Ads (728x90)


TULISAN ini terinspirasi dari dialog dua warga Kota Padang. Yang satu bernama Miing berasal dari Depok keturunan Betawi yang bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai salah seorang manejer. Sedangkan yang satu lagi bernama Syafril, anak Nagari Pauhlimo, Kecamatan Pauh salah seorang pengusaha properti.


Keduanya terlibat dialog masalah politik praktis tentang bakal calon Gubernur Sumatera Barat,2015-2020 di sebuah warung nasi, di Pasar Baru Pauhlimo dipinggir jalan ke kampus Universitas Andalas Padang.

Dialog Syafril dan Miing  terlihat seru, sehingga memancing pengunjung rumah makan yang lainnya untuk menyimak dan mendengarkan ciloteh kedua warga Kota Padang yang kebetulan sudah saling kenal, karena bertangga di salah satu perumahan di Palimo Indah.

Perkataan Miing yang jadi perhatian, karena  dengan suara yang keras  dan lugas anak Betawi ini menegaskan;"Kalau gue mendukung Irwan Prayitno emangnya kenapa?," kata pria yang masih lajang ini.

Kemudian, si Miing kembali berkicau;" Kamu Syafril,  boleh saja mendukung pak Fauzi Bahar, atau yang lain, tapi gue udah final, pokoknya gue  dukung pak IP," katanya sembari melihat kepada pengunjung rumah yang lain.

Selanjutnya tanpa memberikan kesempatan kepada Syafril untuk berbicara, Miing kembali berciloteh;"Gue heran juga tuh, lu orang Padang pinggiran atau Papiko, kok nggak dukung IP, kenapa sih, aneh  juga lu ini, orang sekampung sendiri nggak didukung," ujar pria berkulit putih dan berpakai rapi ini.

Dicecar dengan dua pertanyaan tersebut, tidak membuat mental Syafril ciut pada dialog non-formal tanpa sponsor tersebut. "Siapopun yang ka  waang pilih, indak masalah dek aden  doh, itu hak waang," kata Syafril dengan bahasa Padang, yang dimengerti si Miing, karena diri  telah delapan tahun menjadi warga Padang, sehingga mengerti maksud kata dan kalimat, tapi kurang lancar mempergunakannya.   

Kemudian si Syafril menyebutkan lagi, kalau dirinya tak memilih IP, karena sebagai putra Kuranji tak ada yang diperbuat IP  untuk kampung leluhurnya. Bahkan kini di Kuranji muncul bahasa;"Asal jangan IP," kata Syafril sembari menghidupkan rokoknya.

Soal pilihan, kata Syafril, itu hak seseorang dan orang bebas menentukan pilihannyo. "Tapi masalah solidaritas sekampung yang waang kecekan tadi, aden ko berpikiran rasional dan nasionalis, dan ungkapan waang tadi Miing, berbau SARA," kata anak Pauhlimo yang enggan bermain politik praktis dengan pertimbangan usahanya bergerak di bidang properti dan kuatir, usahanya terusik.

"Bagus, bagus," kata Miing dengan nada santai dan meledek. 

"Tapi untuk lu tahu aje ya, si SARA tu udah meninggal dan mayatnya telah dikuburkan di pemakaman umum Tunggul Hitam, jadi elu jangan sok nasionalis deh," kata Miing sembari meminta tambah kopi susu kepada pelayan rumah makan.

Kemudian si Miing, berkicau lagi dengan perkataan yang pedas dan tegas. Katanya, untuk lu ketahui saja Syafril, orang-orang yang tidak senang atau tidak mendukung IP, lebih kepada kepentingan pribadi. "Mereka-mereka itu membenci IP, yang pertama karena tidak mendapatkan bantuan dari proposal yang dimintakan kepada IP dan yang kedua, karena diasut oleh orang-orang lawan politik IP dan yang ketiga karena jabatannya digeser atau dipersonanongratakan,, " kata Miing yang sengaja berbicara keras agar terdengar dengan pengunjung lain, yang masih bertahan mendengar dialognya.

"Elu Syafril," kata Miing lagi, IP itu kurang apa lagi. Dia itu profesor, penampilannya sederhana, dan  punya kemampuan sebagai penceramah dan bahkan sering menjadi penceramah diberbagai daerah di Sumatera Barat. Bahkan IP, pandai main musik dan olahraga otomotif sepedan motor.

Sedangkan masalah penilaian rapor IP itu merah sebagai gubernur, kata Miing, itukan bahasa politik yang sengaja dihembuskan oleh lawan politiknya. Soalnya, masalah penilian itu batas ukurannya tak jelas dan yang berhak menilainya itu siapa, standarnya apa?. "Kalau elu yang jadi gub Syafril, mungkin nilai lu nol, bukan merah lagi, tapi angka mati," kata Miing sembari tertawa.

Akhirnya kedua sahabat tersebut, sepakat untuk menghentikan dialog, karena gara-gara dialognya, membuat pemilik rumah makan gelisah, karena semua kursi terpakai habis, sehingga tak memberikan kesempatan bagi pengunjung yang lain untuk makan siang.

"Oke Syafril, gue minta maaf kalau ada omongan gue tadi menyinggung perasaan elu, tapi ingat juga pesan gue ye, jangan lupa pilih IP," kata Miing sembari mengulurkan tangan kanannya. (penulis wartawan tabloidbijak),

Post a Comment