Ads (728x90)

PADANG POS (PAINAN)-Pedagang Pasar Inpres Painan, Pesisir Selatan (Pessel) mengeluhkan lemahnya daya beli masyarakat sejak satu pekan terakhir.

Syafrial (56), salah seorang pedagang P&D mengungkapkan, sejak memasuki bulan Ramadhan tahun ini, belum ada peningkatan penjualan. 

Kondisi tersebut jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. "Kalau tahun lalu, daya beli cukup kuat. Itu sangat terasa sekali," ungkapnya di Painan, Selasa (22/5).

Ia menjelaskan, rendahnya daya beli bisa jadi akibat pendapatan per kapita masyarakat Pessel yang rendah, sehingga berpengaruh pada daya beli. 

Biasanya, pada awal Ramadhan, permintaan akan bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng dan cabe cukup tinggi.

Apalagi, sebagian dari bahan kebutuhan pokok mengalami penurunan. "Seperti cabe dan minyak goreng, misalnya, itu mengalami penurunan. Tapi permintaan tetap tidak naik," jelas dia.

Hal senada juga disampaikan Welly (40) salah seorang pedagang beras. Ia menyampaikan, saat ini permintaan terhadap beras tidak ada perobahan.

Menuritnya, saat ini stok beras di kios berasnya itu masih menumpuk. Apalagi, pada Ramadhan tahun ini. "Jangankan menimbun, ngabisin stok yang ada aja susah," sebutnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pessel, Nurul Andriana menyampaikan adanya gejala penurunan daya beli tidak bisa dilihat semata dari sisi pedagang.

Sebab, sebagian besar masyarakat telah memiliki persediaan bahan pokok selama bulan puasa. Apalagi, pihaknya saat ini pihaknya belum melihat gejala penurunan pendapatan masyarakat.

"Kami melihat masih stabil. Kalau gejala menyimpan makanan di rumah itu memang ada. Biasanya itu sudah dibeli sebelum puasa," sebut dia.

Berdasarkan data pengeluaran per kapita masyarakat Pessel, untuk golongan ekonomi rendah 24,23 persen. Masyarakat ekonomi menengah 38,11 persen dan ekonomi kuat 37,66 persen.

Angka itu lebih baik dari tahun lalu yang untuk golongan ekonomi lemah 24,43 persen. Ekonomi menengah 36,81 persen dan ekonomi kuat 38,76 persen dari pendapatan. 

Artinya, lanjut dia, rerata pengeluaran masyarakat Pessel masih stabil, utamanya di golongan ekonomi menengah.

"Kalau ekonomi rendah masih belum bagus. Idealnya, pengeluaran per kapita masyarakat ekonomi rendah itu di bawah 20 persen," tutur dia.

Kendati demikian, lanjut dia, masyarakat seharusnya membelanjakan uangnya di daerah sendiri. Jangan belanja di luar daerah.

Tak hanya itu, juga pemerintah daerah, seharusnya membelanjakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di daerah.

Hal itu secara otomatis dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkualitas. 

Sementara sebelumnya, Bupati Hendrajoni menyebutkan sepanjang 2016, pertumbuhan ekonomi daerah lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat.

"Bahkan juga dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Kita sampai 5,3 persen. Sedangkan nasional hanya 5,26 persen," tutup bupati. (teddy setiawan)

Post a Comment