Ads (728x90)


PADANGPOS.COM. (Padang), 


Di gubuk berukuran 2,5 m x 4 m, berdinding karpet bekas dan triplek yang lapuk, di sinilah Edi Karitiang (53 tahun) bersama istri dan empat anaknya bernaung dari hujan dan panas. 

Keluarga ini terpaksa bergedincit dalam satu ruangan tak bersekat. Di rumah itu tiada ruang MCK (mandi cuci kakus), tiada ruang untuk menerima tamu, maupun ruangan yang sangat pribadi lainnya, kecuali dua dipan sederhana dan tumpukan pakaian sehari - hari pada almari kayu tanpa cat.

Bertahun - tahun sudah keluarga nelayan di RT 06/RW 10 Pasia Jambak, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah itu hidup dalam kondisi memprihatinkan ini. Setidaknya, sejak rumah gadang dari keluarga besar mertua Edi Karitiang runtuh karena gempa pada 2009 silam, maka satu - satunya tempat tinggal baginya cuma gubuk itu. Meskipun kadang - kadang, anak gadisnya yang sulung menumpang tidur di rumah saudaranya yang lain.

Untungnya, di kampung tersebut sang istri Ermanita (40 tahun) berasal dari keluarga besar. Ermanita anak kelima dari sepuluh bersaudara. Sehingga saudara - saudaranya yang lain yang sudah memiliki rumah yang layak bisa memberi tumpangan mandi, buang hajat dan mencuci bagi anak - anaknya.
Seiring waktu, Edi Karitiang terus berupaya agar bisa membangunkan rumah yang layak bagi keluarganya. Terlebih putri sulung mereka telah tumbuh dewasa, dan tiga adik - adiknya juga perempuan semua. Maka tak elok rasanya, bila harus bergedincit terus dalam sekamar yang sempit itu.

Perjuangan berat tak pelak dihadang pria yang bekerja sebagai anak payang itu. Penghasilan yang diperoleh haruslah ia sisihkan untuk kebutuhan makan dan memenuhi keperluan sekolah anak - anaknya. Sementara penghasilan memayang sekarang ini, sungguh jauh dari cukup.

"Ambo sahari cuman bawo pitih 40 ribu atau 60 ribu paling gadangnyo," ungkap Edi Karitiang ketika dikunjungi tim dari Pemko Padang yang dipimpin langsung Walikota Mahyeldi Ansharullah pada dini hari menjelang sahur pertengahan Ramadhan, Selasa (30/6).

Dapat dipastikan, penghasilan Edi Karitiang tak akan mampu memenuhi kebutuhan sehari - hari keluarganya, dan sudah pasti tidak mungkin dapat membangunkan rumah yang layak bagi keluarga tercintanya.

"Sampai kini, mambangun pondasi masih tabangkalai. Ndak mungkin rasonyo wak ka manjadikannyo rumah doh Pak Wali," kata Edi Karitiang di hadapan Walikota.

Tak bermaksud mengadukan nasibnya kepada pimpinan Kota Padang, namun Edi Karitiang tak mampu lagi menyembunyikan luapan beban di hatinya. Terlebih saat itu ia benar - benar haru bercampur bangga dikunjungi orang nomor satu di kota ini bersama beberapa pejabat lainnya. 

Meskipun ia hanya bisa menerima tamu - tamunya di ruang terbuka di halaman gubuknya. Ia pun tak perlu repot menjamu untuk sahur karena semua disediakan tim, termasuk tikar dan nasi kotak untuk makan sahur.

Keluarga Edi Karitiang merupakan sasaran ketiga selama bulan puasa ini dikunjungi tim Singgah Sahur. Sebelumnya, keluarga Syahril di Aia Pacah, keluarga Edison alias Jon di Parak Gadang Timur. Seperti tempat tinggal Edi rumah keduanya juga termasuk Rumah Tak Layak Huni (RTLH) yang akan dibedah.

"Insya Allah rumah - rumah yang kita kunjungi ini akan segera kita bangun menjadi rumah yan g layak, sebelum lebaran diharapkan selesai agar keluarga ini menempati rumah yang lebih bagus saat hari raya nanti," kata Walikota.(tf/du)

Post a Comment