Ads (728x90)

SEBELUMNYA, saya juga tidak menduga atau menyangka, jika jadi pengurus KONI Sumbar itu bisa mendapatkan uang ratusan juta dengan kepintaran mengotak-atik dana APBD Sumbar yang dihibahkan. Caranya, bisa melalui dalih pembelian kebutuhan atlet, seperti membeli baju, peralatan olahraga, penginapan, transfortasi dan tetek benget yang lain atas nama kebutuhan atlet.
Pokoknya, setiap ada kejuaraan, seperti PORWIL dan PON, yang namanya pendapatan pengurus KONI Sumbar so pasti meningkat seribu persen. Yang hebatnya, peningkatan pendapatan itu tak hanya disaat Porwil dan PON berlangsung, tetapi juga setahun kejuaraan terakbar di tanah air akan berlangsung.
Kini, KONI Sumbar lagi mempersiapkan atletnya untuk berlaga di PON Jawa Barat, September 2016 mendatang. Bagi pengurus KONI, bisa saja mendapatkan honor berlapis-lapis, seperti honor jadi pengurus, honor pelatprov, honor seleksi atlet, honor pelatihan. Pendapatan pengurus KONI itu, bisa-bisa mencapai Rp 9 juta sampai Rp 10 juta. Kenapa? Karena dengan empat jenis honor tersebut, orangnya ya itu ke itu saja.
Yang menariknya lagi, jika pengurus KONI tersebut juga jadi pengurus di cabang olahraga, pendapatannya jadi meningkat, asalkan dekat dengan sang ketua. Macam-macam dana yang diajukannya untuk berbagai penataran dan pelatihan dan dana dengan dalih untuk keperluan atlet lainnya. 
Yang ironisnya, anggaran yang telah dipatok APBD Sumbar senilai Rp 30 miliar sampai PON Jawa Barat, tidak ada mata anggaran untuk bonus atlet yang berhasil meraih medali di Kejurns pra-PON dan Porwil 2015 lalu. 
TAPI begitu lokomotif KONI berganti, dari Dr Syahrial Bakhtiar yang meletakan jabatan dan menunjuk penggantinya Syaiful SH Mhum, terjadi perubahan yang sangat menguntungkan atlet dan pelatih, termasuk masing-masing pengprov.
Sebagai Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum mengembalikan peran dan fungsi KONI yang hanya mengurus administrasi, anggaran dan membantu semua kebutuhan atlet yang dipersiapkan ke PON Jawa Baat, September 2016 mendatang. Persoalan teknik latihan diserahkan kepada masing pelatih cabor dang anggaran untuk keperluan latihan pelatprov, juga dikembalikan ke masing-masing pengprov.
Cara Syaiful SH Mum, memperbanyak atlet andalan dari 7 orang menjadi 71 orang. Konsekwensinya pendapatan atlet menjadi meningkat, termasuk pendapatan pelatihnya yang dinaikan berkisar Rp 500 ribu, Rp 750 ribu dan Rp 1 juta perorang. 
Kemudian, Syaiful SH Mhum membuat mata anggaran membayarkan bonus atlet peraih medali kejurnas pra-PON lebih kurang Rp 3 miliar yang diambilkannya dari total anggaran Rp 30 miliar yang telah dihibahkan ke KONI Sumbar. 
Bonus merupakan hak atlet dan tetapi entah kenapa, bonus peraih medali kejurnas pra-PON dan Porwil kok terabaikan. Kesannya, pengurus KONI Sumbar lebih mementingkan dirinya dari pada atlet. Bahasa kasarnya;"Pengurus berladang dipunggung atlet."
Jadi kini, jika ada nada sumbang terhadap kepengurusan KONI Sumbar di bawah kepemimpinan Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum, so pasti karena keserakahannya menggerogoti dana KONI Sumbar terhenti. 
Sebagai pecinta olahraga, tentu kita hanya bisa berharap kepada kepengurusan KONI Sumbar di bawah komando, Syaiful SH Mhum, agar konsekwen menciptakan atlet berprestasi secara profesional. Tugas dan tanggungjawab seluruh pengurus KONI adalah menciptakan atlet berprestasi.
Sebuah organisasi akan berjalan baik,  jika seluruh mata rantai yang ada di organisasi itu berjalan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Ingat, target KONI adalah menciptakan atlet berprestasi. Tetaplah berkomitmen dan terus semangat dalam pengabdian menjaga nama Ranah Minang Sumatera Barat di PON Jabar, September 2016 mendatang. (Penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)

Post a Comment