Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Padang),  
Semen Padang FC (SPFC) akhirnya takluk di tangan Pusamania Borneo FC (PBFC) dengan skor 0-2 pada leg pertama semifinal Piala Jenderal Sudirman (PJS), Minggu (10/1). Banyak kalangan menilai, kekalahan SPFC karena "dicurangi" wasit.
Bermain di depan publiknya sendiri, PBFC tampil sedikit lebih dominan. Namun itu tak berarti SPFC tidak punya peluang. Setidaknya, sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi gol oleh anak asuh Nil Maizar.
Ditambah lagi kepemimpinan wasit Thoriq Alkatiri pada malam itu kurang adil. Terlihat dalam pertandingan itu sejumlah keputusannya sering mengundang kontroversi sehingga membuat emosi pemain SPFC ikut terpancing.
Walikota Padang yang juga Ketua Umum PSP Padang, H. Mahyeldi Dt Marajo menilai, wasit yang memimpin pertandingan tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai pengadil di lapangan. Hal itu terlihat jelas dengan banyaknya keputusan wasit yang justru memihak.
"Ketika seharusnya offside, justru tidak offside. Ada juga pemain yang dikasari hingga berdarah, tetapi wasit tidak mengambil keputusan apapun. Saya saja yang nggak ngerti bola dengan perasaan saja kita bisa merasakan. Jadi, untuk pertandingan ini panitia perlu mengevaluasi wasit!" tegas Mahyeldi usai nonton bareng semifinal PJS di RTH Imambonjol, Padang.
Dikatakan Mahyeldi, sikap wasit seperti ini justru akan melemahkan optimisme dalam berolahraga. "Wasit itu kan harus berada di tengah-tengah," ujar Walikota yang gemar sepakbola ini.
Wasit Thoriq Alkatiri yang memimpin pertandingan antara PBFC melawan SPFC merupakan wasit berbanderol wasit terbaik di Indonesia. Malam itu Thoriq terlihat acap merugikan SPFC. Beberapa pemain SPFC mengkoleksi kartu kuning, termasuk satu kartu merah yang didapat pemain tengah SPFC, Vendry Mofu.
Mental anak-anak "Bukit Indarung" serta merta runtuh setelah PBFC mendapat "penalti siluman" dari wasit. Penyerang PBFC, Herman Dzumafo yang terjatuh di kotak penalti dianggap pelanggaran oleh wasit. Hengky Ardiles mendapat kartu kuning karena menurut kacamata wasit telah mengganggu pergerakan Herman Dzumafo.
Dalam tayangan ulang di televisi terlihat jelas Herman Dzumafo sengaja menjatuhkan diri sambil mengaitkan kakinya ke Hengky Ardiles. Namun sayangnya, keputusan wasit tak bisa diganggu gugat.
Mental pemain SPFC semakin runtuh setelah Vendry Mofu diganjar kartu kuning kedua. Padahal ketika itu Mofu jelas-jelas hanya melakukan body charge dengan seorang pemain PBFC. Namun wasit berkeputusan lain.
Gol kedua PBFC terjadi di masa injury time. Hasil ini membuat SPFC harus pulang dengan hasil minor. Walikota Padang berpendapat, SPFC masih punya peluang untuk lolos ke babak final dengan catatan manpu unggul tiga gol tanpa balas saat bermain di leg kedua yang akan dimainkan di Stadion H. Agus Salim Padang, Sabtu (16/1) depan. SPFC diyakini akan tampil habis-habisan di depan publiknya sendiri. "Semen Padang masih punya peluang untuk lolos, kita harapkan dukungan seluruh penonton nantinya," pungkas Mahyeldi.(tf/ch).

Post a Comment