Ads (728x90)

PADANGPOS.COM. (Padang),

Dimanapun dan kapanpun, bencana hampir selalu terjadi di setiap daerah. Termasuk di Kota Padang, banjir dan gempa menjadi momok menakutkan bagi warga setempat. 

Sebagai daerah yang berada di pesisir pantai, warga Kota Padang mesti siap siaga apabila terjadi bencana. Hal yang mesti diprioritaskan saat terjadi bencana yakni penyelematan serta bantuan terhadap perempuan dan balita.

“Saat ini kita melihat setiap terjadi bencana, yang peduli terhadap kebutuhan serta pertolongan kepada anak-anak dan wanita masih sedikit,” ujar Ketua TP-PKK Kota Padang Ny Harneli Mahyeldi di sela-sela Seminar “Woman Peace Security” di Ballroom Utama Hotel Kyriad Padang, Jumat (26/8).

Ny Harneli Mahyeldi menyebut, saat bencana terjadi, bantuan logistik seperti pakaian perempuan dan bayi, hingga ke hal yang terkecil seperti pembalut wanita sangatlah minim. Padahal, menurut Ny Harneli, jumlah bantuan yang datang ketika bencana itu cukup banyak, namun minim logistik bagi kebutuhan perempuan dan bayi.

“Jadi ‘responsive gender’ (peduli terhadap perempuan) saat bencana itu perlu kita tingkatkan ke depan, mungkin saja nanti dengan membuat Peraturan Daerah (Perda) ataupun Peraturan Walikota (Perwako) yang berisi tentang prosedur penyelamatan bagi perempuan dan balita,” terang Ny Harneli Mahyeldi didampingi Kepala BPMPrKB Kota Padang Muji Susilawati.

Ny Harneli Mahyeldi juga menilai, ‘responsive gender’ tidak saja dilakukan pada saat terjadi bencana. Akan tetapi juga setelah bencana terjadi. Karena itu, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemko Padang sudah mesti menyiapkan barang kebutuhan atau logistik bagi perempuan termasuk balita. “Kita memang harus siaga,” ujarnya.

Menyinggung pelaksanaan Seminar “Woman Peace Security” yang dilaksanakan di sela-sela kegiatan Pacific Partnership 2016 di hotel tersebut, Ny Harneli Mahyeldi menilai bahwa seminar tersebut cukup bermanfaat positif bagi kaum perempuan.

“Dengan adanya seminar ini akan menambah pengetahuan kaum perempuan, terutama saat terjadi bencana,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPMPrKB Muji Susilawati menuturkan bahwa dalam seminar ini akan didiskusikan rencana dibuatnya Perwako yang berisi tentang langkah apa yang harus dilakukan atau Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi perempuan saat terjadi maupun setelah terjadi bencana.

Sehingga nanti diharapkan para perempuan menjadi tahu langkah-langkah yang dilakukan saat bencana, serta dapat mengajak perempuan lain untuk membantu korban lain ketika terjadi banjir, gempa dan bencana lainnya.(tf/ch/mn)

Post a Comment