Ads (728x90)

ADA hal menarik untuk dikaji dan dibahas masalah dispensasi Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno yang memberikan dispensasi kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melaksanakan iktikaf, sepuluh hari Ramadan terakhir.

Kemudian untuk merealisasikan janji tersebut, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno telah memerintahkan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumbar,  supaya secepatnya membuat aturan, agar semua  ASN di Pemprov Sumbar bisa iktikaf tanpa mengurangi jatah cutinya.

Sedangkan mengeni lokasi iktikaf, Gubernur Sumbar juga  memberikan kebebasan kepada ASN untuk memilih tempak iktikaf, karena iktikaf merupakan urusan agama yang bersifat pribadi. Maksudnya, Gubernur Sumbar memberikan kebebasan kepada ASN mau memilih tempat iktikaf, bisa saja di masjid kantor Gubernur, Masjid Raya Sumbar atau di masjid dekat rumah juga boleh. Apalagi di Padang ini kan sudah banyak masjid yang digunakan untuk iktikaf.

Dispensasi Gubernur Sumbar bagi ASN yang beriktikaf ini, karena iktikaf mengandung hikmah dan kerahasian dan tujuan, sebagaimana yang disampaikan oleh Dr Muhammad Hariyadi MA, dalam tulisannya di Harian Republika. Katanya, setiap ibadah mengandung hikmah, kerahasiaan dan tujuan, sebab semua ibadah meniscayakan manfaat fisik dan jiwa, keihlasan hati, perbaikan perilaku, dan manfaat bagi kehidupan. Jiwa manusia seringkali terpaku pada fenomena dan lupa pada tujuan.

Inilah jiwa yang lupa dan dilupakan oleh setan akan tujuan, sehingga sibuk dengan fenomena dan kehilangan tujuan.

Jiwa macam ini memerlukan penenang guna membersihkan dan mensucikannya dari kelupaan. Dan fungsi pembersihan tersebut ada pada i'tikaf, yang intinya menyucikan isi hati dari sifat-sifat negatif, mengevaluasinya untuk tidak bersemayam di relung hati, menghadirkan kemuliaan dan keagungan Tuhan, mengisi hati dengan berbagai sifat kebajikan.

Inilah reposisi jiwa untuk meletakkan hati pada relnya yang benar, menyemaikannya dengan aneka kebajikan dan meletakkan mesin evaluasi yang bekerja sepanjang hayat agar jiwa dapat bertanya: "Kemana kita menuju, kepada Tuhan atau penciptaan?" Kalau kepada penciptaan, maka di alam kubur nanti pertanyaan malaikat bukan "Siapa engkau?", "dari mana datangmu?", dan "siapa yang mengenalmu?", melainkan "siapa Tuhanmu?", "siapa nabimu?", dan "apa agamamu?". 

Inilah kisaran hati orang-orang yang beriktikaf yang mengembalikan posisinya pada awal penciptaan manusia dan penyadaran bahwa pada hakekatnya semua makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya. (QS. Ar-Ruum: 26). Dunia adalah fenomena yang sering membuat lupa hati manusia hingga saat sakaratul maut tiba. Tanpa fase sakaratul maut, dunia mampu melupakan fitrah manusia yang tunduk dan bertasbih kepada Allah SWT, sama dengan fitrah alam semesta lainnya.

Membersihkan hati dengan perenungan akal dan hati dan menyucikan jiwa dengan ilmu, zikir dan ketaatan telah menjadi tradisi Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW melakukan I'tikaf pada sepuluh hari Ramadhan hingga beliau wafat. (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan kegiatan serupa yang dikenal dengan Khalwah (Tahanuts) telah beliau lakukan di gua Hira sebelum diangkat sebagai Rasul.

Keuntungan beriktikaf sebagaimana dikemukakan Dr. Khalid Abdul Kareem antara lain:

1.    Iktikaf yang benar akan memberikan perbaikan dan buah di hati serta menumbuhkan sifat ikhlas dan penyucian jiwa. Hal tersebut karena inti dari semua perbuatan terletak di hati dan hati yang baik akan membuahkan perbuatan yang baik pula. Rasulullah SAW bersabda: "Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam fisik manusia terdapat sekerat daging, jika baik (keratan itu) maka baiklah fisik secara keseluruhannya, dan jika buruk (keratan itu) maka buruklah semuanya. Ketahuilah bahwa (sekerat daging tersebut) adalah hati." (HR. Bukhari-Muslim).

2.    Mereka yang beriktikaf di akhir Ramadhan adalah orang-orang yang mencari Lailatul Qadr dan jika pencarian itu lengkap sepuluh hari terakhir, maka  Allah SWT akan memberikan ampunan atas-dosa-dosanya.

3.    Orang-orang yang beriktikaf adalah pribadi-pribadi yang menghidupkan sunah Rasul SAW dan barang siapa menghidupkan sunahnya maka mereka menjadi pribadi yang dicintai Allah dan Rasul-Nya yang balasannya adalah ampunan dan surga. Allah SWT berfirman: "Katakan (Muhammad)!, Jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imrah: 31).

4.    Dengan beri'tikaf, seseorang telah memelihara diri dari kelupaan kepada Allah; menjaga diri dari perbuatan haram; menjauhkan panca indera dari perbuatan dosa dan maksiyat. Semua itu merupakan hakekat peribadatan dan ketundukan kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan Iktikaf kita di akhir Ramadhan sebagai Iktikaf yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW sehingga membuahkan perubahan kebaikan secara pribadi maupun sosial. (penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos.com)

Post a Comment