Ads (728x90)


PADANGPOS.COM.  (Padang),   Sungguh malang benar nasib Malin Kundang. Sudahlah dikutuk menjadi batu, kondisinya pun tertimbun pasir. Namun itu dulu. Sekarang, batu Malin Kundang tak lagi tertimbun pasir. Kapal Malin Kundang kembali bersandar

Sejak beberapa waktu belakangan ini, Pemerintah Kota Padang ‘basitungkin’ mengembalikan magis legenda Malin Kundang yang sudah tersohor hingga ke pelosok negeri. Salahsatunya dengan mengeruk kembali kapal Malin Kundang yang tertimbun pasir pantai. Pengerukan dilakukan bersama-sama dengan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemko Padang. Semua saling bahu membahu dalam gotong royong bersama.

Hasilnya, kini kapal Malin Kundang kembali tampak di permukaan. Pedagang Kaki Lima (PKL) yang memenuhi lokasi seputaran kapal sudah ‘hijrah’ ke tempat yang sudah disiapkan Pemko Padang. Objek wisata ini kembali menarik dan siap untuk menyedot kembali pelancong yang datang ke Padang.

Sabtu (25/4) kemarin, peserta Muskomwil I Apeksi melakukan city tour ke objek wisata batu Malin Kundang. Sebanyak 24 walikota se-Sumatera beserta rombongan tiba di lokasi saat pagi menjelang siang. Di lokasi ini, seluruh peserta terlihat terkesima melihat indahnya kawasan Pantai Air Manis dengan batu Maling Kundangnya. Mereka mengabadikan momen di lokasi itu lewat kamera ponsel dan sebagainya. “Wah menarik sekali, pemandangannya juga bagus di sini,” celetuk salah seorang peserta Muskerwil dari Gunungsitoli sambil berpose dengan kamera sakunya.

Dikatakan Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, city tour memang sengaja dilakukan di objek wisata batu Malin Kundang. Ini untuk melihat sekaligus memperkenalkan objek wisata tersebut kepada seluruh undangan yang hadir. “Bisa dilihat miniatur kapal Malin Kundang yang pecah karena ombak, juga ada patung malin kundang,” ujar Wako sambil menunjuk ke kapal Malin Kundang yang terlihat kokoh di tengah arus sungai menuju pantai.

“Tempat ini telah tersohor ke mana-mana hingga Malaysia, Brunei, Singapura, dan lainnya. Bahkan juga telah dikunjungi banyak wisatawan. Karena tempat wisata ini ada nilai edukasinya,” tambahnya.
Di kawasan batu Malin Kundang ini, Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah menceritakan kembali kisah legenda Malin Kundang kepada seluruh walikota yang hadir ketika itu. “Malin Kundang itu artinya Malin yang digendong. Malin yang lahir di sini kemudian merantau ke Jawa dan beristerikan kaya dan cantik rupa.

Di rantau, Malin lupa dengan orangtuanya dan kampung. Saat pulang, Malin tidak mengakui orangtuanya yang renta dan miskin. Orangtua Malin menangis sedih lalu mendoa kepada Allah atas perlakuan anaknya dan kemudian dikutuk menjadi batu,” cerita Wako.

Wako menyebut, inilah pelajaran yang diambil masyarakat ketika berkunjung ke objek wisata batu Malin Kundang. Mereka menceritakan kepada anak-anaknya kisah tersebut agar anaknya patuh dan taat kepada orangtua. “Karena surga itu di bawah telapak kaki ibu,” kata Wako.

Wako berharap, dengan rangkaian kegiatan city tour ini memberi nilai positif dan dapat menjalin keakraban sesama. Wako menginginkan, setiap kota di Apeksi Wilayah I untuk saling bersinergi karena setiap kota punya kelebihan masing-masing yang dapat ditonjolkan dan dijadikan kekuatan. “Mari kita ambil kelebihan kota lain untuk diterapkan dan dipakai di kota masing-masing. Kalau ada kekurangan kota lain, mari kita rembukkan bersama-sama untuk kebaikan dan demi kesejahteraan kita semua,” kata Wako Mahyeldi.

Usai melihat batu Malin Kundang, rombongan kemudian menuju tempat penginapan masing-masing. Rencananya, kepengurusan Apeksi Komwil I 2015-2018 akan mengikuti Munas Apeksi di Ambon, 7 Mei nanti.(tf/ch)


Post a Comment