Ads (728x90)

                                                                                                        PADANGPOS (Padang).
Kepolisian Resor Metro Tangerang membekuk satu dari tujuh pelaku serangkaian aksi kejahatan perampasan kendaraan dengan kekerasan atau yang saat ini santer disebut begal.

Satu pelaku ditangkap berinisial AH ditangkap dalam operasi penyergapan di wilayah Depok, Jawa Barat.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestro Tangerang Kota, AKBP Sutarmo, AH dan sindikatnya bukan pemain baru di dunia hitam begal.

"Mereka ini sadis sudah beraksi di beberapa kota dan semua korbannya dilukai termasuk korban terakhir yang tewas," kata Sutarmo, Kamis 26 Februari 2015.

Sindikat AH berjumlah tujuh orang semuanya merupakan warga asal Lampung. "Satu ditangkap, satu tewas tertembak saat markas mereka kita sergap, lima lainnya melarikan diri," papar Sutarmo.

AH bukan lah seorang pria dewasa, usianya baru saja genap menginjak 19 tahun. Postur tubuhnya pun terbilang kecil dan kurus.

Tapi, siapa sangka, remaja ini adalah begal sadis, ia sudah lebih dari tiga kali melukai korbannya dengan senjata tajam yang dibawa setiap kali beraksi.

"Jika korban tidak mau menyerahkan kendaraannya, saya lukai," ungkap AH saat gelar perkara di Polrestro Tangerang Kota.

Di hadapan polisi, AH membuka satu persatu rahasia aksi begal yang dilakukannya bersama sindikatnya. Salah satunya adalah tentang siapa saja calon korban aksi begalnya.

AH menceritakan, sindikatnya tidak pernah sembarangan dalam memilih korban yang akan dibegalnya.

"Semua korban ditemukan saat jalan dan tidak ada yang kami kenal," katanya.

Menurut AH, sindikat AH nyaris tak pernah gagal dalam beraksi, kunci keberhasilan mereka ada pada pola memilih sasaran korban.

"Kami tidak sembarangan memilih korban, ada ciri orang yang bisa dijadikan korban," katanya.

AH menjelaskan, orang yang menjadi sasaran utama aksi kejahatan sindikatnya adalah orang yang lemah.

"Anak-anak muda, laki-laki yang lemah, itu sasaran kami," paparnya.

Arti kata lemah yang disebutkan AH itu dimaksudkan pada laki-laki yang postur tubuhnya kecil dan berkendara seorang diri.

"Kalau yang kuat, kami bisa saja gagal, karena biasanya mereka melawan," katanya.

Dalam setiap kali beraksi, AH ditemani tiga anggota sindikat lainnya, mereka mencari korban dengan cara menyisiri wilayah yang gelap di malam hari.

"Biasanya dua motor, empat orang berboncengan, dengan pakaian rapih," jelasnya.

Jika sudah menemukan calon korban, mereka langsung memepet sepeda motor korban. "Kita pepet dari sebelah kanan, satu motor agak depan, satu di tengah," katanya.

Setelah korban terperangkap dalam jebakan dua motor itu, AH mulai bertugas, ia mulai mengeluarkan senjata tajam sambil berteriak kepada korban.

"Saya suruh berhenti, kalau dia tidak berhenti tebas tangannya" ungkap AH.

Setelah korban dilumpuhkan, salah seorang anggota sindikat merampas dan membawa kabur sepeda motor korban.

"Kadang takut juga, tapi kami tidak pernah sendirian, jadi lebih berani," katanya.

Apa yang diungkapkan AH bukanlah omong kosong belaka, dari data kepolisian, AH dan sindikatnya sedikitnya telah merampas tujuh unit mobil dan belasan sepeda motor.

Kini polisi terus memburu lima rekan AH yang diduga telah melarikan diri ke kampung halamannya di Lampung. viva.co.id

Post a Comment