Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Jakarta)

Kabar terbaik yang saya baca di bulan pertama tahun 2016 adalah terbongkarnya aktivitas “pengasingan diri” yang dilakukan oleh para jemaat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Itu gerakan yang, bagaimanapun, sangat meresahkan. Ia bisa membuat suami kehilangan istri dan para orang tua kehilangan anak-anak dan keluarga kehilangan ayah. Setidaknya itulah yang terjadi dengan hilangnya sejumlah orang di Yogyakarta. Salah satu yang menghebohkan adalah kasus Rica Tri Handayani, dokter muda yang membawa anak balitanya pergi meninggalkan suami.

Kemudian fakta-fakta lain di seputar gerakan itu mulai diangkat. Ahmad Musadeq, warga Jakarta Barat yang pernah mendaku diri sebagai nabi, ada di balik gerakan tersebut. Sewaktu deklarasi kenabian Pak Musadeq diberitakan beberapa tahun lalu, saya hanya menganggapnya sebagai kelakar. Sama halnya dengan sikap saya saat membaca berita mengenai sekolah para nabi di Tel Aviv, Israel.

Berita tentang sekolah ini muncul pada tahun 2012, ketika Rabbi Shmuel Fortman Hapartzi, kelahiran Rusia, mengumumkan berdirinya “Cain and Abel School for Prophets”. Sebagai pendiri, Fortman juga menjadi satu-satunya pengajar di sekolah tersebut. “Saya sendiri bukan nabi,” katanya. “Saya ingin suatu saat menjadi nabi.”

Saya tidak tahu apakah sekolah itu masih ada hingga sekarang, tetapi bagi saya ia sekolah yang jenaka. Fortman mungkin bersungguh-sungguh dengan sekolah yang didirikannya. Ia menyatakan tindakannya sebagai sebuah terobosan yang memungkinkan sembarang orang menjadi nabi. Jadi, sekiranya anda memiliki dorongan tak tertahankan untuk bercakap-cakap dengan Tuhan dan meneruskan pesanNya kepada umat manusia, anda bisa masuk ke sana. Pak Fortman menerima calon nabi dari segala kaum, baik Yahudi maupun bukan, dan biaya pendidikannya tidak mahal. Hanya 50 dolar, jauh lebih mahal biaya beberapa sekolah dasar di negara kita yang bisa mencapai Rp1 miliar. Dengan biaya semurah itu anda berhak mengikuti 40 pertemuan dan, begitu lulus, anda mendapatkan ijazah sekaligus gelar nabi.

Mestinya Pak Musadeq bisa melamar sebagai kepala sekolah di sana, sekiranya ia hidup di Tel Aviv. Tetapi ia hidup di Indonesia, dengan penduduk mayoritas muslim, dan setiap kanak-kanak muslim yang belajar agama di sekolahnya tahu bahwa nabi terakhir adalah Muhammad SAW. Jika ada orang di abad ke-21 mendaku diri sebagai nabi, para kanak-kanak akan segera menudingnya sebagai nabi palsu—atau dalam bahasa yang lebih sesuai zaman: ia nabi KW. Musadeq dijatuhi hukuman 4 tahun penjara pada 2008 setelah dinyatakan bersalah melakukan penistaan terhadap agama.

Bagi orang-orang Yahudi yang saleh, yang tidak mendakwahkan keyakinan mereka kepada orang-orang luar, sekolah yang didirikan oleh Rabbi Fortman sungguh upaya sia-sia. Zaman kenabian, menurut mereka, sudah berakhir 2.500 tahun lalu. Mereka tidak mengakui ada nabi setelah itu. Bagi umat Kristiani, Tuhan masih menurunkan nabi-nabi meskipun orang Yahudi menyatakan zaman kenabian sudah berhenti. Bagi orang Islam, masa kenabian masih berlanjut sampai seribu tahun kemudian dan baru berakhir dengan diturunkannya nabi penutup dari kalangan bangsa Arab.

