Ads (728x90)

Sejarah Angkatan Laut Republik Indonesia di Pariaman menjadi bukti warisan sejarah kepada anak cucu Bangsa Indonesia, dan Kota Pariaman khususnya sebagai bagian dari nilai sejarah perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. 

Sejarah ringkas Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) di Pariaman dalam buku Sejarah Perkembangan Angkatan Laut ditulis oleh Sudono Jusuf, (Jakarta : Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah ABRI, 1971). Pada tahun 1948, ALRI Sumatera Barat berpusat di Pariaman, dalam situasi dan kondisi cukup kuat.

 Mempunyai perlengkapan yang baik disertai memiliki anggota yang disiplin. Dalam menghadapi Agresi Militer Belanda ke II, ALRI Markas Pariaman mempersiapkan pertahanan fisik dan perbekalan. Untuk memperkuat pertahanan, pasukan dari Mentawai ditarik ke Pariaman. Pos-pos pertahanan di tambah. Pada Pos Tiram dan Ujuang merupakan Pos terdepan dengan anggota pasukan cukup besar jumlahnya. Hal ini, untuk melakukan koordinasi pasukan, diangkatlah Letnan Satu Wagimin sebagai Komandan Pertempuran.

Belanda melakukan serangan ke Kota Pariaman sebanyak 3 (tiga) kali. Serangan pertama, 19 Desember 1949. Belanda mempergunakan Kapal JT 1 menembakan meriam Kaliber 130 mm dari dekat Pulau Angso Duo ke Kota Pariaman. Akibat tembakan tentara Belanda ini, Stasiun Kereta Api, Markas Polisi Tentara Laut, dan Asrama Gajah Mada dan bangunan lainnya mengalami kerusakan. 

Sebagai balasan, ALRI mengerahkan 1(Satu) Regu Corps Mariniers (CM) bagian penyelam untuk menembakan torpedo ke arah Kapal Belanda. Usaha ini gagal disebabkan torpedo tidak meledak. Kemudian, dikerahkan 1 (satu) pasukan ALRI bersenjata beberapa buah meriam.dan tomang buatan Sawahlunto. Usaha tak berhasil dikarenakan jarak tembak senjata tidak mencapai sasaran.
Terus, pasukan Belanda melakukan serangan ke II mempergunakan Pesawat Mustang menembaki bangunan Militer Indonesia. Korban berjatuhan di pihak Indonesia. Serangan tentara Belanda merebut Kota Pariaman , 6 Januari 1949 dengan mengerahkan Pesawat Terbang dan Infanteri. Belanda melakukan serangan dari tiga arah Jawi-Jawi, Kampuang Jao dan Kampuang Nias. 

Tetapi pasukan Indonesia belum memberikan perlawanan dan telah siap siaga di benteng pertahanan masing-masing. Hal ini supaya musuh berada dalam jarak dekat. Pun siangnya pertempuran berkobar. Perlawanan paling sengit dilakukan pasukan CM yang bertahan dekat pantai. Benteng hanya dipertahankan sebanyak 30 (tiga puluh) orang. Pasukan Belanda kian brutal. Pasukan CM kehabisan peluru itu melompat keluar Benteng. Mereka disambut tembakan musuh. Hanya 2 (dua) orang yang hidup ketika itu.

Perlawanan sengit, terjadi di depan Markas CM. Gugur Letnan Pandopotan akibat tusukan bayonet pasukan tentara Belanda. Terus, pasukan CM mundur ke arah Pauh sebelah Barat Pusat Kota Pariaman. Sore harinya, Belanda berhsil menguasai sebagian Kota Pariaman. Pasukan CM dibawah Pimpinan Sersan Mayor Sutan Syarif dengan mempergunakan bahan peledak, membumi hanguskan gedung ALRI dan jembatan supaya jangan menguntungkan pihak tentara Belanda. 

Dari untaian sejarah atas keberadaan ALRI "tempo doeloe" di bangun Monumen ALRI untuk menjadi bukti saksi sejarah terhadap generasi anak cucu. Sekaligus salah satu magnet kunjungan Wisatawan ke Kota Pariaman. Sesuai dengan perjalanan waktu, Kota Pariaman kian menggeliat dalam menanta Kota Sejarah, Kota Wisata di pesisir pantai Barat Sumatera ini. 

Kenapa demikian ... ? Kota Pariaman di awal masa penjajahan merupakan salah satu Kota Pelabuhan terbesar di Sumatera, hal ini sesuai dengan catatan dari Tonic Pires tahun 1446-1552 M seorang pelayar berkebangsaan Portugis. Pada masa memperjuangkan merebut dan mempertahankan Republik Indonesia, Pariaman telah dipilih sebagai Markas Pangkalan Laut Republik Indonesia yang pertama di Indonesia. Dipilihnya Pariaman ketika itu, disebabkan tidak kondusifnya Kota Padang dan sekitarnya pasca Aksi Militer I Belanda. 

Lalu, tanggal 8 Maret 1946, Mayor Soelaiman diperintahkan oleh Komandan Divisi III Banteng untuk memindahkan Markas Komando TKR Laut Sumatera Tengah ke Pariaman, begitu sekelumit tulisan sejarah terdapat di dinding Monumen Angkatan Laut yang berada di bibir Pantai Gandoriah , persis di depan Muara Pariaman yang akan diresmikan Kepala Staf Angkalan Laut (Kasal) Laksamana TNI Laut Ade Supandi, SE,MAP , Rabu 8 Maret 2017 di Pantai Gandoriah , Kota Pariaman. (Penulis waratwan Padangpos.com)

Post a Comment