Ads (728x90)

SAYA termasuk yang bersyukur dengan kepergian pelatih asing dari Australia yang bernama, Robert John Balard dan katanya punya asitenya Ranil Harshana. Kenapa saya bersukur? Yang pertama karena Robert John Balard dibayar Rp 80 juta sebulan belum termasuk akomudasi, transfortasi ketika datang ke Ranah Minang Sumatera Barat. Konon khabarnya, Ranil Harshana dibayar Rp 50 juta, sampai PON Jawab Barat, September 2016 mendatang.

Yang kedua, karena tak sedikit pun saya tak yakin dengan kemampuan Robert John Balard akan mampu menangani sekitar 300 atlet yang dipersiapkan ke PON Jabar. Alasan saya, karena tak saya temui leteratur seorang pelatih yang dikatakan konsultan mampu menangani atlet ratusan untuk menghadapi suatu kejuaraan.

Yang ketiga, karena saya menilai dana APBD Sumbar yang dihibahkan ke KONI Sumbar Rp 30 miliar, bisa dinikmati atlet dan pelatih yang sudah bertahun-tahun berlatih bersama untuk membela nama baik Ranah Minang di kejuaraan terakbar di tanah Air PON.

Yang keempat, saya menilai memanfaatkan pelatih asing, samahalnya dengan melecehkan keberadaan profesor dan doktor di Universitas Negeri Padang (UNP) yang punya keahlian dibidangnya masing-masing. Bahkan, sepengetahuan saya keberadaan UNP, terbaik untuk Asia Tenggara. Jadi, sangat tidak logis melecehkan kemampuan para profesor dan doktor olahraga tersebut.

KINI, pelatih itu tak nongol lagi alias kabur, begitu terjadi pengunduran diri Dr Syahrial Bakhtiar dan menunjuk Waketum 1 KONI Sumbar, Syaful SH Mhum sebagai penanggungjawab persiapan atlet ke PON Jabar.

Kenapa saya katakan kabur? Karena saya tak mendengar adanya komunikasi antara Syaiful SH Mhum dengan pelatih asing tersebut. Padahal, sebagai pejabat pelatsana tugas, ya pelatih asing itu harus minta waktu untuk bertemu dan beraudensi dengan Syaiful SH Mhum. 

Sebagai pecinta olahraga di Sumatera Barat, saya menyarankan kepada petingi KONI Sumbar yang sekarang untuk memanfaatkan keberadaan profesor dan doktor yang ada di Universitas Negeri Padang, ---yang kata mantan Ketum KONI Sumbar, DR Syahrial Bakhtiar dulu------, profesor dan doktor itu tak punya waktu kerena kesibukan tugas akedemis.

Rasanya, para profesor dan doktor yang ada di UNP itu, bukan sibuk dikampusnya, tapi mungkin karena tak diajak untuk membahas dan mengkaji prestasi olahraga, serta tak diberikan pula tawaran tambahan dana untuk mereka. Kalau masing-masing profesor itu diajak dan diberikan instensif sekitar Rp 10 juta perorang, saya rasa para profesor dan doktor tersebut pasti maulah berpartisipasi dengan dunia olahraga Sumatera Barat. Apalagi tugasnya di kampus melahirkan sarjana olahraga yang profesional.

Kemudian, adanya opini minor yang mengatakan prestasi Sumbar akan anjlok di PON tanpa pelatih asing, serta dengan terjadinya pengunduran diri Syahrial Bakhtiar, suatu penilaian yang tak beralasan. Kenapa? Karena umumnya pelatih atlet PON Sumbar di dominasi oleh sarjana UNP. 

Sepengetahuan  saya,  kunci keberhasilan di PON terletak sama atlet dan pelatih, serta pimpinan cabor. Tugas KONI Sumbar hanya masalah administrasi untuk mencairkan anggaran dan memfasilitasi masing cabor dan membeilikan peralatan atlet dalam berlatih.

Keberadaan kepengurusan KONI yang terlalu gemuk (57 orang), serta adanya "permainan" untuk menggerogoki dana APBD Sumbar yang dihibahkan, alangkah baiknya jika dana yang ada diberikan untuk pelatih, atlet dan para profesor dan doktor di UNP. (Penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos.com). 

Post a Comment