kawasan tertib rokok dan kawasan tanpa asap rokok dengan disiplin. Di kawasan tanpa asap rokok, benar-benar tidak boleh merokok sama sekali. Seperti di pelayanan kesehatan, sekolah, tempat ibadah, tempat  kegiatan anak-anak, dan di angkutan umum. Sementara di kawasan tertib rokok, diberi ruang khusus untuk merokok. Seperti di instansi pemerintah dan tempat kerja swasta.

Lalu bagaimana pengawasannya? Wakil Walikota Padang Panjang Mawardi tidak memungkiri ada pegawai bahkan walikota Padang Panjangpun  masih merokok. Namun dengan adanya ruangan khusus, membuat ‘gerakan’ para perokok agak terhambat untuk merokok. Karena harus menuju ruang khusus dulu. Tak terkecuali walikotanya.

“Merokok memang belum berhenti. Tapi dari pagi ada kegiatan di kantor, ke walikota. Kesempatan merokok jadi sulit. Saat istirahat saja bisa merokok. Itupun kalau tidak malas ke ruangan khusus,” kata  Rudy Suarman Camat Padang Panjang Barat, yang ditemui Warta Kota saat kunjungan ke Kota Padang Panjang, Rabu (21/5).

Sejak kebijakan walikota tidak menerima iklan rokok, tidak hanya para pejabat, tapi juga didukung  warga,  DPRD, kader PKK serta LSM. Mewujudkan kota tertib dan tanpa rokokpun, tidak mudah karena adanya  kebiasaan. Misalnya  jika setelah di masjid atau acara tertentu seperti nikah, rokok menjadi sajian. Disamping juga kondisi wilayah Kota Padang Panjang yang dingin, rokok dijadikan penghangat tubuh. Toh pada akhirnya peraturan daerah tentang kawasan tanpa asap rokok dan tertib rokok bisa diberlakukan.

Para kader PKK terus menerus diberi edukasi, murid dari ditingkat TK/PAUD, SD, SMP, dan SMA juga diberi edukasi begitu juga organisasi masyarakat. Dampaknya, ketika suami atau ayah yang merokok sembarangan, tidak hanya ditegur oleh istrinya tapi juga bisa tetangga dan anak-anaknya.

Warta Kota sempat mengunjungi  RT 11 Kelurahan Pasar Usang Kota Padang Panjang yang menjalankan kawasan tertib rokok. Di RT yang menjadi permukiman 47 KK (Kepala Keluarga), tinggal 8 KK lagi yang rumahnya masih memiliki perokok. Sisanya dengan kesadaran sendiri tidak lagi merokok. Para perokok itupun tidak merokok di dalam rumah. Jikapun merokok paling dekat di teras rumah dan halaman. Sejak lama pula (2008) rumah-rumah di Padang Panjang tidak lagi menyediakan asbak.

Elifahmi kader RT 11 mengaku, suaminya seorang sopir lintas Sumatera telah berhenti sejak 2011 lalu. Atas kesadaran sendiri dan edukasi yang telah diterimanya lama.

“Alasan kesehatan dan sayang sama keluarga. Apalagi anak-anak kami laki-laki semua. Dia tidak mau anak-anaknya merokok,” kata ibu empat anak ini.

Apalagi sebelum adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari Pemerintah pusat, Pemerintah Kota Padang Panjang lewat Jaminan Pelayanan Kesehatan telah memberikan gratis pengobatan kecuali penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Di Propinsi Sumatera Barat yang terdiri dari 12 kabupaten dan tujuh kota, yang memiliki perda tentang Kawasan Tertib rokok dan kawasan tanpa rokok ada tiga yakni Kota Payakumbuh, kota Bukittinggi, dan Kota Padang Panjang. Namun hanya kota Padang Pajang saja yang ditambah menolak iklan rokok.

Dokter spesialis paru jadi menganggur
Sejak peraturan Daerah tentang kawasan tertib rokok dan kawasan tanpa asap rokok dijalankan, jumlah perokok di Kota Padang Pajang turut menurun. Salah satu indikasinya menurunnya penyakit paru-paru dan tidak lagi masuk 10 besar di RSUD Padang Panjang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang yang pernah menjadi Direktur Utama RSUD RS Padang Panjang periode 2008-2013 Yanuar Mkes, sebelum adanya peraturan tersebut, penyakit paru menjadi penyakit terbanyak. Bahkan RSUD Padang Panjang menjadi rujukan khusus penyakit respirasi (pernafasan).

Namun kini dokter spesialis paru yang ada di RSUD Padang Panjang sudah berniat pindah ke Kota Batu Sangkar karena di Padang Panjang lebih banyak menganggur.  “Dokter itu akhirnya minta izin untuk pindah ke RS Batu Sangkar. Ia berdalih agar kemampuannya bisa dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan,” kata Yanuar.

Kapan kota lain menyusul Kota Padang Panjang?

Post a Comment