Ads (728x90)

Bupati Hendrajoni bersama Kepala Bappeda-Litbang, Yozki Wandri, Kepala Dinas Perikanan, Arlina Wati dan Kepala Bidang Tangkap Dinas Perikanan tengah menyaksikan panen udang vanamei di Carocok Tarusan, Jumat, 27 April 2018. 

BIJAKONLINE (PAINAN)-Bupati Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Hendrajoni menyaksikan panen perdana udang vanamei Tambak Tuah Sakato di Kecamatan Koto XI Tarusan.

Menurutnya, pemerintah daerah sangat mendukung usaha tersebut. Sebab, potensi usaha budi daya udang vanamei di kawasan Carocok Tarusan sangat potensial.

"Ini sangat luar biasa. Saya apresiasi ini," ungkap bupati di sela-sela acara panen perdana udang vanamei di Kenagarian Carocok Anau, Jumat, 27 April 2018. 

Kegiatan panen perdana dihadiri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda-Litbang), Yozki Wandri.

Selain itu, juga hadir Kepala Dinas Perikanan, Arlindawati. Kepala Bidang Budi Daya, Firdaus. Kepala Bidang Tangkap, Alfirman Julta dan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Andi Resfinal.

Ia melanjutkan, usaha budi daya udang vanamei perlu dikembangkan. Bukan hanya di Tarusan, tapi juga di sejumlah kecamatan lainnya di Pessel.

Bahkan, ia berjanji, pemerintah daerah bakal memberi fasilitas kemudahan bagi investor budi daya perikanan di negeri berjuluk 'sejuta pesona' itu.

Pemerintah daerah, lanjut bupati, terus mendukung kegiatan produktif seperti itu. Bahkan, ia berjanji bakal memberi fasilitas kemudahan bagi siapa saja yang berinvestasi bidang perikanan.

Apalagi, usaha budi daya udang saat ini mampu menyerap banyak tenaga kerja cukup banyak. "Dulu tambaknya kita yang bangun," jelas bupati.

Sementara, Manager Tambak Tuah Sakato, Mumtas, menyampaikan, untuk panen perdana ini mencapai 90 ton, dari 30 tambak yang ada.

Hasil panen nantinya bakal diangkut ke Lampung dan selanjutnya dikirim ke berbagai negara tujuan ekspor. "Kini harganya berkisar antara Rp50-Rp70 ribu per Kilogram," sebutnya.

Guna pengembangan usaha ke depan, ia meminta pemerintah daerah untuk menentukan tata letak lokasi. Artinya, ada Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang jelas.

Dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) soal RDTR, investor tidak ragu lagi dalam menanamkan investasinya di sektor tambak di daerah ini.

"Jadi, jika ada Perda RDTR, investor tidak ragu menanamkan modalnya. Ini tentunya biar tidak tumpang tindih dengan kawasan pengembangan wisata dan lingkungan hidup," pinta dia.

Pentingnya Perda tersebut, ulasnya, mengingat investasi tambak udang cukup tinggi. Untuk 30 tambak seperti itu, nilai investasinya bisa mencapai Rp10 miliar.

Pada kesempatan itu, Kepala Bappeda-Litbang, pemerintah daerah ke depan bakal menciptakan kegiatan hilir sebagai pendukung dari kegiatan hulu budi daya sektor perikanan.

Kegiatan hilir tersebut telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 Pesisir Selatan.

Dengan adanya upaya hilirisasi, secara otomatis memberikan nilai tambah dari produksi hulu yang dihasilkan masyarakat.

"Jika perkembangannya bagus, nanti kita akan upayakan bakal ada industri turunan dari udang ini seperti terasi dan tepung ikan," ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan tambak di Tarusan tidak bersentuhan dengan kawasan pengembangan pariwisata. Karena hal itu telah tertuang dalam Perda RDTR.

Sedangkan Kepala Bidang Budi Daya Dinas Perikanan, Firdaus menyampaikan, pihaknya telah memetakan kawasan potensi budi daya perikanan di Pessel.

Selain tarusan, potensi lainnya yang telah memiliki Standar Indonesia (SI) dan Detai Enginering Design (DED) dari Provinsi Sumatera Barat adalah Amping Parak, 154 Hektare.

Tak hanya itu, Sungai Tunu seluas 22 Hektare. Ranah Pesisir 67 Hektare dan Punggasan Timur 58,71 Hektare. "Yang terbesar memang di Tarusan, 231 Hektare," tutup dia. (teddy setiawan)

Post a Comment