Ads (728x90)

PADANGPOS  (Padang)
Salahsatu ikon pariwisata Kota Padang, Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis terancam hilang. Hal ini mendapat perhatian tersendiri terutama dari Pemerintah Kota Padang agar objek wisata tersebut dapat kembali menjadi wisata primadona.

Selasa (10/3) pagi, Wakil Walikota Padang, Emzalmi mengunjungi lokasi objek wsiata Batu Malin Kundang. Bersama sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, Wawako melihat langsung keberadaan Batu Malin Kundang yang telah mulai tertimbun pasir pantai.

Melihat kondisi demikian, Wawako Emzalmi cukup prihatin. Apalagi objek ini sudah tersohor ke mana-mana. “Yang menjadi tujuan wisata para wisatawan ke sini berkaitan dengan legenda Batu Malin Kundang. Sekarang kondisinya cukup memprihatinkan, tertimbun pasir,” kata Emzalmi.

Emzalmi melihat, penyebab tertimbun pasirnya Batu Malin Kundang yakni karena alur sungai yang tersumbat karena tertimbun pasir. “Kamis depan akan kita kerahkan alat berat untuk mengeruk alur sungai, sehingga posisi Batu Malin Kundang itu kembali seperti dulu,” ungkapnya.

Agar lokasi ini terlihat lebih menarik dan tertata dengan baik, sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sekitar bibir sungai dan seputar Kapal Malin Kundang akan dipindahkan. Demikian juga dengan pedagang di sekitar Batu Malin Kundang, akan dipindahkan ke lokasi yang lebih baik.

“Kita berharap, kalau yang menjadi objek utama adalah Kapal Malin Kundang, tentunya akan kita bebaskan dan view-nya akan dikembalikan seperti semula,” tambah Emzalmi.

Dengan ditertibkannya PKL yang berada di seputar Batu Malin Kundang diharapkan nanti dengan sendirinya akan menambah keamanan dan kenyamanan para pengunjung. “Melalui konsep pemberdayaan masyarakat yang dibina langsung oleh SKPD teknisnya seperti Dinas Budaya Pariwisata, Dinas Perhubungan, Pekerjaan Umum, DKP, TRTB, termasuk Pol PP dan Asita, diharapkan dalam waktu dekat ini objek wisata pantai Air Manis akan ramai dikunjungi,” beber Wawako.

Sebagai jalur penghubung bagi wisatawan yang ingin mendatangi objek wisata ini, jalan masuk dari Koto Kaciak hingga Air Manis. Jalan ini nantinya diharapkan mampu menjadi jalur penunjang dan penghubung. Sementara jalan utama dari Nipah hingga Teluk Bayur dalam tahun ini ditargetkan selesai.
 “Kalau selama ini yang menjadi kendala di lokasi ini adalah tanah, alhamdulilah telah ada penyelesaian. Maka badan jalan selebar delapan meter akan bisa dilewati bus besar ke pantai Air Manis. Harapan kita pembenahan objek wisata yang prioritas ini akan kembali dan bisa memotivasi kunjungan wisatawan,” tukuk Emzalmi.

Pada kunjungan ke Pantai Air Manis itu, Wawako Emzalmi melihat langsung master plant yang menjadi rencana pembangunan di seputaran pantai tersebut. Dalam kunjungan terlihat hadir sejumlah kepala SKPD di lingkup Pemko Padang diantaranya seperti Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas PU, Dishub, Kadisperindagtamben, Kepala TRTB, serta Kabag Humas Setdako. Juga tampak sejumlah pengurus Badan Pengelola Objek Wisata (BPOW)Pantai Air Manis serta tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

Ketua BPOW Pantai Air Manis, Syahrul mengatakan pihaknya setuju jika pantai ini dibuat tacelak. Untuk melakukan itu semua perlu dilakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat sekitar, terutama para pedagang di sepanjang pantai.

Sementara, Ketua Pemuda Pantai Air Manis Padang, Anto menuturkan masyarakat di sekitar pantai sangat mendukung penuh rencana Pemko Padang dalam mempercantik objek wisata tersebut. Karena menurutnya selama ini masyarakat sangat merasakan dampak positif dengan adanya objek wisata Malin Kundang.

Mendukung rencana Pemko itu, masyarakat menyiapkan sejumlah lahan sebagai tempat parkir bagi kendaraan yang akan masuk ke lokasi wisata. “Satu hektar lahan sudah kita siapkan jika Pemko mau menggunakannya untuk tempat parkir,” tutur Anto.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Dian Fakri menyebut pembenahan pantai Air Manis ini disebut dengan era baru perubahan objek wisata Pantai Air Manis. Manajemen yang selama ini dianggap kurang berdaya akan diubah dengan melibatkan unsur masyarakat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggandeng masyarakat dengan membentuk Badan Pengelola Objek Wisata (BPOW), dimana pengurusnya terdiri dari masyarakat setempat. “Kalau selama ini PAD yang masuk dari objek wisata ini sebesar Rp 250 juta pertahun, harapan kita setelah dilakukan pembenahan ini akan meningkat menjadi miliaran rupiah,” sebutnya.(tf
)

Post a Comment