Ads (728x90)

TAK berapa lama, datanglah ajudan didampingi pembantu rumah angga mengantarkan lontong gulai cubadak keruangan  Walikota. "Dima lontong gulai ko dibali tadi," kata Naro kepada ajudannya.

Di Kalumbuak pak wali, tampek biaso pak wali minum pagi," kata ajudan semberi mempersilahkaan walikota makan lontong.

Kemudian, Naro memuji ajudannya yang tahu seleranya dan tahu pula dimana dirinya setiap hari makan lontong gulai cubadak. Sambil garut-garut kepala yang tak gatal, Naro tersnyum meliha ajudan yang bersama pembantu rumah tangga.

"Bisuak pagi, bali lik lontong ko di Kalumbuak tu dan kecekan ka One tu walikota yang membelinyo dan sampaikan salam ambo ka One tukang lontong tu yo," kata Naro sembari menjelaskan, kalau One tukang lontong itu tidak memilih dirinya dan di kadai lontong One tu, terpanjang baliho gadang lawan politiknyo. Tujuannyo agar One yang pongah tu tahu siapo Naro, yang kere dulu.

Selanjutnya Walikota Naro mempersilahkan ajudan dan pembantu rumah tangga keluar ruangan. "Lah tibo kadis pendidikan dan suruah langsunag masuak," kata Naro tegas.

Tak lama berselang, masuklah Kadis pendidikan keruangan walikota, sembari mengucapakan Assalamualaikum pak wali. 

"Walaikumssalam, silahkan duduak," kata walikota Naro sembari menghidupkan api rokok dan meminum kopi yang telah tersedia. 

Sama seperti pertanyaan sebelumnya;"Lah bara lamo jado kadis pendidikan dan apo sae  kegiatan yang go nasional," kata Walikota Naro mengawali pembicaraan.

Mendapat pertanyaan seperti itu Kadis Pendidikan langsung menjawab;"Baru satu satangah tahun pak wali dan mengenai prestasi go nasional, sajak ambo jadi kadis yo alun lai, tapi ambo sudah membuek program untuk sampai kekejuaraan nasional dan internasional," kata kadis ini sembari membagakan diri, kalau dirinya punya konsep.

Sementara Walikoa Naro mendapatkan jawaban seperti itu, justru tak membuatkan kagum dan bangga."Bagi ambo indak paralu konsep doh, yang penting fakta dan kepeng, kepeng, lah jaleh jo kadis tu," kata naro bagaikan orang berdialog dilapau meja putih.

Sebelum kadis pendidikan menjawab, Walikota Naro berkoar kembali dan mempertanyakan siapa yang jadi beking kok bisa jadi kadis pendidikan yang merupakan jabatan lahan basah, karena banyak kepala sekolah yang dijadikan sapi perahan. "Sia yang membeking pak kadis," kata Naro ketus.

"Kakak ambo pak wali, yang kebetulan jadi jaksa di Kejaksaan Agung RI," jawab kadis sembari menyebutkan juga kalau kakaknya yang di kejaksaan agung tu, sitiap lebaran pulang kampung ke Padang.

"Ko baru mantap, punyo kakak kanduang di Kejaksaan Agung. Berarti kalau ambo korupsi, lai ado yang jadi beking lo mah," kata Naro sembari ketawa terbahak.

"Kini pak kadis, lai pandai maling kepeng negara ko, tapi aman," kata Naro sembari memperlihat beberapa berita di media massa yang memberitakan beberapa kepala daerah tersandung kasus korupsi, baik yang ditangkap jaksa maupun KPK.

"Siap pak wali," kata kadis pendidikan mohon diri, karena mau kembali ke kantor, karena ada tamu dari perusahaan buku dan moubel, dan kemudian menyerahkan bungkusan yang berisi uang tunai Rp 25 juta.

"Kepeng ko dari siapo ko pak kadis," kata Naro sembari memasukan uang kedalam tasnya.

"Dari pengusaha buku yang sekarang lagi menunggu saya di kantor dinas pak wali," kata kadis pendidikan sembari berdiri.

"Eee tunggu dulu, kok takaja sae pak kadis ko, kepeng Rp 25 juta lonyoh yang disetorkan. Bisuak ko, setiap menghadap harus baok kepeng paling saketek Rp 100 juta, mengerti," kata Naro memulai aktingnya dengan suara keras. "Kaluar."

Menjelang sampai di parkiran mobilnya, Kadis Pendidikan tu badanya berkeringat, padahal diruang walikota AC-nya sangat dingin. "Payah juo mah jadi kadis kalau si Naro ko yang jadi walikota;"Klera juo."

GILIRAN berikutnya, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, yang masuk berdua dengan sekretarisnya. Begitu sampai diruang walikota, keduanya langsung memberikan hormat ala meliter. "Selamat pagi pak wali," sapa kasatpol PP.

"Sia yang manyuruah masuak karuangan ko baduo, dan apo lo maksud masuak baduo, kamaajak bacakak yo, apo lah bosan makan buah jerami jo panggang jariang," kata Walikota Naro, sembari mengusir sekretaris Pol PP keluar ruangan. 

"Siap pak wali," kata Kasatpol PP dan mempersilahkan sekretarisnyo keluar ruangan. "Yang dalam bungkusan tu, latakan disiko," katanya sembari menunjuk meja.

"Siap, perintah dilaksanakan," kata sekretaris Pol PP sembari menggeutu dalam hatinya;"Yo klera pak wali Naro komah."

Kemudian, Walikota Naro mempertanyakan kepada Kasatpol PP, mengenai apa saja kerja Pol PP yang dipimnya itu.

Dengan tegas, Kasatpol PP menjelaskan;"Tugas pokonya mengamankan perda dan mengamankan peraturan walikoya."

"Oooo jadi itu senyeh tugas Pol PP ko dan masalah cafe-cafe yang kecek masyarakat banyak poyok jo lonte tu, tugas siapo yang mengawasi tu," kata Naro sembari mengirup rokoknya dan mengeluarkan bagaikan orang meniup balon.

Tanpa ragu-ragu Kastpol PP menjawab;"Kalau yang mengawasi lonte jo poyok tantu germonyo pak wali," kata kasatpol pp dengan nada suara lembut.

Mendapat jawaban seperti itu, Walikota Naro berang dan meradang;"Goblok kau, yang ambo muksud, baaa caro eeee, agar poyok-poyok yang kata masyarakat banyak di Pondok tu bisa diatasi, sehingga  ninik mamak, jo ulama, serta cadiak pandai indak ribut-ribut lagi di mdia massa," kata Naro dengan suara keras, sehingga terdngar sampai ke pos satpam."Dasar goblok, kau dan bara kepeng yang dibaok menghadap."

Mendapat jawaban keras walikota, tak hanya membuat Kasatpol PP menggigil, tapi pipisnya dalam celana keluar, sehingga basah celananya. "Siap pak wali dan ohon izin ke taolet," kata kasatpol PP sembari berlari keluar ruangan. 

Sepeninggal Kasatpol PP, Walikota Naro justru tertawa terbahak. Dasar Kasatpol PP goblok, baru dibetak begitu saja sudah pipis dalam celana.  (Penulis feature Waratwan Tabloidbijak dan padangpos.com)

Post a Comment