Ads (728x90)


Sekitar 300 KM sebelah utara dari Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Etnis Toraja yang menganut animisme (Pandangan bahwa semua entitas non-manusia seperti hewan, tumbuhan, dan benda-benda atau fenomena, memiliki esensi spiritual) telah mengembangkan beberapa upacara pemakaman yang paling rumit di dunia. Ini termasuk pekuburan pohon yang disediakan untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, dan memamerkan mumi yang meninggal puluhan tahun lalu.

Makam-makam digali di tebing batu dan dihiasi dengan stupa kayu dari jenazah
Upacara pemakaman Toraja adalah even sosial yang penting dan kesempatan berkumpul seluruh keluarga dan masyarakat desa untuk berpartisipasi dalam acara komunal, memperbarui hubungan dan menegaskan kembali kepercayaan dan tradisi nenek moyang. Upacara ini berlangsung selama beberapa hari

Ketika orang Toraja meninggal, anggota keluarga almarhum diperlukan untuk mengadakan serangkaian upacara pemakaman, yang dikenal sebagai Rambu Soloq, selama beberapa hari. Namun upacara tidak langsung dilaksanakan segera setelah kematian, karena upacara tersebut butuh biaya yang cukup besar sehingga keluarga Toraja biasanya harus mengumpulkan dana yang dibutuhkan terlebih dahulu. Jadi mereka menunggu – minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun, perlahan-lahan mengumpulkan dana sampai tersimpan cukup. Selama ini, almarhum tidak dikubur tetapi dibalsem dan disimpan di sebuah rumah tradisional di bawah atap yang sama dengan keluarganya. Sampai upacara pemakaman selesai, orang tersebut tidak dianggap benar-benar mati, hanya menderita suatu penyakit.

Setelah cukup dana telah terkumpul, upacara bisa dimulai. Pertama, ada penyembelihan kerbau dan babi disertai dengan tarian dan musik serta anak laki-laki menampung darah yang muncrat ke dalam tabung bambu panjang. Semakin kaya orang yang meninggal, semakin banyak kerbau yang disembelih pada hari raya kematian. Tidak jarang mereka mengorbankan puluhan kerbau dan ratusan babi. Setelah pengorbanan, daging dibagikan kepada para tamu pemakaman.

Makam/peti mati bergantung
Kemudian datang pemakaman yang sebenarnya, tetapi anggota suku Toraja jarang dikubur di dalam tanah. Mayat mereka ditempatkan di gua-gua yang digali di tebing batu, atau dalam peti mati kayu yang digantung di tebing. Membuat makam biasanya mahal dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikannya. Sebuah patung kayu berukir, yang disebut Tau tau, mewakili almarhum biasanya ditempatkan di gua yang menghadap ke tanah. Peti mati dihias indah, tapi seiring waktu kayu mulai membusuk dan tulang-tulang terkelantang dari almarhum sering jatuh ke bawah tanah.

Bayi tidak dimakamkan di gua-gua atau tergantung di tebing, tetapi dikubur di dalam lubang pohon yang hidup. Jika seorang anak meninggal sebelum ia mulai tumbuh gigi, bayi dibungkus kain dan diletakkan di dalam batang pohon hidup yang dilubangi, dan ditutupi dengan pintu ijuk. Lubang tersebut kemudian disegel dan pohon pun secara alami akan menyembuhkan ‘lukanya’, anak tersebut diyakini akan diserap. Puluhan bayi dapat dimakamkan dalam satu pohon.

Makam Bayi
Pemakaman selesai, para tamu telah berpesta dan kembali ke rumah mereka, tetapi ritual tidak hanya sampai disitu. Setiap beberapa tahun, pada bulan Agustus, sebuah ritual yang disebut Ma’Nene dilaksanakan di mana tubuh almarhum dikeluarkan dari makam, dimandikan dan didandani dengan baju baru. Mumi tersebut kemudian berjalan di sekitar desa seperti zombie.

Ritual seputar kematian yang unik dari Tana Toraja, hari ini menarik ribuan wisatawan dan antropolog untuk berkunjung kesana setiap tahun. Memang, sejak tahun 1984, Tana Toraja dinobatkan sebagai tujuan wisata kedua setelah Bali oleh Departemen Pariwisata, Indonesia, memberikan Toraja status selebriti di Indonesia dan meningkatkan kebanggaan kelompok etnis Toraja.

Post a Comment