Ads (728x90)


PADANGPOS.COM. (Padang)

Malam itu, langit Kota Padang terlihat cerah. Bintang terang menghiasi malam. Tak seperti beberapa hari sebelumnya.

Menjelang subuh, pintu rumah milik Ujang yang terbuat dari triplek, diketuk dari luar. Hanya istrinya, Maizarlis yang terbangun mendengar ketukan itu. Maizarlis melangkah keluar, lantas membukakan pintu.

Begitu pintu dibuka, Maizarlis yang masih setengah sadar, kaget alang kepalang. Di depannya telah berdiri Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Marajo.

"Assalamualaikum,” kata Walikota mengucapkan salam.

“Waalaikumussalam,” jawab Maizarlis sambil mengucek matanya seakan tak percaya.

Sambil setengah sadar, Maizarlis kemudian bergegas membangunkan suami dan anak-anaknya. Tikar dibentang di rumah induk yang berada tepat di sebelahnya, karena tak mampu membendung jumlah tamu yang datang. Walikota kemudian duduk bercengkerama bersama keluarga tersebut.

Senin (20/6) subuh itu, Walikota Padang kembali mengunjungi keluarga mustahik yang ada di kotanya. Bersilaturahim sekaligus makan sahur bersama. Kali ini, Tim “Singgah Sahur” berada di tengah keluarga Ujang yang berdomisili di RT 4 RW 5, Pasar Ambacang, Anduring, Kecamatan Kuranji.

Perasaan Maizarlis waktu itu bercampur aduk. Raut wajahnya menampakkan gusar. Kedatangan Walikota yang tiba-tiba membuat dirinya tidak enak hati. Sebab, keluarga ini tidak memiliki persediaan lauk pauk untuk dimakan.

Keluarga ini sedari tadi sudah berniat untuk hanya makan sahur dengan mie instan dan nasi saja. Inilah yang membuat Maizarlis gundah gulana pagi itu. Dengan suguhan apa tamu yang datang makan sahur di rumahnya.

“Jo apo lah Pak Wali makan ko (dengan apa Pak Walikota makan ya),” gumamnya di dalam hati.

Gundah Maizarlis sirna seketika. Tim “Singgah Sahur” telah menyiapkan nasi kotak bagi keluarganya. Menjelang waktu imsak, seluruhnya makan bersama. Keluarga ini begitu menikmati sahur kali ini yang terasa lebih nikmat dibanding hari-hari sebelumnya.

Ujang (60) dan Maizarlis (48) memiliki tiga anak. Dua anaknya kembar, yakni Wenda Putra dan Wenda Putri. Sedangkan anak bungsunya bernama Alvino. Ujang dulunya bekerja sebagai sopir. Namun karena faktor kesehatan dan usia yang tidak lagi mendukung, akhirnya Ujang memilih meninggalkan “kayu bulek” (kemudi). Ujang lebih memilih di rumah saja.

Beban keluarga lantas ditumpangkan ke pundak Maizarlis. Beruntung Maizarlis termasuk wanita tangguh. Wanita ini tak ingin bahtera keluarganya kandas. Maizarlis menjadi buruh cuci gosok pakaian ke rumah-rumah.

Maizarlis menetapkan upah cuci gosok kepada pelanggannya sebesar Rp 75 ribu perorang setiap bulannya. Dengan itulah Maizarlis mampu menghidupi keluarganya dan sekaligus menyekolahkan ketiga anaknya.

Seiring perjalanan waktu, pelanggan Maizarlis terus berkurang. Perkembangan teknologi membuatnya harus menepi. Mesin cuci telah menggantikan Maizarlis. Kini, Maizarlis hanya menerima order dari dua rumah saja.

"Dapek Rp 200 ribu sabulan (dapat Rp 200 ribu sebulan),” ujarnya.

Maizarlis mengaku pendapatan sebesar itu tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
"Kalau indak mancuci, kami indak makan (kalau tidak mencuci, kami tidak makan),” katanya lirih.

Perjuangan Maizarlis menghidupi keluarganya menyentuh hati Walikota Padang. Menurut Walikota, Maizarlis adalah wanita yang luar biasa, tetap bertahan mencintai suami meski tidak lagi mempunyai pekerjaan.

"Mudah-mudahan ketangguhan Maizarlis ini memberi semangat untuk kita mendidik dan membesarkan anak,” kata Walikota.

Walikota menyebut, di Kota Padang cukup banyak ibu-ibu tangguh yang membesarkan dan membiayai anak-anaknya.

"Mudah-mudahan semangat Maizarlis ini dapat kita contoh. Tadi saya melihat anak-anaknya cukup santun. Kesantunan anak itu kuncinya dari orangtua,” ujarnya.

Setelah melihat kondisi keluarga ini, Baznas Kota Padang akan membantu membedah rumah milik Ujang. Baznas menggelontorkan biaya Rp 20 juta untuk merehab rumah milik Ujang.

"Kita upayakan selesai sebelum lebaran,” kata Ketua Baznas Kota Padang, Epi Santoso.

Lima belas hari lagi lebaran. Ujang dan Maizarlis senang mendengar rumahnya akan dibedah. Mata Maizarlis berkaca-kaca. Dirinya semakin yakin dengan kebesaran Sang Pencipta. Ramadhan kali ini benar-benar berkesan baginya.(tf/ch)

Post a Comment