Ads (728x90)

PADANGPOS (Jakarta)---Di era keterbukaan semua pelaku usaha harus siap bersaing dengan pemain internasional. “Lebih baik bank internasional berada di Indonesia dari pada nasabah kita menaruh dana di luar negeri,” kata Presiden saat bertemu sejumlah pimpinan bank, Kamis 15 Maret 2018, di Istana Negara, Jakarta.

Tak ada lagi kekang yang mampu menahan pergerakan dana di era globalisme seperti sekarang. Maka perbankan nasional harus mampu memenangi persaingan. Perbankan nasional juga harus makin kreatif menciptakan produk dan memberikan layanan yang menarik dan mampu memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin beragam dan canggih.

"Sudah sering saya tekankan, mau tidak mau, suka tidak suka, kita hidup di era keterbukaan dan kompetisi yang sangat ketat. Kita berada pada era transisi perubahan yang cepat juga," ujar Presiden. 

Saat ini, Presiden menggambarkan, mobilitas orang maupun dana ke negara lain sangat mudah. Ke Singapura, misalnya. Di sana dengan mudahnya warga asing membuka rekening atau melakukan transaksi perbankan dan investasi.

Oleh karena itu, tak ada pilihan lain bagi perbankan nasional selain bersikap terbuka dan siap berkompetisi dengan bank-bank internasional yang masuk dan berada di Indonesia.

Presiden pun mengingatkan para pimpinan bank, “Saya wanti wanti ke bank-bank nasional kita. Hati hati, persaingan semakin sengit dan dalam beberapa tahun ke depan juga akan semakin sengit lagi," ucap Presiden.

Jakarta, 15 Maret 2018
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Bey Machmudin
[16.00, 15/3/2018] Bey Machmudin: Hadapi Persaingan Global, Perbankan Nasional Harus Mampu Berinovasi

Perbankan Indonesia harus mampu mencari dan menyiapkan inovasi-inovasi terkini yang dapat memajukan dunia perbankan nasional karena persaingan bisa datang dari mana saja, tidak hanya dari perbankan. Itulah salah satu poin penting yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan sejumlah pimpinan bank umum di Indonesia pada Kamis, 15 Maret 2018, di Istana Negara, Jakarta.

Di hadapan para pimpinan perbankan se-Indonesia itu, Kepala Negara meminta mereka untuk tidak berdiam diri terhadap perubahan-perubahan yang begitu cepat terjadi. Ia mencontohkan sebuah perubahan drastis yang terjadi di Tiongkok beberapa waktu terakhir.

"Di Tiongkok, tahun 2013, diam-diam Alibaba meluncurkan sebuah produk tabungan. Saya kira pada tahu namanya Yu'e Bao. Saat itu bank-bank konvensional di sana tenang-tenang saja," ujarnya.

Alibaba selama ini dikenal sebagai sebuah perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Sebagaimana penjelasan Presiden, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma tersebut kemudian menjejakkan kakinya dalam industri perbankan.

Tak butuh waktu lama bagi Yu'e Bao untuk berkembang pesat. Hanya butuh waktu sekitar empat tahun baginya untuk mengungguli kompetitornya di sana.

"Dalam waktu yang hanya empat tahun, Yu'e Bao melejit dan sekarang menjadi produk tabungan terbesar di dunia," kata Presiden.

Di tahun 2017 lalu, Yu'e Bao mengelola dana sekitar USD160 miliar. Jumlah tersebut bahkan melampaui perusahaan perbankan J.P. Morgan & Co. yang "hanya" mengelola USD150 miliar.

"Hati-hati dengan fenomena-fenomena seperti ini. Inilah hal-hal yang perlu terus kita ikuti perubahan teknologi itu. Terkadang setiap hari kita terkaget dengan perubahan yang cepat," sambungnya.

Presiden mengungkap apa yang sebenarnya menjadi kunci sukses dari Alibaba di sektor perbankan tersebut. Pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan perkembangan zaman serta integrasi dengan produk lain yang semakin memudahkan merupakan kunci yang ia maksud.

"Alibaba memasukkan Yu'e Bao langsung ke dalam aplikasi mobile-nya dan diintegrasikan dengan yang namanya Alipay, sistem pembayaran Alibaba. Begitu terintegrasi langsung melejit," tuturnya.


Jakarta, 15 Maret 2018
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Bey Machmudin

Post a Comment