Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang)---Setelah pada 14 April lalu, Komjen Pol Drs Suhardi Alius,MH, hadir di Universitas Negeri Padang dalam rangka beda buku "Islam dalam Bingkai Ke-Indonesia-an dan Kemanusiaan karya Ahmad Syafi'i Maarif, mantan PP Muhammadiyah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol, Suhardi Alius kembali hadir di UNP guna memberikan Kuliah Umum dengan tema “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme”.

"Terimakasih Pak Rektor yang telah berperan mengajak civitas akademika UNP untuk mendukung pencegahan paham radikal terorisme. Salah satunya melalui kesempatan saya memberikan kuliah umum selaku Kepala BNPT," ujar Suhardi Alius mengawali kuliah umumnya, Kamis (3/5) yang dimoderatori Nofrion, MPd.

Bertempat di Auditorium UNP, Kuliah Umum diawali dengan sambutan Rektor UNP, Prof Ganefri, yang dihadiri seribuan mahasiswa dan para Wakil Rektor serta para Dekan selingkungan UNP, juga diikuti 60-an Duta Damai Dunia Maya Wilayah Sumbar.

Pada kesempatan itu, Rektor UNP mengatakan dalam rangka memerangi bahaya tindakan radikalisme, UNP bekerjasama dengan BNPT, yang kebetulan dipimpin Putra Minang, yang peduli kepada generasi muda sebagai penerus bangsa.

"Tepuk tangan dulu kepada Bapak Komjen Pol Suhardi Alius, yang urang awak ini yang telah kembali hadir di UNP untuk pembekalan bagi mahasiswa terhadap bahaya radikalisme, yang  saat ini sudah menjarah pada anak-anak dan perguruan tingi yang akan merusak masa depan bangsa.” ujar Rektor UNP dalam sambutanya.

Suhardi Alius dalam paparannya menjelaskan, stikma resonansi dan radikalisme  tidak hanya dianut oleh beberapa orang yang melakukan menyimpangkan, bahkan juga anak-anak tak berdosa juga berpotensi menjadi seorang teroris. Masyarakat diminta cerdas dalam memilih dan memilah informasi apalagi memalui media massa. 

“Semua terbuka di media sosial, filternya ada semua dalam diri kita sendiri yang mempengaruhi khususnya guru, keluarga, komunitas” ujarnya.

Dikatakanya, media sosial sangat berperan penting dalam penyebaran paham khususnya bagi mereka yang kekurangan knowledge sehingga paham tersebut dapat dengan mudah tinggal dan mendarah daging dalam diri tambahnya.

Kepala BNPT mengatakan Presiden RI lebih memilih untuk menyelamatkan mereka korban terorisme dan dari korban terorisme sekarang sudah 120 orang mantan narapidana yang sudah dikembali. Mantan teroris ini akan dijadikan narasumber untuk dalam misi perdamaian.

Suhardi Alius juga berpesan agar masyarakat Sumbar juga tidak memarginalkan atau mengintimidasi mantan narapidana resonansi bangsa dan radikalisme karna hal itu hanya akan membuat para napi merasa semakin terasing.

“Terorisme memang ancaman global, tapi yang bisa mengindentifikasi akar masalahnya ya dari negara masing-masing, kita butuh para pakar, para ahli, para professor untuk mengindetifikasi masalahnya, sehingga bisa didapatkan cara dan formula yang pas untuk mencegah dan menanggulanginya,” kata alumni Akpol tahun 1985 ini.

Kepala BNPT mengajak seluruh peserta untuk dapat menanamkan dan memelihara semangat yang berdasarkan kepada 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Dengan semangat tersebut, diperkaya dengan pengetahuan sejarah dan kearifan lokal dapat membentengi diri dari berbagai terpaan yang dapat mengancam kesatuan Indonesia, seperti radikalisme dan terorisme.

“Jaman sekarang di mana perkembangan teknologi dan dunia maya dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab, kita lah yang harus mampu mengidentifikasi konten-konten di media sosial, maka kita perlu sense of crisis,” tegas Suhardi Alius.

Lebih lanjut, Kepala BNPT mengingatkan bahwa generasi muda, pelajar dan golongan terdidik tidak aman dari infiltrasi pemahaman-pemahaman menyimpang. Mengetahui hal ini, para peserta diharapkan tidak menurunkan rasa awas dan kewaspadaan terhadap lingkungan mereka, baik lingkungan sosial maupun di dunia maya.

“Mahasiswa harus peka dan selalu waspada karna infiltrasi semacam ini nyata adanya. Dan kalau kalian merasa ada teman, kerabat, tenaga pengajar yang dirasa menyimpang agar kalian berani mengingatkan bahkan melaporkannya,” ujar Kepala BNPT.

Disesi tanya jawab,  Kepala BNPT itu memberikan edukasi kepada civitas akademika UNP bila ada gejala radikalisasi di kampus, maka segera koordinasikan dengan jajaran Polda Sumbar.

Kuliha Umum dengan Kepala BNPT selain diakhiri dengan memberikan cendramata, Rektor UNP, Prof Ganefri, PhD juga menyematkan pin UNP kepada Suhardi Alius, yang diakhiri dengan sesi foto bersama. (Humas UNP)

Post a Comment