Ads (728x90)

PADANGPOS.COM,  (Malaysia),

Pihak berwenang Malaysia menemukan sejumlah kuburan massal di dekat Padang Besar dan Wang Kelian, Negara Bagian Perlis yang berbatasan dengan Provinsi Songkhla, Thailand bagian selatan. Media setempat melaporkan jumlah kuburan massal mencapai 30.

Kepastian itu disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi, Minggu (24/05).

"Hari ini Kepala Kepolisian dan Wakil Kepala Kepolisian berada di dekat perbatasan Malaysia-Thailand untuk mengindentifikasi dan memverifikasi kuburan massal yang ditemukan oleh VAT69 (polisi satuan khusus) dan PGA (angkatan pertahanan sipil). Kuburan-kuburan ini diyakini terkait dengan kegiatan perdagangan manusia yang melibatkan migran," katanya.

Dikatakan oleh Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi, polisi juga menemukan kamp-kamp yang diduga digunakan untuk menyekap migran. "Selain itu kami juga menemukan 14 kamp di wilayah perbatasan yang diyakini digunakan untuk perdagangan manusia. Kami juga menemukan tiga kamp yang lebih kecil."

Kuburan-kuburan massal dilaporkan ditemukan sebelum akhir pekan dan setidaknya terdapat 100 jenazah yang diyakini sebagai pengungsi Rohingya dari Myanmar dan migran Bangladesh. Sekitar awal bulan ini, pihak berwenang Thailand menemukan sejumlah kuburan massal serupa di Thailand bagian selatan.

Kecurigaan terhadap kegiatan perdagangan manusia dan keberadaan kuburan massal di Negara Bagian Perlis, Malaysia, sudah lama terendus, tetapi pemerintah Malaysia sebelumnya menepisnya.
Dua pekan lalu, seorang anggota parlemen Malaysia dari daerah pemilihan Padang Besar, Perlis, Datuk Zahidi Zainul Abidin bersama Sekretaris Institut Kerjasama Islam Antarbangsa Malaysia, Mohammad Shamsuddin Damin, hendak meninjau lokasi dugaan kuburan massal di sana.

"Tapi tidak dibenarkan oleh polisi karena mereka mengatakan sedang membuat operasi besar-besaran," kata Mohammad Shamsuddin Damin kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Penemuan kuburan massal dan kamp di Malaysia terjadi ketika Malaysia dan Indonesia melakukan operasi pencarian dan penyelamatan ribuan pengungsi dan migran yang diperkirakan masih berada di laut. Mereka diduga ditinggalkan oleh awal kapal setelah digelar operasi pemberantasan perdagangan manusia.

Hampir 1.800 orang telah diselamatkan di Aceh dan 1.107 orang mendarat di Pulau Langkawi, Malaysia. Mereka terdiri dari pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penindasan dan kekerasan di Myanmar dan migran Bangladesh yang mencari kehidupan lebih baik. dikutib dari tribun.

Post a Comment