Ads (728x90)


PADANGPOS,  (Padang)
Sekitar 500 ton sampah dari satu juta penduduk Kota Padang, praktis akan menghasilkan tumpukkan raksasa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jika itu berlangsung terus menerus, tanpa solusi pengolahan, maka TPA Aia Dingin diprediksi tak berumur panjang.

“Untuk itu, pengolahan sampah yang berbasis pemilahan dari rumah tangga harus dibudayakan dari sekarang,” tegas Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah saat menggelar pertemuan dengan para Camat dan Lurah se-Kota Padang di Balaikota, Aia Pacah, Kamis (2/4).

Walikota Mahyeldi kembali menekankan kepada Camat dan Lurah disamping terus mengawal perilaku masyarakat agar tak membuang sampah sembarangan. Ujung tombak pemerintahan ini dituntut bisa menumbuhkan budaya pemilahan sampah yang dimulai dari rumah tangga.
“Dengan melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga, maka akan mengurangi volume sampah yang akan diangkut ke TPA,” kata Mahyeldi.

Ia menambahkan, perangkat Camat dan Lurah harus memantau dan melakukan pemetaan titik penempatan bak sampah di lingkungannya. Sehingga bisa diketahui, mana saja titik yang perlu diadakan tempat sampah atau yang belum ada tempat sampahnya.

Satu – satunya Lurah yang sudah membuat pemetaan seperti itu adalah Lurah Rimbo Kaluang, sehingga diapresiasi Walikota. Ia (Mahyeldi) minta agar Lurah lain mengikuti seperti pemetaan yang dibuat Lurah Riswandi tersebut.

Dalam kesempatan ini, Pemko Padang menghadirkan praktisi pengelolaan sampah , Muhammad Suparyono. Materi tentang pemilahan sampah yang disampaikan Ketua Asosiasi Bank Sampah se-Kota Depok ini mendorong aparatur kecamatan dan kelurahan lebih maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Suparyono yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Depok ini menjelaskan, sampah rumah tangga dapat dipilah menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik, non organik dan residu. Sampah organik merupakan sampah yang bisa diurai dalam waktu relatif cepat seperti sampah dapur, sayur dan tulang. Dan sampah non organik seperti plastik, kaca, kertas. Sedangkan residu adalah sampah yang memang tak bisa diapa – apakan lagi seperti puntuk rokok, keramik dan popok.

“Jika pemilahan dilakukan mulai dari rumah tangga, minimal untuk tiga jenis sampah ini saja, maka akan mengurangi tumpukan sampah di TPA. Sebab, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk setelah diolah dengan proses komposter. Begitu juga sampah plastik, kaca dan logam bisa dijual di bank sampah,” ungkapnya.

Disamping menumbuhkan budaya pemilahan sampah, menurut Suparyono, pembuatan bank sampah guna menampung sampah terpilah tersebut juga perlu dkembangkan.

“Dengan demikian, permasalahan sampah akan dapat teratasi sekaligus warga mempunyai pemasukan dari menjual sampah terpilah di bank sampah,” pungkasnya.(tf/du)

Post a Comment