Ads (728x90)

SEJAK April 2016 lalu, banyak juga insan olahraga yang maobok-obok saya agar maju sebagai salah seorang kandidat Ketum KONI yang Musyorprovlubnya akan dilaksanakan, 14-16 Desember 2016 mendatang.

Jujur, saya gamang, ragu dan was,was. Kenapa? Apa benar kalau saya maju akan didukung pimpinan cabang olahraga yang berjumlah 59 itu dan ditambah 19 KONI kabupaten dan kota. Kemudian, pimpinan cabor, tahu kalau saya bukan mantan atlet yang punya reputasi baik, seperti pernah meraih medali emas di Porprov atau PON.

Bagi saya, ikut berkecimpung di dunia  olahraga hanya untuk menambah pergaulan dan terselip misi menambah pendapatan materi untuk membiayai sekolah anak, dan sudah tu supayo dapua barasok.

Jujur juga, keberhasilan saya menjadi pengurus di dunia olahraga, yang secara kebetulan tatompang biduak ka ilia. Maksudnya, saya ikut memperjuangkan calon ketua dengan harapan saya bisa masuk jajaran pengurus. Ternyata, iImpian saya itu tercapai dan sekarang punya "kekuasaan lo" snek, karena saya sengaja menjual nama urang gadang.

Namun, semakin dekat hari musyorlub, kian membuat jantung saya tak normal, sehingga kadangkala tindakan saya dilandasi emosi yang tak terkendali, dan maklumlah saya pernah bergaul dan berkelompok dengan para preman dan larut pula dengan kehidupan malam.

Kinipun, jantung saya seakan mau copot, begitu muncul nama Kandris Asrin yang menyatakan siap untuk mencalon diri sebagai calon Ketua Umum KONI Sumbar. Bahkan, jantung saya berdetak kencang dan kala malam hari mata tak pula mau dipejamkan. Kenapa? Karena Kandris Asrin, semua inan olahraga tahu, kalau pengusaha sekelas Kandris ini, tak hanya organisatoris yang terbukti pernah menjadi Ketua KNPI Sumbar, tapi juga pernah menjadi karateka terbaik di Lemkari 1985 lalu.

Kemudian kini, Kandris juga punya hobi olahraga paralayang dan juga sebagai Ketua Fasi Kota Padang, yang juga punya andil juga di PON Jabar, Oktober 2016 lalu. Bahkan, Kandris ikut pula mencari atlet paralayang yang sempat mengalami musibah saat bertanding.

Selanjutnya, yang membuat hidup saya mulai tak nyaman, karena Kandris mengundang para wartawan untuk menyatakan niatnya untuk maju. Bagi Kandris, menjamu puluhan wartawan, ya syah-syah saja, karena kepengnya bakaruang. Sementara saya hanya berharap dari uang jalan bila ada keperluan keluar kota. Itupun jumlahnya tak seberapa.

Jadi, dari segi kepeng, prestasi olahraga, ilmu manajemen dan ilmu kepepimpinan, Kandris memang telah mapan dan berpengalaman dan telah teruji dan terbukti. Sementara saya, hanya didukung tukang obok-obok yang kehidupannya jauh dibawah saya dan hidupnya bersandar pula ke saya.

Jadi kini, langkah saya untuk maju, hanya tinggal bagaimana bisa "mangicu" pakar olahraga, apakah itu profesor dan doktor olahraga yang ada di kampus, yang bisa dikatakan, otaknya  piti ka piti.

Sementara untuk menjual-jual nama urang bagak, ada pula yang rewel dan mencikaraui saya, sehingga mempersempit harapan. Peluang satu-satunya, untung-untung para pakar olahraga yang berprediket profesor dan doktor olahraga, lah sasek aia atau lah pakak badak.  (Penulis wartawan bijak dan padangpos.com)

Post a Comment