Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Kota Pariaman)-Sebagai Pimpinan Rumah Penitipan Sosial Anak (RPSA) Delima, Yetty Kahar menyebutkan, selama tahun 2016 telah terjadi kasus pencabulan dengan korban usia anak dibawah usia 16 tahun,di Kabupaten Padang Pariaman.

"Pelaku pencabulan tersebut,  ayah, ayah tiri maupun paman korban," kata Yetty Kahar, ketika menerima kunjungan mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), di Rumah Penitipan Sosial Anak (RPSA) Delima Kota Pariaman di Desa Cubadak Aia, Kecamatan Pariaman Utara, Rabu, 14 Desember 2016 lalu.

Menurut Yetty Kahar, sejak RPSA Delima Kota Pariaman dirintisnya, 1990 lalu telah menangani sebanyak 876 kasus, yang sebagian besar kasunya tindak kekerasan seksual dan pencabulan. "Sedangkan di Kota Pariaman, selama 2016 ini terdapat 19 kasus pencabulan," katanya.

Berdasarkan data dalam rentang waktu 2014 hingga 2016, kata Yetty Kahar,  memang ada kecenderungan peningkatan kasus yang ditangani RPSA. Tapi kini, ada peningkatan keberanian masyarakat melaporkan kasus pencabulan tersebut. "Kalau dulu, kasus pencabulan itu selalu ditutupi karena dianggap aib, apalagi pelakunya orang terpandang atau masih ada hubungan darah dengan korban,” kata Yetti yang akrab disapa Teta Sabar ini.

Yetti Kahar mengakui, perjuangannya untuk mengelola RPSA ini tidaklah mudah. Berbagai fitnah, intimidasi dan tudingan dialamatkan kepada dirinya. Selain itu, juga ada pihak yang minta damai agar kasusnya tidak diproses secara hukum. 

Termasuk membujuk korban (keluarga) tindakan kekerasan seksual dengan mengiming-iming sejumlah uang. “Alhamdulillah, hingga kini kita tetap komit untuk menegakkan hokum serta melindungi perempuan dan anak-anak dari tindakan kekerasan,” kata Teta Sabar yang juga Ketua Lembaga Pelayanan Korban Tindakan  Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (LPKTPA) Sumatera Barat.

Dalam pelayanan terhadap anak-anak yang didampingi di RPSA ini, kata Teta Sabar, selain pengasuh juga melibatkan konselor, pekerja sosial, dokter, pengacara, kepolisian dan lembaga mitra lainnya. 

“Sedangkan kegiatan anak-anak yang berada di RPSA ini juga sekolah, santapan rohani, keterampilan sesuai dengan minat anak, kesehatan, dan ketahanan diri dari tindak kekerasan berikutnya,” kata Teta Sabar menambahkan.

Kerja keras dan perjuangan Teta Sabar bersama teman-temannya dalam mengelola RPSA kini membuahi hasil. Buktinya, RPSA ini masuk lima besar tingkat nasional dalam penilaian Kementerian Sosial RI.

Salah seorang mahasiswa Febria Ramadani menyebutkan, dengan melakukan  kunjungan ke RPSA ini, kami semakin memahami bagaimana permasalahan perempuan dan anak-anak yang melakukan tindakan hukum maupun anak perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan seksual. 

“Selama ini kami hanya mendapatkan teori-teori di dalam kelas, tapi kini kami langsung bertemu dengan lembaga pelayanan kesejahteraan sosial dan orang-orang yang membutuhkan pelayanan dari pekerjaan sosial,” kata Febria. (amir)

Post a Comment