Ads (728x90)

PADANGPOS.CO. (Padang).

Seperti malam-malam sebelumnya. Menjelang subuh yang dingin di bulan Ramadan. Ketika mimpi masih menjalari lelapnya insan. Jarum jam menunjukkan pukul 03.45 WIB. Suasana hening. Kala itu Tim Singgah Sahur (TSS) Pemko Padang membelah keheningan menyasar kawasan mentereng, Perumahan Filano I di Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Sabtu (11/6) dini hari.

Iring-iringan mobil berpelat merah memasuki blok demi blok perumahan yang kelihatannya ditempati orang-orang berada. Sekilas menafikan pikiran, jika di kawasan ini tidak mungkin bermukim warga yang tidak mampu dan pantas diberikan bantuan. Namun siapa nyana, ketika rombongan tim tiba di sebuah sudut perumahan itu, terdapat pemandangan yang terbalik dengan kondisi sekelilingnya. Yaitu didapati sebuah rumah dari papan seadanya, beratapkan seng yang sudah berkarat dan berukuran sekira 6x7 meter, berbeda jauh dengan rumah sekelilingnya. Seolah pemiliknya berbeda kasta di lingkungan mapan tersebut.

Pimpinan rombongan yang tidak lain Walikota Padang H. Mahyeldi turun dari mobil dinasnya, lalu mengetuk pintu rumah. Setelah beberapa kali mengetuk dan mengucapkan salam, pintu dibuka pemiliknya. Dari dalam rumah keluar pria tigapuluhan menyambut salam dengan ucapan yang tidak lazim. Namun sang Walikota dan sebagian lainnya langsung memahami jika pria itu mempunyai keterbatasan berbicara. Selang beberapa lama muncul wanita muda sambil menggendong anak. Wanita itu tidak lain istrinya. Ia juga menyambut dengan salam dalam bahasa isyarat. Ternyata suami istri itu memang sama-sama mempunyai keterbatasan berbicara alias tuna wicara.

Meskipun sempat terkejut dan terlihat masih dilanda kantuk, namun pasangan tersebut menyambut hangat TSS Pemko Padang. Mempersilahkan masuk dan mempersiapkan tempat duduk di atas lantai semen beralaskan tikar.

Setelah duduk di atas tikar yang kelihatannya sudah lusuh, Walikota mencoba berkomunikasi dengan tuan rumah dalam bahasa isyarat yang kadangkala diterjemahkan oleh yang lain. Diantaranya anggota TSS Pemko Padang yang mendampingi Walikota Mahyeldi dalam ruangan berukuran sempit itu adalah Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Frisdawati, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Edi Hasymi, Kepala Inspektorat Andri Yulika, Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan (Dispernakbunhut) Dian Fakri, Kepala Bagian Umum Alfiadi, Wakil Ketua Baznas Firdaus Siril dan Camat Padang Timur Ances Kurniawan. Sedangkan anggota rombongan lainnya terpaksa duduk beralas tikar di jalan umum.

Pasangan dikarunia empat anak ini bernama Afrizal dan sang istri Marweti. Rumah yang mereka tempati dibangun di atas lahan peninggalan orang tuanya. Sudah belasan tahun rumah ini mereka tempati. Kondisinya memprihatinkan. Selain sempit, rumah ini tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan karena bolong-bolong dan bocor ketika hujan.

Dalam bahasa isyarat, Afrizal mengaku tidak punya cukup uang untuk membangun rumah yang permanen. Ia cuma bekerja sebagai buruh di pelabuhan perikanan Gaung, sementara istrinya menerima upah mencuci dari beberapa tetangga. Hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Belum termasuk memenuhi biaya sekolah anak-anaknya dan untuk membeli susu anaknya yang masih kecil.

Sungguh berat, ungkap Afrizal dengan menepuk keningnya sendiri. Ia juga mengangkat bahu mengisyaratkan dirinya tidak mampu berbuat lebih. Namun dengan cepat ia mengepalkan tangan pertanda ia akan terus berjuang untuk keluarganya.

