Ads (728x90)

PROSES pemilihan walikota Padang boleh dikatakan tinggal menghitung hari. Masyarakat Kota Padang hanya punya dua pilihan, mau pilih pasangan Emzalmi-Desri Ayunda atau Mahyeldi-Hendri Sapta.

Sebagai seorang wartawan, banyak juga yang bertanya kepada saya. Maksudnya, di Pilwako Padang ini saya mau pilih siapa? Lantas tanpa tedeng aling-aling, dengan tegas saya jawab, saya pilih pasangan Emzalmi-Desri Ayunda. 

Sebagai wartawan dan juga warga Kota Padang, tentu saya punya alasan dan argumentasi, kenapa milih pasangan Emdes..

Yang pertama, saya sudah kenal Da Emzalmi, tahun 2001 lalu. Waktu itu saya berkesempatan mengikuti rombongan anggota DPRD Kota Padang pergi reses ke Kota Maskasar dan Kabupaten Goa. Jadi, di kota angin mamiri itulah saya berkenalan dengan Da Emzalmi yang waktu itu mewakili Walikota Padang.   

Jujur sebelumnya saya tak kenal dengan Da Emzalmi. Soalnya, saya memulai karier sebagai wartawan di Kota Palembang, dan Jakarta di Kompas Gramedia Grup. Jadi wajar saja kalau saya tak kenal dengan Da Emzalmi yang sudah malang melintang di birokrasi Kota Padang.

Dari perkenalan tersebut, ada hal menarik yang tak bisa saya lupakan saat berkenalan dengan Da Emzalmi tersebut. Waktu itu saya, secara kebetulan tegak berdiri di pintu mau masuk  aula pertemuan. Waktu itu saya memang sengaja tegak-tegak di pintu mau masuk tersebut, karena dalam ruangan tak boleh merokok dan sementara saya perokok berat.

Waktu sedang asyik merokok itu, datanglah Da Emzalmi yang mau masuk ruangan acara. Waktu itu saya keget karena secara spontan Emzalmi memanggil nama saya, Yal tanpa embel-embel sebutan bapak. 

Spontan saya juga memanggilnya dengan panggilan Uda panggilan keakraban orang Padang atau orang Minang. "Uda habis acara ko, sorenya kembali ke Padang dan Yal bilo baliak," kata Emzalmi waktu itu.

Kemudian saya katakan kalau saya pulang melalui laut dengan kapal laut Lambelu. Alasan saya waktu itu ingin mencoba berlayar dari Ujung Pandang ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan dari Surabaya naik kereta api ke Jakarta dan dari Jakarta naik Bus ANS ke Kota Padang. Alasan saya ingin menikmati perjalanan, sambil berwisata. 

Setelah di Kota Padang, saya berkunjung ke Dinas Tata Kota yang waktu Da Emzalmi kepala dinasnya. Semua pertanyaan tentang plening Kota Padang, di jawab Emzalmi sambil bercerita mulai dari A sampai Z tentang rencana pengembangan dan pembangunan Kota Padang ke depannya. 

Kemudian, begitu Da Emzalmi menjadi Kepala Bappeda Kota Padang, saya pun berkunjung ke kantornya dan kami kembali bercerita tentang pembangunan Kota Padang kedepan. Apa yang disampaikannya tersebut, kini telah terlihat nyata dan kian membuat Kota Padang tertata dengan baik, sesuai plening yang dirancangnya. Bahkan waktu itu, mantan Kakanwil PU yang waktu itu dijabat Sabri Zakaria yang banyak punya kenangan di Kota Padang dan Sumatera Barat, menyebutkan dirinya sangat senang berkomunikasi dengan Emzalmi yang memang punya latar belakang seorang insinyur.

Jadi, kalau kita berbicara tentang tata kota dan pembangunan Kota Padang, Emzalmi bisa dikatakan telah berbuat sesuai dengan keahlihan dan kemampuannya. 

Kemudian yang membuat saya salut dan Bangga dengan Emzalmi, pengalamannya di birokrasi untuk Kota Padang tak ada lawannya, apalagi di Era Kepemimin Fauzai Bahar-Mahyeldi, da Emzalmi menjadi sekda Kota Padang dan kemudian menjadi Wakil Walikota mendampingi Mahyeldi.

Jadi dari sisi pengalaman dan pengetahuan, dan pengabdiannya, boleh diatakan  Emzalmi tak ada tandingannya dan bisa dikatakan the best lah.

Kini untuk maju sebagai calon walikota Emzalmi maju berpangan dengan Desri Ayunda, yang telah punya pengetahuan dan pengalaman segudang tentang ekonomi kerakyatan. Ditambah lagi Desri Ayunda serjana ekonomi Universitas Andalas yang telah malang melintang di perusahaan PT Semen Padang.  

Jadi, alasan saya memilih pasangan Emzalmi-Desri Ayunda lebih kepada kemampuan keduanya dan bukan berdasarkan pertimbangan politik dan sentris. (Penulis wartawan tabloidbijak.com dan padangpos.com) 

Post a Comment