Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Padang),

Bulan pias di langit Kota Padang seperti tidak kuasa melawan temaram. Ia terus mengiringi malam yang senyap menuju sepenggalan terakhir di bulan ramadan. Bulan pias itu seolah menjadi saksi. Saksi dari doa-doa yang dipanjatkan, juga menjadi saksi dari mimpi-mimpi anak manusia.

Sementara dingin menyergap tubuh-tubuh yang lelap. Lapat-lapat desir angin menyertai derum mesin. Putaran roda menandai dimulainya perjalanan. Perjalanan “Singgah Sahur” menuju tempat tinggal warga duafa yang membutuhkan uluran tangan sesama.

Kali ini, Selasa (28/6), Tim Singgah Sahur menyusuri jalan lingkungan yang baru tersentuh betonisasi di sudut Perumahan Griya Permata, Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo.

Persis di perkampungan yang bersisian dengan komplek, dimana terdapat beberapa rumah penduduk yang sangat sederhana, berbeda kontras dengan bangunan sekitarnya. Salah satu dari rumah itu bahkan tampak lebih memprihatinkan lagi. Mungkin hanya pantas disebut gubuk karena terdiri dari sususan triplek bekas yang dijadikan dinding. Atapnya pun dari seng bekas yang terdapat banyak lubang dan dipastikan tiris diwaktu hujan.

Sungguh rumah yang tidak layak huni, karena tidak memenuhi syarat kesehatan dan prinsip keselamatan penghuninya. Tetapi apa mau dikata, inilah gubuk yang ditempati Bori Zulkarnaini bersama istri dan keempat anaknya. Pria 33 tahun yang sehari-hari bekerja serabutan dan sang istri, Okviyarni (32), cuma ibu biasa yang mengasuh anak-anaknya di rumah.

Ketika tim tiba di rumah ini, Bori dan keluarga masih tertidur pulas. Ia baru terbangun mendengar suara pintu diketuk. Agaknya masih dilanda kantuk, karena terlihat sempoyongan sembari mengusap mata tatkala membukakan pintu buat tamunya. Sejenak ia amati siapa tamunya pada jam yang kurang lazim itu. Lalu ia tersenyum dan buru-buru menyalami pria semampai yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Eh, Pak Wali, silahkan masuk,” ucap Bori seraya menjabat tangan orang yang disapanya Pak Wali, lalu menyalami beberapa orang lainnya.

Bersamaan dengan tersingkapnya pintu, lengkap sudah terlihat kondisi memprihatinkan rumah yang ditempati keluarga tersebut. Lantainya dari coran kasar yang kemudian dialasi tikar, di atas tikar itu dua bocah laki-laki yang tidak lain anak Bori tengah tertidur. Sementara pada sudut lain ruangan terdapat kompor dan peralatan memasak lainnya.

Rupanya, selain untuk ruang keluarga dan ruang tamu, ruangan berukuran 4x6 tersebut juga berfungsi sebagai dapur sekaligus menjadi tempat tidur. Memang terdapat satu kamar yang disekat seadanya untuk memisahkan ruangan depan, namun terlalu kecil untuk enam orang anggota keluarga ini.

“Beginilah kondisi rumah kami, Pak Wali. Sudah bentuknya buruk, acap pula kebanjiran,” kata Bori setelah mempersilahkan rombongan tim singgah sahur yang dipimpin Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah masuk dan melihat kondisi rumahnya.

Istri dan anak-anak Bori sudah duduk di sisinya dan bersebelahan dengan Walikota. Dua anak laki-lakinya, masing-masing Yoga, sudah duduk di kelas III SD sedangkan adiknya baru masuk kelas I SD tahun ini. Sementara dua anak Bori lainnya yang masih bayi, tidak lepas dari pangkuan ibunya.

Sungguhpun hidup dalam kesederhanaan, yang membanggakan dari dua bocah laki-laki anak Bori adalah semangatnya. Dua bocah polos itu menjawab dengan lantang, ketika ditanya apa cita-cita mereka.
“Jadi tentara !” seru dua bocah itu.

Dini hari itu, Bori tidak ingin mengungkapkan keluh kesahnya panjang lebar terhadap tamu-tamunya. Ia cukup merasa bersyukur telah mendapatkan kunjungan sebagai bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Padang kepada keluarganya, serta orang-orang yang nasibnya tidak jauh berbeda dengannya.

Rasa syukur itu semakin menguat di batinnya, tatkala Walikota Padang mengungkapkan maksud kedatangan yang sebenarnya. “Maksud kami dari Pemerintah Kota Padang, ingin membantu membiayai rehab rumah ini. Dari hasil survei oleh tim beberapa waktu lalu, keluarga Pak Bori ini termasuk warga yang peduli dengan pembangunan dan rela pula menjadikan rumahnya sebagai posko kegiatan manunggal beberapa waktu lalu,” ungkap Wako.

Seketika Bori dan istri berkaca-kaca menahan haru. Air mata terpacak di sudut wajah hitam manisnya. “Terima kasih, Pak Wali,” ucap istrinya.

Kunjungan di rumah Bori dilanjutkan dengan makan bersama. Walikota, Sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) termasuk Camat Nanggalo Teddy Antonius dan lurah yang menyertai rombongan turut melebur bersama. Semua makan nasi bungkus di atas gelaran tikar di halaman gubuk itu. Setelah adzan berkumandang, rombongan beranjak ke musala terdekat menunaikan salat subuh berjamaah.

Kunjungan di rumah Bori merupakan rumah kelima dalam ramadan 1437 Hijriyah ini. Empat rumah yang dikunjungi sebelumnya terdapat di kecamatan berbeda di Kota Padang. Ditargetkan dapat mengunjungi delapan rumah tidak layak huni dan langsung dibedah ramadan ini. (tfdu/yz)

Post a Comment