Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Padang),

Perceraian di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Padang lebih didominasi kepada guru dan bidan. Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya karena ingin hidup lebih layak dan mapan.

“Proses cerai ASN kan harus ada rekomendasi dari Walikota, dan yang mengajukan permohonan umumnya dari kalangan guru dan bidan,” ungkap Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang, Asnel, usai menjadi narasumber bimbingan teknis di salah satu hotel berbintang, kemarin ini.

Asnel mengatakan, jumlah ASN di Kota Padang relatif cukup banyak. Sebanyak 14 ribu pegawai tercatat di Pemerintah Kota Padang. Namun jumlah ASN dari tenaga guru dan bidan memang lebih banyak, mencapai 8 ribu.

“Saat ini yang mengajukan permohonan cerai sudah 30 orang,” terangnya.

Berbagai alasan pengajuan cerai yang diungkapkan ASN Kota Padang. Salah satunya yakni ingin hidup lebih layak. “Ada pengaruh kepada peningkatan ekonomi dan mengubah situasi kehidupan nampaknya,” ujar Asnel.

Asnel menyebut kebanyakan guru dan bidan minta cerai disebabkan karena pasangan mereka tidak mampu menandingi penghasilan pasangannya. Sisi lain, mereka ingin mengangkat taraf hidup lebih baik karena semakin tingginya tekanan ekonomi. “Ketimpangan penghasilan inilah yang akhirnya membuat mereka memilih jalan cerai,” terang Asnel.

Namun begitu, Pemko Padang tak serta merta mengizinkan perceraian terjadi. Pemko Padang justru terlebih dahulu memediasi ASN tersebut.

"Kami memberikan tausyiah kepada ASN yang mengajukan cerai. Setelah ditausyiah umumnya banyak yang ingin berbaikan lagi, namun tak jarang yang kembali mengajukan cerai setelah itu,” cecar Asnel.

Sementara itu, terpisah, Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo menyebut bahwa angka perceraian di Kota Padang cukup tinggi. Ini mengindikasikan harmonisasi di rumahtangga perlu penguatan. Sebab, dalam rumahtangga dibutuhkan kerjasama yang baik antara istri, suami dan anak-anak. “Sendiri-sendiri tak akan mungkin berhasil, keberhasilan diraih bila bersama,” kata Mahyeldi dalam suatu kesempatan.

Diterangkan Mahyeldi, kunci keberhasilan dalam rumahtangga bukanlah materi. Akan tetapi berhasilnya rumahtangga ditandai dengan cara menyelesaikan suatu masalah. “Kuncinya komunikasi yang baik dan efektif,” tutur Walikota.

Ketua TP PKK Kota Padang, Ny Harneli Mahyeldi mengatakan, agar tidak terjadi permasalahan dalam rumahtangga, peran istri sangat dituntut untuk optimal. Meski bekerja atau menjadi seorang wanita karier, akan tetapi isteri tidak mesti mengabaikan perannya sebagai ibu bagi anaknya.

“Tidak adanya perhatian dari istri kepada suami dan anak menjadi pemicu terjadinya kekerasan dalam rumahtangga dan perceraian,” ungkapnya.(tf/ch)

Post a Comment