Ads (728x90)

JUJUR, saya sungguh tidak tahu asal muasal tata cara pemilihan ketua atau pemimpin secara langsung, yang katanya lebih demokratis di sebuah negara yang katanya demokratis. Tapi, setiap ada pemilihan jabatan ketua, selalu memakai pola satu orang punya satu suara. Akibatnya, muncul tim sukses untuk menggalang, agar mendapatkan suara, dengan target timses masuk ke sturktur pengurus.

Lantas timbul pertanyaan bagi saya, apakah pemilihan Ketua PWI Sumbar, yang koferensinya, Senen, 26 Desember 2016 juga akan memakai cara satu orang satu suara? Jawabab sementara ya. Kenapa? Karena Ketua PWI Sumbar sebelumnya juga memakai pola satu anggota PWI yang berstatus anggota biasa, punya satu suara. 

Kini, para wartawan yang berstatus anggota biasa lagi diobok-obok timses untuk menyalurkan suaranya kepada kandidat yang disusungnya. Dari bisik-bisik para rekan wartawan, katanya untuk pemilihan jabatan ketua PWI Sumbar periode kedepan muncul nama Sukri Umar wartawan dari Harian Padang Ekpres dan  H. Heranof Firdaus, S.Sos Kasi Pro-1/Reporter Senior RRI Padang.

Dari berbagai  informasi, kedua kandidat calon Ketua PWI SUmbar ini, sudah memenuhi persyaratan administrasi, karena keduanya telah lulus Uji Kopetensi Wartawan (UKW). Kemudian kedua sosok, juga telah malang melintang di dunia jurnalistik. Bedanya, Sukri Umar wartawan media cetak, yang pernah menjadi pemimpin redaksi di Harian Padang Ekpres dan sekarang masih berada di top leader. Sementara  H Heranof dari media elektronik dengan jabatan Kasi Pro-1 dan reporter senior di RRI.

Kini, apakah mungkin pemilihan Ketua PWI Sumbar ini memakai pola orang Minang dalam memilih pemimpin atau ketua? Jawaban saya ya mungkin saja. Karena Orang Minang lebih mengutamakan musyawarah dan mufakat dengan persayaratan sang kandidat harus 3 T, yakni tokoh, tageh dan tokoh.

Musyawarah adalah proses pembahasan suatu persoalan dengan maksud mencapai keputusan bersama. Mufakat adalah kesepakatan yang dihasilkan setelah melakukan proses pembahasan dan perundingan bersama. Jadi musyawarah mufakat merupakan proses membahas persoalan secara bersama demi mencapai kesepakatan bersama. Musyawarah mufakat dilakukan sebagai cara untuk menghindari pemungutan suara yang menghasilkan kelompok minoritas dan mayoritas. Dengan musyawarah mufakat diharapkan dua atau beberapa pihak yang berbeda pendapat tidak terus bertikai dan mendapat jalan tengah. Karena itu, dalam proses musyawarah mufakat diperlukan kerendahan hati dan keikhlasan diri. 

Musyawarah mufakat merupakan nilai yang dihasilkan dari akar budaya orang Minang. Musyawarah mufakat secara tegas dinyatakan dalam sila keempat dasar negara kita, yaitu Pancasila. Sila keempat Pancasila menegaskan bahwa prinsip kerakyatan Indonesia harus dijalankan dengan cara permusyawaratan yang bijaksana.

Kemudian, harus ada tim khusus yang dibetuk untuk  membahas rekam jejak sang kandidat dengan berpedoman kepada 3 T (Takah, Tegeh dan Tokoh).  

TAKAH, maksudnya, apakah performance, postur tubuh yang bagus, rupawan, gagah, penampilan yang menarik dan nampak berwibawa.

Orang Minang akan melihat apakah seseorang memiliki ketakahan yang memadai yang diperlihatkan dari sikap, perilaku, tampilan, cara  bicaranya di depan publik atau cara menyampaikan pikiran melalui lisan dan tulisan, serta bagaimana gaya memimpinnya. Bagaimana bahasa tubuhnya dalam berkomunikasi di depan publik.

TAGEH,  maksudnya, tegas, berani, kuat, kokoh,  ber­pendirian dan muda. Orang Minang akan melihat apakah seorang pemimpin itu mampu menjadi tumpuan harapan.

TOKOH, maksudnya, orang Minang akan menilai seseorang itu apakah seorang pemimpin yang layak untuk menjadi tokoh bagi mereka, mampu memberikan keteladanan, layak didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Ketokohannya juga diakui dalam skala yang lebih luas lagi. Keilmuannya juga sudah terbukti dan diakui, baik ilmu agama, adat, dan akademik.

Sebagai salah seorang wartawan, ya wajar saja kalau saya menyampaikan aspirasi, agar pemilihan Ketua PWI Sumbar memakai pola budaya orang Minang, yakni musyawarah dan mufakat. Tujuannya agar, tak ada kelompok-kelopok wartawan yang menang dan kalah dan semua menjadi pemenang. Semoga! (Penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos.com)



Post a Comment