Ads (728x90)

Padangpos.com. (Padang),  

Pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Pusat Dasril Yadir Rangkuti menilai, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bukan ancaman dan bukan momok yang menakutkan dan itu merupakan peluang bagi kita.
Menurutnya, masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) tidak perlu mencemaskan kehadiran pasar bebas negara-negara Asean tersebut. Sumbar memiliki 12 sektor prioritas MEA. Lima potensi diantaranya di bidang perdagangan jasa, dan tujuh potensi lainnya di bidang perdagangan produk yang dapat dijual dan akan menyerap banyak tenaga kerja.
"MEA itu bukan ancaman, tapi sebaliknya, peluang. Tinggal bagaimana menyiapkan tenaga kerja kita untuk mencuri peluang yang ada," kata Dasril yang juga konsultan manajemen sertifikasi profesi Sakasakti pada Kamis (14/1) kemaren.
Dijelaskannya, adapun potensi di bidang jasa , yakni pariwisata, transportasi, logistik, IT dan agrobisnis. Sementara di bidang produk, diantaranya lebih kepada hasil pertanian dan perkebunan, seperti karet serta logam. 
Dasril, meyakini dari sejumlah peluang yang ada, potensi wisata Sumbar lebih terbuka lebar.Selain itu ada lagi lokasi peternakan di Padang Mengatas.
Sumatera Barat hanya perlu mempersiapkan Sumber daya manusia (SDM), skill, knowledge dan attitute para pekerja. Selain itu Rasa percaya diri, urang awak terutama orang Sumbar yang rata-rata memiliki daya tangkap tinggi, serta mudah berkomuniksi. ‘’Saya rasa ini harus dijadikan modal utama, ‘’katannya.

Untuk mendongkrak POTENSI itu kebijakan pemerintah harus ikut andil. Selain itu pemerintah hendaknya mampu mendorong ke pangsa pasar dan SDM juga yang kita miliki. ‘’Jangan sampai, setelah potensi jasa ataupun produk tergarap dengan baik, tidak ada solusi penyaluran dari pemerintah, ‘’jelasnya.
Dalam hal ini menurut Dasril Yadir Rangkuti lagi Pemerintah diminta berpikir jauh kedepannya, bagaimana produk yang dihasilkan memiliki lahan tampung yang luas. 
Saya melihat di sejumlah sekolah menengah kejuruan di kota Padang sudah mengarah kepada persiapan menghadapi MEA ini. Oleh karena itu kita tidak perlu memandang MEA sebagai ancaman, tetapi bagaimana kita mematangkan konsep agar MEA menjadi peluang, ‘’ujarnya
Dasril Yadir Rangkuti menambahkan peningkatan kualitas tenaga kerja sebagai kata kunci untuk menghadapi peluang MEA perlu ditingkatkan. Karena itu kita minta lembaga pelatihan dan SDM yang memberikan pelatihan hendaknya orang menguasai dan mengerti apa itu MEA sehingaa mereka mampu memberikan pelajaran dan pemahaman.. Dia menegaskan, menghadapi MEA ada aspek-aspek yang perlu dipersiapkan secara matang, seperti standar kompetensi, sistem pendidikan dan pelatihan, sistem sertifikasi dan lembaga pemantau. Perlu diingat, kata Dasril lagi dari 12 sektor prioritas, masing-masing tersebut telah memiliki sertifikasi sendiri-sendiri. (yos)

Post a Comment