Ads (728x90)

                   Catatan  :  Ir. H. Emzalmi, M.Si.                                            (Wakil Walikota Padang )

      Sudah menjadi fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat memisahkan hidupnya dari manusia lain. Kita tidak seperti penyu, yang ditelurkan induknya dalam timbunan sebuah lubang pasir. Ketika menetas, berjuang keluar lalu mati-matian merangkak ke bibir pantai. Di laut, tukik itu tumbuh besar mencari makan sendiri dan pandai-pandai sendiri supaya selamat dari pemangsanya hingga besar menjadi penyu.

          Siklus hidup manusia tidaklah demikian. Semenjak lahir ia telah membutuhkan pertolongan. Untuk tumbuh besar, ia memerlukan makanan, pendidikan, curahan kasih sayang dari orang tua dan orang lain. Tatkala dewasa, manusia memerlukan pekerjaan, relasi untuk mengembangkan bisnis, dan kerja sama-kerja sama lainnya demi aktualisasi diri. Bahkan saat meninggal pun manusia memerlukan tenaga manusia lainnya membawanya ke liang kubur.

          Sejarah telah mencatat bahwa eksistensi manusia untuk bertahan dan berkembang di dunia ini adalah karena kekuatannya dalam menjalin kebersamaan. Sejak zaman prasejarah, manusia telah hidup berkelompok untuk mendapatkan hewan buruan serta bergotong-royong membangun pusat pertahanan agar selamat dari ancaman musuh. Seiring waktu berjalan, pola kehidupan berkelompok antar manusia tersebut jadi semakin beragam.

          Meski tak bisa dipungkiri, manusia juga dapat dipandang sebagai makhluk individu yang mempunyai hak dan kewajibannya secara pribadi. Mereka memiliki pemikiran dan pilihan yang diperlukannya dalam mengambil tindakan yang akhirnya akan dipertanggungjawabkannya sendiri. Manusia yang bersikap individual cenderung akan mengedepankan egoisme dalam dirinya ; mengutamakan kepentingan pribadi serta mengenyampingkan tujuan bersama. 

          Sikap egois serupa itu tanpa disadari, sehari-hari kerap kita temukan di depan mata kepala sendiri. Misal, seorang yang mencampakkan sampah sembarangan. Ia tidak peduli, apakah sampahnya akan membuat risih orang lain atau tidak. Aksi kebut-kebutan di jalan, meski memakai motor sendiri juga contoh lainnya. Pengebut ini tidak memikirkan bahwa aksinya dapat saja mencederai orang lain atau mencelakai dirinya sendiri sehingga membuat susah orang tuanya. Sikap-sikap mau menang sendiri, bersikap seenak perutnya saja, dan tidak menghargai peran orang lain inilah yang hendaknya disingkirkan jauh-jauh dari dalam diri kita yang hidup dalam alam bermasyarakat.

          Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 13,  “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

          Di sini tampak, bahwa Allah SWT yang Maha Mengenal menghendaki manusia saling kenal-mengenal yang hakikatnya merupakan benih dari kasih sayang. Tak kenal maka tak sayang, demikian sebuah peribahasa. Dengan munculnya rasa sayang maka akan tumbuh kepedulian, perasaan berkorban, saling menghargai kemudian sifat-sifat mementingkan diri sendiri pun akan musnah.

          Allah juga mengistimewakan orang-orang yang mengerjakan sholat berjama’ah dengan memberikan pahala yang lebih banyak dibanding sholat seorang diri. Allah juga memerintahkan agar kita mengeluarkan zakat, bersedekah, memelihara anak yatim dan menyantuni orang miskin salah satunya bertujuan untuk membangkitkan rasa kepedulian sosial kita, agar kita saling kenal-mengenal dan menyayangi. 

Saya teringat sebuah cerita, alkisah di sebuah negeri, ada tujuh pemuda yang bersahabat. Suatu ketika, segerombolan pencuri menghadang perjalanan pemuda-pemuda tersebut yang kebetulan hendak berangkat bekerja. Melihat pencuri yang banyak, seorang pemuda menyarankan agar mereka menuruti saja kemauan pencuri-pencuri itu,

          “Jumlah mereka ada sepuluh orang. Baiknya kita serahkan saja barang-barang kita. Yang penting kita selamat.”
          Seorang pemuda lainnya, yang dikenal pandai bersilat berkata agar teman-temannya tidak usah menyerahkan harta benda mereka pada pencuri, “Aku akan melawan mereka. Harap teman-teman berdiri saja di belakangku.”

          Lalu perkelahian yang tidak berimbang itu pun terjadi. Satu orang pemuda melawan sepuluh pencuri. Meski dengan susah payah akhirnya pemuda itu menang setelah merobohkan lima pencuri. Sisanya, lima pencuri lagi, tunggang langgang melarikan diri.

          Rupanya kejadian ini terdengar oleh raja sehingga dipanggilah tujuh pemuda itu ke istana. Raja akan memberikan hadiah besar karena pencuri yang dibekuk ternyata adalah musuh kerajaan. Setiba di hadapan raja, seorang pemuda menolak hadiah dari raja dan berkata bahwa yang sebenarnya berperan mengalahkan pencuri-pencuri itu adalah temannya yang pandai bersilat,

          “Hanya dia seorang yang bertarung wahai paduka mulia, sedangkan saya dan yang lainnya hanya berdiri di belakangnya. Dialah pahlawannya wahai raja.”

          Sang raja menatap pemuda yang ditunjuk kawannya sebagai pahlawan,
“Hmm..Kalau begitu semua hadiah ini untuk kamu sendiri.”
Namun pemuda pesilat itu malah berkata, ”mohon ampun paduka, hamba memang berkelahi seorang diri, tapi bila tidak ada kawan-kawan yang berdiri di belakang hamba, hamba akan kalah. Dengan adanya teman, meski hanya berdiri menonton, itu sudah sangat membantu untuk melemahkan mental pencuri-pencuri itu dan menambah semangat hamba. Kami bersamalah yang mengalahkan pencuri itu wahai raja.”

Seperti hikmah cerita di atas, dalam menyelesaikan setiap permasalahan tentu akan terasa mudah bila ada rasa kebersamaan. Setiap persoalan jelas akan cepat terselesaikan bila
dikerjakan secara bersama-sama, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Mungkin saja bantuan orang lain itu terkesan kecil, tapi ternyata memiliki pengaruh besar seperti halnya keenam pemuda yang menjadi penonton perkelahian itu.

          Intinya, saya ingin mengajak kita semua untuk menggelorakan kembali jiwa kebersamaan yang mulai luntur di tengah masyarakat. Hidupkanlah kembali semangat bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan sekitar. Bermusyawarah untuk memutuskan berbagai persoalan. Bagi para wirausahawan, ada baiknya untuk membentuk usaha-usaha kelompok yang sehaluan, agar memperkuat dan mempercepat kemajuan usaha. Kaum petani tentu akan lebih kuat dengan adanya kelompok usaha tani. Pelajar juga akan semakin cerdas bila mempergiat belajar-belajar kelompok.        

          Karena dengan kebersamaan, melakukan kerja sama-kerja sama yang positif, maka insya allah, kita akan semakin kuat. Dan Kota Padang akan semakin gadang bila kita semua bersama membangunnya.

Post a Comment