Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Padang),  
Kota Padang yang berada di pinggir pantai ternyata tak saja menjadi daya tarik bagi wisatawan. Akan tetapi juga menjadi daya tarik bagi burung bangau.
Tak heran jika di Padang terdapat sebuah pulau yang dinamakan Pulau Bangau. Terletak di pinggir pantai dekat ujung Sungai Linggarjati, Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah, di sini terdapat habitat burung bangau. Diperkirakan di pulau seluas lebih kurang 4 Ha ini dihuni hampir seribuan bangau. Mereka hidup tenang tanpa diganggu makhluk lain.
Konon, karena banyaknya bangau di pulau terebut dinamakan menjadi Pulau Bangau. Kehidupan burung bangau di pulau tersebut tidak mengganggu makhluk lain. Namun justru menguntungkan.
Dianggap menguntungkan karena bangau yang berasal dari beberapa daerah di Sumatera Barat itu membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Aia Dingin nihil lalat. Bangau yang datang dari Pulau Bangau telah memakan seluruh lalat di TPA tersebut.
Hal ini dibenarkan orang nomor satu di Kota Padang. Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo menyebut, adanya habitat bangau di Pulau Bangau membuat TPA Aia Dingin bebas lalat.
“Salah satu manfaat yang kita rasakan dengan keberadaan banagu di pulau tersebut adalah tidak adanya lalat hijau di TPA Aia Dingin,” katanya Walikota kemarin ini.
Selain itu, banyak filosofi yang dapat dijadikan pelajaran dari kehidupan bangau. Kumpulan bangau yang terbang dengan membentuk formasi huruf “V” ternyata punya filosofi tersendiri. Setiap bangau terbang selalu mengepakkan sayapnya. Maka bangau yang berada tepat di belakangnya akan mendapatkan ‘daya dukung’ untuk menembus ‘dinding udara’ yang ada di depannya. Sehingga bangau tak harus bersusah payah mengepakkan sayapnya.
“Dengan terbang dalam formasi "V" ini, seluruh kawanan bangau dapat menempuh jarak terbang 71persen lebih jauh kalau terbang sendirian. Jika bangau di depan mulai letih, maka akan digantikan oleh bangau yang ada di belakangnya. Begitulah seterusnya sampai ke tujuan,” terang Walikota.
Dapat ditarik pelajaran dari perilaku bangau tersebut. Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan lebih cepat dan lebih mudah.
“Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain,” tambah Walikota.
Walikota Padang berkeinginan habitat bangau di Pulau Bangau tetap terjaga dan tidak tersentuh oleh siapapun. Karena itu, rencana pembangunan jalan pinggir pantai mulai dari Pangeran Beach Hotel di Lolong menuju Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) diharapkan tidak mengganggu Pulau Bangau.
“Kalau memang (pengerjaan jalan) direncanakan melewati Pulau Bangau, segera alihkan ke sisi lain,” harap Mahyeldi.
Keberadaan Pulau Bangau di Padang merupakan salah satu daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan. Bangau yang ada pulau tersebut bukan saja berasal di seputar Kota Padang, akan tetapi juga berasal dari daerah lain diantaranya seperti Pesisir Selatan, Pasaman, Agam dan Pariaman.
Seperti diketahui, Bangau memiliki badan terbilang besar, berkaki panjang dan berleher panjang. Bangau dapat dijumpai di daerah beriklim hangat. Makanan bangau seperti katak, ikan, serangga, cacing, burung dan mamalia kecil lainnya.
Bangau tidak bersuara, paruh yang diadu dengan pasangannya merupakan cara berkomunikasi sebagai pengganti suara panggilan. Bangau cenderung setia pada sarang dan pasangannya. Badan yang berukuran besar, bersifat monogami, dan kesetiaan pada tempat bersarang menjadikan burung Bangau sering dijadikan simbol pembawa kebahagiaan.(tf/ch/mn)

Post a Comment