Kendati menganggap berita tentang Musadeq dan sejenisnya sebagai sebuah lelucon, sebetulnya saya menyimpan juga sedikit rasa cemas dan heran. Selucu apa pun tampaknya pengakuan-pengakuan semacam itu, para “nabi” dan “juru selamat” itu pasti memiliki pengikut. Biasanya mereka militan dan betul-betul mengimani ajaran juru selamat mereka, orang yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Para nabi baru atau para messiah dan pembangun sekte memang biasanya memiliki obsesi berlebihan pada hari kiamat. Mereka senang mengabarkan bahwa kiamat sudah dekat dan dunia perlu disucikan. Dulu pengikut-pengikut awal Lia Aminuddin rajin sekali menyiarkan kabar tentang akan datangnya hari kiamat. Saya pernah berjumpa dengan mereka di pertengahan 1993 dan mereka memperlihatkan foto awan-awan dan membacakan artinya. Seolah-olah bagi mereka langit adalah halaman-halaman novel dan awan-awan adalah susunan paragraf demi paragraf yang membentuk cerita.

Mereka sangat serius, dan memang semestinya begitu. Sekiranya anda menjadi anggota sekte, tidak boleh anda mengatakan semua jalan menuju Roma. Bagi anggota sekte, hanya ada satu jalan, ialah junjungan mereka. Di luar itu semuanya kotor dan penuh dosa. Jika keluarga menjadi gangguan bagi iman mereka dan tidak mau ikut menumpang “bahtera” penyelamat yang mereka tawarkan, mereka tak segan meninggalkannya.

Itu terjadi dalam hampir setiap aliran yang diperkenalkan oleh nabi-nabi baru. Shoko Asahara di Jepang, David Koresh di Texas, dan Jim Jones di Guyana, semuanya memiliki pengikut fanatik yang menganggap junjungan mereka adalah jalan keselamatan.

Jim Jones meyakinkan orang-orang bahwa dirinya adalah juru selamat. Ia membujuk mereka untuk meninggalkan keluarga dan mengikutinya masuk ke tengah-tengah hutan Guyana. Ia dorong para lelaki pengikutnya untuk membunuhi siapa saja yang dianggap sesat. Ia yakinkan mereka untuk merelakan istri-istri mereka ditiduri oleh Pak Jim.

Itu sama dengan yang dilakukan oleh David Koresh, seorang pengkhotbah yang kemudian mengaku anak Tuhan, dalam pengertian harfiah, dan menyatakan diri memiliki tujuh mata dan tujuh tanduk. David mengatakan kepada para pengikutnya bahwa wanita adalah milik Tuhan dan karena itu mereka semua miliknya, sebab ia anak Tuhan. Kepada para lelaki pengikutnya ia menghardik, “Kalian para lelaki hanya pezina. Kalian menikah tanpa izin dari Tuhan dan kalian menikahi istri-istriku.” Ia memerintahkan anak-anak memanggil orang tua mereka “anjing”.

Ujung petualangan mereka berdua sama—kematian. Jim Jones, ketika terdesak, mengajak para pengikutnya, baik dewasa maupun anak-anak, melakukan bunuh diri massal dengan meminum cairan sianida, 911 orang mati. David Koresh dan para pengikutnya mengalami kiamat di tangan pasukan FBI. Mereka mengepung markas David selama 51 hari dan mengakhiri pengepungan itu dengan serbuan yang menewaskan 76 orang, 23 di antaranya anak-anak.

Pemimpin sekte Kuil Matahari Shoko Asahara tidak jauh beda dengan Jim dan David dalam hal membuat para pengikutnya tunduk. Mereka patuh ketika diperintahkan melepas gas sarin di stasiun bawah tanah Tokyo dan membunuh banyak orang, dan mereka melakukannya tanpa mempertanyakan benar atau salah perintah mengerikan ini.

Jadi, meskipun mereka sering terlihat lucu pada awalnya, sesungguhnya mereka tidak selucu yang kita bayangkan. Saya ngeri bukan karena mereka sesat atau apa, melainkan karena mereka serius. Musadeq pasti serius meyakini dirinya nabi. Lia Aminuddin serius menganggap dirinya wakil Ruhul Kudus, ia menunjuk siapa yang menjadi Imam Mahdi dan siapa saja rasul-rasulnya. Dan mereka memiliki pengikut-pengikut yang tunduk-patuh, yang sanggup menyerahkan kekayaan milik mereka demi perjuangan, sanggup meninggalkan keluarga, sanggup mengerjakan urusan yang tampaknya tidak masuk akal, dan sebagainya.

Dokter Rica, anggota Gafatar, adalah satu contoh kecil tentang militansi semacam itu. Ia terpelajar. Ia bersungguh-sungguh ingin menegakkan “perjuangan” ketika pergi membawa anaknya meninggalkan suami, menuju ke tempat pengasingan, dan menyerahkan kartu ATM-nya kepada dua orang yang membawanya. dikuiti dari CNN.

Post a Comment