Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang)---Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyatakan ikut merasakan duka yang teramat dalam atas tragedi teror bom beruntun yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

“Saya bisa merasakan apa yang dirasakan saudara kita di sana (Surabaya). Begitu kejamnya. Tidak ada agama kita mengajarkan begitu,” sisip Nasrul Abit di sela sambutannya saat membuka Rapat Forum Komunikasi Satpol PP dan Damkar se-Sumatera Barat Tahun 2018 dengan tema “Menyamakan Persepsi dalam Merumuskan Langkah-Langkah Operasional Pelaksanaan Tugas Satpol PP dan Damkar di Sumbar,” di Hotel Royal Denai, Kota Bukittinggi, Senen, 14 Mei, 2018.

Di samping mengutarakan empatinya, Nasrul Abit juga menyayangkan jalan yang dipilih oleh peteror yang menurutnya berhulu dari proses belajar agama yang tak tuntas dan keliru dalam memilih guru.

“Itulah makanya saya minta, belajar agama jangan setengah-setengah. Hati-hati juga memilih guru. Tidak ada agama kita mengajarkan begitu. Yang kita mintakan aatina fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah, itu, selamat di dunia, selamat di akhirat. Kalau membunuh orang di dunia, jangan harap selamat di akhirat. Neraka tempat anda,” ujar mnatan Bupati Pessel dua periode ini. 

Ditambahkan Nasrul Abit, bernegara tak sama dengan berakidah dan beragama. Akidah dan agama, baginya mutlak tak bisa diubah siapapun dan merupakan hak pribadi masing-masing orang. Namun bernegara, membutuhkan toleransi karena negara adalah wadah yang menampung ragam warna, rupa, budaya, bahkan agama. Toleransi, sambungnya kemudian, adalah juga ajaran agama.

“Kita memang dalam beragama tidak bisa diubah. Akidah jangan sampai berubah. Namun, bernegara harus ada toleransi dan agama kita toleran. Mari kita sama-sama toleransi agar negara ini tetap aman,” tambahnya.

Instruksikan POL PP
Sebagai bentuk antisipasi agar hal yang sama tidak terjadi di Sumbar, Wagub pada kesempatan tersebut menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota untuk berperan aktif mencegah terjadinya teror dengan cara melakukan deteksi dini dan penindakan jika memang dibutuhkan.

Walaupun hal itu dikatakan Nasrul Abit bukan wewenang dan tugas pokok Satpol PP, akan tetapi, terorisme dapat berdampak pada rusaknya ketertiban umum.

Ketertiban umum, dalam hal ini, adalah titik iris yang membuat Satpol PP dapat mengambil peran sesuai tugas dan fungsinya.

“Memang bukan kewenangan kita (Satpol PP), tapi kita harus peduli. Jika menemukan orang-orang yang mencurigakan, laporkan saja,” katanya.

Terkait hal ini Nasrul Abit menambahkan, bila memang diperlukan, Satpol PP disilakan menyusun dan mengusulkan payung hukum untuk memberi legitimasi atas tindakan-tindakan yang mungkin perlu dilakukan.

Pada kesempatan yang sama, Wagub di sela sambutannya juga berpesan kepada siapapun yang hendak atau berniat melakukan teror agar mengurungkan niatnya dan kembali mengkaji ajaran agama dengan tawadhu.

“Tidak berjihad namanya kalau membunuh yang tak membunuh atau membuat kerusakan di muka bumi,” terangnya.

Nasrul Abit lalu mengingatkan, Ramadhan akan segera datang. Umat Islam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua akan banyak keluar dari rumahnya sejak petang hingga subuh datang untuk melakukan ibadah agamanya.

Jika tak dihentikan, teror akan merusak kekhusyukan umat ini beribadah, juga akan merusak suasana Ramadhan yang semestinya tenang dan suci.

“Untuk yang ada niat jelek, Ramadhan mau datang, banyak umat akan keluar rumah malam hari beribadah, butuh ketenangan. Jangan rusak kesucian bulan ini. Hentikanlah,” pesannya. (relis\fardi)

Post a Comment