Ads (728x90)



Eksistensi kopi luwak saat ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Nyaris tidak ada negara di belahan dunia mana pun yang luput dari kunjungan kopi luwak khas Indonesia. Tentu kita harus merasa bangga sebagai warga Negara Indonesia.

Sebelum terlalu lama menepuk dada karena bangga, lebih baik kita napak-tilas dulu perjalanan kopi luwak ini. Berdasarkan kronologinya, inilah 4 perjalanan kopi luwak yang harus dikenang.

1. Impor Kopi Arabika Besar-besaran dari Timur Tengah
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Belanda pernah terlilit utang negara yang cukup mencekik. Alhasil, ketika Indonesia berada dalam tampuk kekuasaan Belanda, sering dijadikan target eksploitatif demi keuntungan sendiri. Pada waktu itu, biji kopi Arabika menjadi salah satu komoditas ekspor yang paling menjanjikan.

Sedangkan varietas kopi Arabika ini berada di Timur Tengah. Khususnya Turki dan Yaman. Maka, dibentuklah aturan yang mengikat warga Indonesia agar mau bersama-sama menanam kopi. Tentu dengan syarat hasil kopinya diserahkan pada pemerintah Belanda. Jadi untuk petani kopi asal Indonesia hanya diberi sisa-sisa saja.

2. Kopi Luwak Bermula dari Keresahan Petani Kopi
Penindasan yang dilakukan Belanda itu melahirkan generasi penggerutu. Para petani tak henti-hentinya menggerutu tentang nasib dan keadilan. Sayangnya gerutuan itu tidak digubris oleh Belanda. Siapa yang menentang aturan Belanda, justru akan dihukum secara fisik maupun mental. Akhirnya tidak ada yang bisa diperbuat oleh para petani kopi.

Sebuah celah baru muncul ketika musang di sekitar perkebunan ditemukan sering mengonsumsi kopi Arabika yang ditanam. Para petani kopi mengamati betul tingkah musang atau luwak itu. Sampai hari-hari kemudian, mereka banyak menemukan kotoran luwak dengan biji kopi utuh yang masih menempel.

Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan oleh mereka. Toh, pemerintah Belanda tidak terlalu peduli dengan kotoran binatang. Para petani kopi seakan-akan tercerahkan. Mereka mengambil kopi dari kotoran itu. Lalu mencuci bersih, menjemurnya, dan menyangrainya. Ternyata minuman kopi itu sangat nikmat. Diam-diam mereka menyembunyikannya.

3. Saat Belanda Pertama Mengetahui Kopi Luwak
Pihak Belanda, melalui Johannes Van den Bosch mengendus ada yang aneh dari para petani kopinya. Seakan-akan mereka menyembunyikan sesuatu yang besar. Sampai suatu hari, Van den Bosch memergoki petani kopi Indonesia yang lagi ngopi. Kemudian dia mencicipi rasanya. Setelah itu, kopi luwak lantas diblokir dari akses para petani kopi.

Sampel kopi luwak tersebut diteliti di negeri Belanda. Mulai dari rasa, kandungan gizi, hingga potensi pasarnya. Mengingat proses jadi kopi luwak sangatlah rumit. Akhirnya, Belanda tidak hanya menjual komoditas kopi Arabika biasa saja, melainkan bersama kopi luwak. Bahkan keuntungan yang didapatkan berlipat ganda.

4. Saat Pamor Kopi Luwak Kian Melejit
Akhirnya, dari tahun ke tahun, pamor kopi luwak khas Indonesia mulai dikenal di banyak negara di belahan dunia. Sampai ketika Indonesia berlepas dari kolonialisme, pamor kopi luwak cenderung stabil. Terlebih lagi, saat nama kopi luwak disebut-sebut dalam film The Bucket List dan juga acara yang dibawakan oleh Oprah Winfrey.

Berkat dua momen itu, kecurigaan dunia bahwa kopi luwak hanyalah kabar burung pun sirna. Pasar semakin meminati kopi luwak jauh melebihi kopi pada umumnya. Berkat produksi kopi luwak ini, para perajin kopi luwak semakin menghargai populasi musang. Tentunya ini jadi kabar bagus, mengingat Indonesia merupakan rumah satwa terbesar di dunia.


Kopi luwak memang berawal dari sejarah kelam, tetapi akhirnya berbuah manis. Syukurnya, Industri kopi luwak ini di Indonesia cukup besar. Pasalnya kopi luwak ini akan jadi legenda karena harganya yang sangat mahal. Tentu berbeda dengan kopi luwak palsu yang harganya cuma seribuan.

Post a Comment