Ads (728x90)

Ranah Minang berduka karena  tercela dengan fakta sementara. Kenapa? Karena katanya Ranah Minang menempati posisi terbanyak di Indonesia, dihuni oleh kelompok Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender. Fakta tersebut  konon berdasarkan survei sementara, yang tak jelas siapa yang melakukan survei dan nama lembaga surveinya. Sementara tuduhan Sumatera Barat dikatakan peringkat pertama, informasinnya telah menjadi kosumsi media yang sudah menyebar meluas.

Terlepas dari kebenaran data dan fakta tersebut, yang jelas secara fakta juga kelompok lebian, guy, biseksual dan transgender tersebut memang ada di Ranah Minang dan memerlukan perhatian serius oleh oleh ninik mamak, tokoh adat dan pemerintah daerah.

Lesbian merupakan istilah bagi wanita yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama jenisnya. Istilah ini juga mengarah kepada wanita yang mencintai wanita baik secara fisik, emosional, dan seksual, atau bahkan secara spiritual.

Sedangkan pengertian dari Gay adalah sebuah istilah yang pada umumnya digunakan untuk orang yang homoseksual. Homoseksual merupakan kelainan dimana pria menyukai sesama jenisnya.

Selanjutnya adalah bisexual, dimana individu yang yang bisa menikmati hubungan emosional dan seksual dengan orang pria dan wanita. Lalu bagaimana dengan transgender? Transgender sendiri adalah ketidaksamaan identitas gender atau jenis kelamin seseorang terhadap jenis kelamin yang ada pada dirinya. Seseorang yang transgender bisa mengidentifikasi dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, aseksual, ataupun biseksual.

Dari semua definisi diatas walaupun berbeda-beda dari sisi pemenuhan hasrat untuk melakukan seksual, akan tetapi memiliki kesamaan untuk kesenangan baik secara biologis ataupun psikis dan orientasi seksual bukan saja dengan lawan jenis akan tetapi bisa juga dengan sesama jenisnya.

Diakui terhadap prilakuk sex menyimpang ini, sebenarnya Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah mengambil langkah penindakan dan pencegahan kelompok Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT). Bahkan, Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit, telah mengajak masyarakat untuk saling mengawasi anggota keluarga dan lingkungannya agar pergerakan LGBT bisa dibatasi dan dikurangi. 

Tindakan dan sikap Wakil Gubernur Sumbar tentang LGBT itu, perlu juga menjadi kajian dan bahasan pakar di kampus, baik UNP maupun perguruan tingi lainnya. Bagaimanapun juga, pergerakan LGBT harus diatasi dn diberantas. 

Kemudian kebijakan  Pemprov Sumbar mengundang sejumlah instansi terkait seperti Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatra Barat, Dinas Kesehatan Sumatra Barat, dan sejumlah tim ahli dan tokoh adat untuk merumuskan langkah pencegahan dan penindakan terhadap kelompok LGBT berkembang di Ranah Minang, patut juga dipuji dan diapresiasi dan didukung. Kenapa? Karena Pemprov Sumbar  sedang merumuskan sanksi bagi masyarakat yang terbukti terlibat dalam kelompok LGBT. Meski sanksi pidana tak bisa diberikan, namun masih bentuk sanksi lain yang bisa dijatuhkan kepada pelaku LGBT, seperti sanksi adat dibuang sepajang adat. 

Sebenarnya, kitab suci Al-qur’an sudah membahas perbuatan LGBT ini sebagai perbuatan yang keji. Sebagai seorang Muslim kita pasti tahu tentang perbuatan kaum Nabi Luth, yaitu kaum sodom yang mendatani pasangan sejenisnya untuk mengeluarkan hasrat seksualnya, maka Allah  azab mereka akibat dari perbuatan hina dan keji yang mereka lakukan. 

Fakta ini sebagaimana yang dituangkan dalam surat Asy –syu’aro ayat 160-166 :   “Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 160-166).

Kini, untuk memberantas prilaku sex menyimpang ini tinggal keseriusan tokoh masyarakat, ninik mamak dan aparat keamanan, serta tokoh adat bagaimana mengurangi dan sekaligus memberantas prilaku sex menyimpang ini. Semoga. (Penulis waratwan tabloid bijak dan padang pos.com)

Post a Comment