Ads (728x90)



Tidak hanya mengoptimalkan potensi di dalam kota, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah juga berupaya go international. Salah satunya menjadi anggota Indian Ocean Rim Association (IORA). Yakni, organisasi khusus negara yang berada di sepanjang Samudra Hindia.

Tidak ingin hanya terlibat sebagai peserta biasa, Padang berupaya all-out dengan menjadi tuan rumah KTT IORA pada November mendatang. Menurut rencana, ada 20 negara yang hadir di acara tersebut.



Keterlibatan Padang dalam IORA berawal dari undangan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Saat itu Padang yang ditunjuk mewakili Indonesia mengikuti pertemuan anggota IORA. Menurut Mahyeldi, ada beberapa pertimbangan yang membuat Padang layak menjadi anggota IORA. Secara geografis, Padang merupakan kota terbesar di sepanjang pantai barat. Selain itu, Pelabuhan Teluk Bayur termasuk terbesar se-Indonesia. ’’Jadi, Padang memiliki potensi yang bagus untuk dikembangkan,’’ terangnya.

Banyak manfaat yang didapat dengan menjadi anggota IORA. Mahyeldi menyebut Padang bisa membangun kerja sama dengan anggota IORA lain terkait dengan penanggulangan bencana. Misalnya, tsunami maupun gempa bumi. ’’Berdasar pengalaman gempa pada 2009, saat ini kami sudah memiliki langkah antisipasi,’’ ujar dia.

Langkah antisipasi itu berupa menentukan jalur evakuasi bila sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Juga menyiapkan instansi pemerintahan menjadi selter bagi warga setempat. ’’Seluruh bangunan instansi pemerintahan juga disiapkan tahan gempa hingga di atas sembilan skala Richter,’’ papar wakil ketua DPRD Sumatera Barat pada 2004 – 2008 tersebut.

Diharapkan, kerja sama lain bisa terlaksana dalam bidang perikanan dan gas. Mahyeldi menyatakan bahwa saat ini terjadi krisis kecintaan terhadap laut. Terutama di kalangan generasi muda. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara kelautan dan memiliki potensi kekayaan bawah laut yang luar biasa.

Itulah yang akan ditanamkan di benak generasi muda. Sebab, banyak potensi laut yang dapat digali lebih lanjut. Ayah sembilan anak tersebut lantas mencontohkan ikan tuna yang banyak di temukan di laut Padang. ’’Selama ini kita ekspor ikan tuna ke Jepang. Ini kan yang harus terus ditingkatkan,’’ katanya. ’’Selain itu, potensi gas laut kita luar biasa,’’ tambahnya.

Potensi tersebut belum dikelola dengan baik. Mahyeldi menuturkan bahwa pihaknya berencana tidak mengekspor bahan dalam kondisi mentah. Namun, pihaknya akan mengekspor bahan yang telah diolah. Dengan begitu, kian banyak keuntungan yang bisa diperoleh. ’’Kalau dalam kondisi mentah, kita sendiri yang beli dalam bentuk olahan,’’ ungkapnya.

Hal lain yang akan dilakukan adalah revitalisasi Pelabuhan Teluk Bayur. Pelabuhan tersebut akan diperluas. Tujuannya adalah bisa meningkatkan jumlah kapal yang berlayar sekaligus mempermudah jalur ekspor ke luar negeri.

Mahyeldi mengungkapkan, realisasi proyek itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Nilainya mencapai triliunan rupiah. Karena itu, proyek tersebut tidak bisa segera selesai. Perlu waktu hingga minimal 2016.

Upaya go international yang lain adalah menjalin sister city dengan Perth dan Shah Alam, Malaysia. Kader PKS itu menjelaskan bahwa selama ini banyak warga Timur Tengah yang memilih berwisata di Malaysia. Padahal, secara kultur, tidak ada perbedaan antara Shah Alam dan Padang. Bahkan, jarak antara Shah Alam dan Padang hanya 40 menit. ’’Potensi wisata ini yang akan kami garap. Jadi, wisatawan di Shah Alam akan diarahkan datang ke Padang juga,’’ terangnya.

Banyak potensi wisata yang layak dikunjungi di Padang. Di antaranya Mentawai, gugusan pulau-pulau kecil, serta beberapa pantai yang masih eksotis. (ai/c14/tom)

Tak Mau Berjarak dengan Warga

Mahyeldi termasuk wali kota yang dekat dengan warga. Rumah dinasnya terbuka untuk umum. Di bagian belakang rumah dinasnya, terdapat semacam pendapa yang diberi nama Palanta Kota Padang. Dia sering kali salat Magrib di sana.

Nah, selepas salat itulah, ada beberapa warga yang langsung curhat tentang permasalahan yang dihadapinya. Misalnya, waktu itu ada seorang warga yang mengeluh jalan menuju rumahnya rusak. Mendengar keluhan warganya, Mahyeldi langsung menelepon kepala dinas PU. ’’Biar langsung ditangani. Jika tidak begini, jalannya akan rusak terus,’’ kata Mahyeldi.

Bukan hanya itu, alumnus Universitas Andalas tersebut juga kerap salat di masjid atau musala ketika sedang keliling. Saat itu warga juga bisa langsung curhat masalah yang dihadapinya. Tidak jarang, hal itu dipandang sebelah mata. ’’Ada yang bilang pencitraan. Ya, terserah lah. Nomor HP saya tak ganti sejak dulu. Bisa dihubungi kapan saja,’’ ungkapnya.

Bila ada waktu, Mahyeldi menyempatkan diri bersepeda keliling kota. Bisa sendirian saja maupun bersama istrinya. Dengan begitu, dia bisa tahu kondisi kota secara riil. ’’Saya juga sering makan lontong sayur untuk sarapan pagi di warung. Dari situ saya bisa tahu aspirasi dan keinginan warga pada kota ini,’’ tuturnya.

Pada Ramadan tahun lalu, Mahyeldi memiliki program singgah sahur. Jadi, dia datang ke rumah warga yang tidak mampu sambil membawa makanan. Warga yang didatangi pun sering kaget dengan kedatangan wali kota.

Karena menganggap dirinya pelayan masyarakat, Mahyeldi tidak membatasi jumlah tamu. Saking banyaknya tamu, ada kalanya Mahyeldi tidur hingga larut malam. ’’Paling cepat jam 12 malam baru tidur,’’ jelas dia. Dia merasa tidak enak menolak kedatangan warga. ’’Kan ada juga yang rumahnya di Kecamatan Pauh atau Bungus yang jauh dari kota. Kasihan kalau tidak diterima,’’ tandasnya. (ai/c14/tom)

Post a Comment