Ads (728x90)

Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Pesisir Selatan, Rosdi.

PADANG POS (PAINAN)-Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk segera menerapkan pola pemasaran tertutup pada gas elpiji 3 Kilogram.

Kepala Bagian Perekonomian, Rosdi, menilai, selama ini pemicu tingginya harga bahan bakar subsidi itu akibat pemasaran yang masih menggunakan pola terbuka. 

Akibatnya, elpiji 3 Kilogram tak hanya dinikmati masyarakat kurang mampu saja. Akan tetapi, juga digunakan masayarakat dengan golongan ekonomi menengah ke atas.

"Makanya, harga selalu di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Ini sudah jadi masalah nasional," ungkapnya pada Padang Pos.com di Painan, Selasa (8/5).

Padahal, berdasarkan rapat koordinasi dengan kementerian pada 2016, pihak kementerian bakal menggunakan pola pemasaran tertutup. Namun, hingga kini pola tersebut belum dilaksanakan.

Untuk itu, berdasarkan rapat bersama bagian perekonomian kabupaten/kota dan provinsi di Sumatera Barat meminta pada Kementerian ESDM, sehingga terkendalinya harga dan ketersediaan elpiji 3 Kilogram.

Pertama, agar pihak kementerian melakukan pendataan ulang terkait jumlah rumah tangga, usaha mikro dan nelayan kecil yang berhak menggunakan elpigi 3 Kilogram.

Hal itu memungkinkan pengunaan, pengadaan dan pendistribusian tabung gas elpiji ukuran 3 Kilogram menjadi tepat sasaran.

Kedua, menerbitkan petunjuk teknis tentang kewenangan pembinaan dan pengawasan terhadap elpiji tabung 3 Kilogram.

"Petunjuk teknis tersebut bisa tentu bisa dijadikan pedoman bagi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota," jelas dia.

Kemudian yang ketiga, meminta pada kementerian untuk menambah kuota elpiji 3 Kilogram di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Sebab, gas elpiji 3 Kilogram tidak hanya digunakan rumah tangga semata. Akan tetapi, juga digunakan usaha mikro dan nelayan kecil.

Kendati demikian, ia menegaskan, hingga kini ketersediaan gas elpiji 3 Kilogram di Pessel masih aman hingga memasuki Ramadhan tahun ini.

Sebab, dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat, kuota Pessel tercatat paling tinggi, mencapai 7.188 Matrix Ton. 

Sedangkan untuk Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp17.900 per tabung. "Tapi kenyataannya, harga kami akui masih di atas harga HET. Ini akan terus kami pantau," tutupnya. (teddy setiawan)

Post a Comment