Ads (728x90)

PADANGPOS.COM.   ( Padang),

Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno melaunching buku "MENANTI MAUT," Karya terakhir Almarhum Marthias Dusky Pandoe, di Hotel Pangeran Beach Padang, Sabtu (9/5).

Dihadiri para wartawan senior seperti Mantan Walikota Padang Zuiyen Rais, Yal Aziz  dan tokoh-tokoh Wartawan Sumbar lainnya.

Akhirnya Sabtu, 9 Mei 2015, buku yang berjudul Menanti Maut yang ditulis  wartawan senior H. Marthias Dusky Pandoe yakni sebuah antologi karya jurnalistik wartawan Kompas, diluncurkan di Hotel Pangeran Beach, Padang, Pukul 10 WIB.

H.Marthias Dusky Pandoe lahir di Lawang, Matur Agam, 10 Mei 1930, meninggal di Padang, Sumatera Barat, 9 Mei 2014 pada umur 84 Tahun ialah seorang wartawan senior Indonesia yang bekarya untuk Harian Kompas sejak tahun 1970 sampai pensiun pada tahun 1990

Marthias adalah seorang wartawan otodidak tanpa satupun gelar akademis jurnalistik yang di punyainya.

Berkat kerja keras, gemar membaca, kecerdasan, dan tajam dalam melihat persoalan, serta kemampuan membangun jaringan yang luas ia dan karyanya sebagai wartawan mendapat apresiasi yang baik dari berbagai pihak

Marthias Dusky Pandoe dengan memakai inisial" MDP" dalam setiap tulisannya di harian Kompas telah di identikkan sebagai representasi Sumatera Barat. Berkat Marthias, Sumatera Barat lebih di kenal lagi di tataran nasional. Sebaliknya Sumatera Barat ia juga di identikkan sebagai Harian Kompas

Pada bulan Mei 2010, tepat diusianya yang ke 80 tahun, Marthias meluncurkan buku Jernih Melihat Cermat mencatat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pers Indonesia diantaranya Jakob Oetama,Rosihan Anwar, Djafar Assegaff, Basril djabar, Rikard Bangun, Julius Pour, dan Abrar Yusra serta tokoh Indonesia dari Sumatera Barat seperti ketua DPD RI Irman Gusman, Mantan menteri Fahmi Idris, Hasan Basri Durin, sejarahwan Taufik Abdullah, dan sejumlah tokoh lainnya.

Marthias Dusky Pandoe meninggal dunia di Kota Padang pada tanggal 9 Mei 2014 dalam usia 84 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, Zuraida, serta tujuh orang anak

Perjalanan karier, Reporter koran sore Keng Po, Jakarta(1952),reporter koran harian pemandangan, Jakarta(1956-1958), reporter Koran harian Abadi, Jakarta( 1952-1955 dan 1958-1960), Redpel Koran harian semesta, jakarta(1960_1962), Pem- Red koran harian aman makmur, Padang( 1962,1970), koord. Koresponden Sumatera-Kalbar Koran Harian Kompas, jakarta merangkap Pem.red harian Sriwijaya post, Palembang( 1970_1990), red.senior koran harian Nustra post, Bali( 1994-1995)

Karya, A Nan Takana ( 2001) dan Jernih melihat cermat Mencatat, (2010)

Selain peluncuran Buku menanti Maut juga dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional(HPN) 2015 tingkat propinsi Sumatera Barat, Panitia pelaksana bersama Masyarakat Pers Sumatera Barat. (tf/ch)

Post a Comment