Ads (728x90)

PADANGPOS.COM,  (Yogyakarta),
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwana X mendadak mengeluarkan sabdaraja di Siti Hinggil Keraton, Kamis (30/4/2015) pukul 10.00 WIB. Acara ini berlangsung singkat dan digelar secara tertutup.

Salah seorang Sentono Dalem yang identitasnya minta disembunyikan ikut memperoleh penjelasan Sabdaraja di Keraton Kilen. Ia mengungkapkan dalam prosesi tadi dihadiri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, para Putri Dalem, Sederek Dalem, Sentono Dalem dan Abdi Dalem.

"Meniko undangane mendadak (undangannya mendadak, red), hanya tidak ada lima menit (prosesi pembacaan sabdaraja). Hanya menyebutkan namanya sekarang begini,” ujar Penghageng Keraton itu.

Sentono Dalem tersebut menambahkan, dalam sabdaraja itu, Sultan menyampaikan adanya perubahan nama terhadap gelar. Namun ia mengaku belum hafal perubahan gelar baru tersebut.
Dalam sabdaraja itu, Sultan menyampaikan pergantian nama bukan semata-mata keinginannya, melainkan berdasar petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa dan para leluhur.

"Sultan ngendiko, pergantian (nama) ini bukan karepku dewe, karepe Ingkang Moho Kuwaos (Sultan berkata, pergantian ini bukan keinginan Sultan sendiri, tapi petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur)," jelasnya.

Menantu Sultan HB X, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Purbodiningrat saat ditemui di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta belum bersedia memberikan penjelasan lebih jauh. "Saya enggak pantas mengomentari, soalnya agak sensitif. Minggu depan akan dipublis resmi kok," kata politikus PDI Perjuangan ini.

Penghageng Parentah Hageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Yudha Hadiningrat mengatakan, sabdaraja ini memang masih untuk kalangan internal keraton dan belum dipublikasikan.
Ia belum dapat memberikan informasi isi sabdaraja tersebut.

"Tapi nanti pasti sampai ke masyarkat. Mungkin minggu depan (dipublikasikan),” ujar KRT Yudha Hadiningrat atau Romo Nur yang hadir dalam prosesi ini.

Lebih Tinggi Dari Sabdatama

Romo Nur menjelaskan sabdaraja adalah sabda tertinggi yang dikeluarkan oleh seorang Sultan. Bahkan, kedudukan sabdaraja lebih tinggi. "Sabdaraja itu kedudukannya lebih tinggi dari Sabdatama," katanya.

Ia menjelaskan sabdaraja adalah hak Sultan untuk kapan dan di mana mengeluarkannya. Kondisi dikeluarkannya sabdaraja juga tidak harus dalam kondisi darurat ataupun mendesak.

"Enggak ada yang mendesak atau darurat. Bukan sensitif. Karena mungkin ada panggilan dari Atas. Sabdaraja kan semuanya yang disampaikan Raja adalah dawuh dari yang Maha Kuasa, dari para leluhur,” katanya.

Menurutnya, sabdaraja merupakan paugeran keraton. Sejak Sultan HB X naik tahta pada 1989, baru kali ini ia mengeluarkan Sabdaraja.

“Tapi beliau selalu setiap mengeluarkan sabda, baik Sabdatama maupun Sabdaraja, melihat bahwa itu sudah kehendak Maha Kuasa dan kehendak para leluhurnya,” katanya. dikutib dari tribun.

Post a Comment