Ads (728x90)

BAGI  orang Minang, pergi  merantau atau meninggalkan kampung halaman, untuk mencari kehidupan yang lebih layak daripada di kampung halaman, boleh dikatakan sudah membudaya, secara turun menurun. Bahkan, rasanya tak ada daerah rantau di nusantara ini yang tak ada komunitas Minang, termasuk Papua.  

Secara historis, para perantau Minang ini konon telah meninggalkan tanah leluhur atau tanah pusakanya sejak berabad-abad yang lalu, dan keturunannya telah menjadi warga masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Minangkabau saat ini. Sementara para 'perantau Minang baru' masih punya kedekatan dan keterkaitan emosional dengan budaya dan tanah kelahirannya. 

Prilaku orang Minang ini sebagai perantau, sesuaia dengan peribahasa Minang yang berbunyi;" Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Ke rantau bujang dahulu, di rumah berguna belum." 

Yang uniknya lagi, ada juga prilaku orang Minang;" Daripada malu pulang ke kampung, lebih baik rantau diperjauh,". Fakta ini kian  membuat banyak perantau Minang yang tidak pernah pulang lagi ke kampung halamannya, walaupun rindu dendam pada ranah bundo dan segala isinya berkecamuk seakan tak terperi."

Jadi wajar saja jika ada yang meperkirakan lebih dari setengah populasi orang Minang hidup dan berkembang di wilayah perantauan baik di Indonesia maupun mancanegara. Perkiraan itu pun tidak memasukkan keturunan perantau Minang yang telah merantau dan berkembang sejak sekurangnya 1000 tahun yang lalu di berbagai wilayah di nusantara atau bahkan dunia pada masa modern ini.

Bertitik tolak dengan kebiasaan pergi merantau tersebut, ada beberapa  hal yang perlu direnungkan dan kemudian dijadikan bahan kajian, serta ditindaklanjuti bagaimana cara dan strateginya memanfaatkan keberadaan masyarakat Minang diperantauan untuk membangun Ranah Minang dari berbagai aspek persoalan, termasuk objek wisata dan kuliner rendang. 

Jika kita berbicara dengan kebiasaan orang Minang, secara fakta memang perantau Minang telah membiasakan diri pulang kampung setiap mau lebaran. Bahkan, satu minggu menjelang lebaran Idul Fitri, bisa dikatakan suasana di jalan lintas Jakarta-Sumatera Barat melebihi kapasitasnya. Begitu juga dengan jadwal penerbangan dari berbagai penjuru di tanah air. 

Kini, istilah mudik lebaran, juga telah menjadi acuan pula dengan berbagai perantau dari berbagai penjuru tanah air ini. Tegasnya, kebiasaan orang Minang pulang kampung setiap mau lebaran, sudah menjadi budaya juga bagi anak bangsa diberbagai provinsi.

Dari sekian banyak perantau orang Minang, perantau dari Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, termasuk yang patut dipuji dalam membangun kampung leluhurnya. Bahkan, setiap dua tahun sekali, semua perantau Nagari Sulit yang bertebaran di berbagai wilayah di republik ini, mereka sepakat untuk pulang kampung secara bersama. Yang hebatnya lagi, para perantau Nagari Sulit Air ini, mengadakan berbagai kegiatan sosial, juga mengadakan turnamen olahraga dengan mempertandingkan berbagai cabang olahraga. 

Yang patut dipuji juga dari para perantau Nagari Sulit Air tersebut, selain tujuan mereka pulang kampung,  tak hanya sekedar pelepas rindu bertemu orang tua (kalau masih hidup), sanak sasuku atau famili satu kaum. Tapi mereka juga melakukan pembangunan  sarana ibadah, sekolah, dan pesatren, serta pembangunan lainya, yang ada kaitannya dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat umum. 

Jadi, jika fakta memang lebih banyak jumlah orang Minang di rantau dari pada dikampung, rasanya tak ada salahnya juga pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota untuk menyamakan visi dan misi, bagaimana membuat suatu cara yang efektif dengan cara memanfaatkan perantau tersebut, untuk ikut membangun kampung secara bersama-sama, serta melindungi masyarakat  minang yang dirantau tersebut.

Salah satu cara mungkin bisa saja menunjuk salah satu  pejabat yang eselonnya setingkat kepala dinas dan bertugas dan berkantor di Ibu Kota Jakarta dan punya perwakilan di setiap provinsi di tanah air. Bila perlu, ada juga yang bertugas di luar negeri. 

Kinerjanya kepala dinas urusan rantau tersebut, bisa saja ikut membantu para perantau dari berbagai aspek kehidupan. Kemudian, bagi anak rantau yang sudah mempunyai gedung atau perkantoran diberbagai rantau, bisa saja dimanfaatkan untuk bertukar informasi, serta saling memanfaatkan masalah bisnis. Misalnya, ada cabang Bank Nagari disetiap rantau yang komunitasnya memungkinkan untuk bersinergi dalam persoalan simpan pinjam.

Khusus membahas atau membicara sisi  ekonomi atau bisnis, rasanya wajar juga kita pertanyakan keberadaan dan peran  Gebu Minang yang berdasarkan catatan sejarah, lahir atau dicetuskan Desa Aripan Solok (waktu itu masih desa) menjadi daerah bersejarah bagi proses munculnya Gebu Minang. Bahkan, di desa Aripan Solok itu tahun 1982 dalam acara temu wicara Pekan Penghijauan, menanggapi permintaan seorang petani yang minta traktor mini guna mengolah sawahnya, mantan Presiden Soeharto memberikan kata-kata;"Orang Minang sebetulnya mempunyai kekuatan, jika sejuta perantau saja menyumbang Rp 1.000 (seribu rupiah) saja per kepala, maka terkumpul dana pembangunan Rp 12 miliar untuk Sumatera Barat dalam setahun”. 

Kini, tak ada salahnya juga kalau kita kaji kembali, sejarah dan eksistensi dari Gebu Minang tersebut. Caranya, ya bisa saja pemerintah Provinsi Sumatera Barat, mengundang dan mengajak kembali pejabat, pengusaha, serta berbagai unsur untuk duduk satu meja lagi membahas Gebu Minang. Semoga (Penulis wartawan tabloidbijak.com)  

Post a Comment