Walikota sejenak tercenung. Tatapannya beralih kepada dua anak laki-laki pasangan itu yang duduk di sebelahnya. Kepada dua anak yang manis dan berwajah bersih itu, Mahyeldi bertanya tentang sekolah dan cita-cita mereka. Spontan keduanya menjawab ingin sekolah setinggi-tingginya.

"Ingin sekolah yang tinggi. Sampai kuliah," kata anak yang paling besar bernama Fiki Ananda yang masih duduk di bangku kelas dua SMP. Disambung pula oleh adiknya yang masih SD dengan jawaban senada.
Seketika Mahyeldi melirik kepada Wakil Ketua Baznas Firdaus Siril dan menanyakan kemungkinan Baznas dapat membantu membiayai sekolah anak-anak itu sampai mereka nanti melanjutkan ke tingkat SMA ataupun sampai Perguruan Tinggi.

Gayung bersambut, Baznas memang mempunyai program Padang Cerdas untuk pembiayaan pendidikan bagi anak-anak mustahik. Pihak Baznas pun menyanggupi untuk pembiayaan sekolah kedua anak-anak tersebut.

Satu beban permasalahan terasa terangkat dari pundak pria bersahaja itu. Afrizal tersenyum bangga sambil menatap pemimpin yang begitu perhatian terhadap rakyatnya. Lalu ia menyusun dua telapak tangan di dada pertanda ia berterima kasih dan sangat menghormati pimpinan yang bijak tersebut.

Bersamaan dengan itu, lapat-lapat terdengar suara dari masjid terdekat yang menyerukan sahur. Mahyeldi melirik jam tangannya. Lalu mengisyaratkan agar segera makan sahur bersama sebelum waktu imsyak menjelang.

Seperti biasa, TSS Pemko Padang sudah mempersiapkan persediaan untuk makan sahur di setiap rumah warga yang dikunjungi. Saat itu anggota tim pun mulai makan sahur bersama keluarga Afrizal.
Sementara itu, warga sekitar yang sudah mulai terbangun untuk makan sahur dinihari itu tak pelak menunjukkan ketercengangan dengan kedatangan TSS Pemko Padang di komplek tempat tinggal mereka. Terlebih tim ini dipimpin langsung Walikota Mahyeldi dan terdiri dari jajaran pejabat eselon dua Pemko Padang. 

Sebagian ada yang mencoba mendekat dan penasaran, lalu bertanya dalam rangka apa. Setelah dijelaskan, warga sangat mahfum. Pasalnya, berita kunjungan singgah sahur TSS Pemko Padang sudah kerap menghiasi media massa. Bukan saja di media lokal, namun secara nasional kegiatan di bulan puasa yang digerakkan Walikota Mahyeldi sudah jadi perbincangan nasional. Bahkan warga menyamakan kegiatan ini dengan perbuatan Sahabat Rasulullah Umar bin Khatab sewaktu menjadi khalifah.

"Singgah sahur ini mengingatkan pada apa yang diperbuat sahabat Umar bin Khatab," sela warga yang mendekati rumah Afrizal.

Sebelum azan subuh berkumandang, Walikota kembali mengungkapkan niat tim untuk membedah rumah Afrizal. Sebelumnya, Camat dan lurah setempat diminta untuk membantu proses penetapan status tanah lokasi rumah tersebut dari keluarga agar kemudian hari tidak timbul masalah yang tidak diinginkan.
"Insya Allah, rumah ini akan dibedah. Camat dan lurah diminta untuk membantu proses penetapan status lahan atas nama keluarga ini," imbuh Mahyeldi.

Ucapan pamungkas Walikota Padang itu menjawab harapan keluarga Afrizal untuk bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Setidaknya, ia dan keluarga tidak lagi seperti warga berbeda kasta yang tinggal di lingkungan mapan.(tf/du/ch/mn/yz)

Post a Comment