Ads (728x90)

TULISAN ini merupakan kenangan yang saya alami sendiri di Pemilihan penguasa Ranah Minang atau Sumbar. Waktu itu, saya termasuk salah seorang wartawan dan anak nagari Ranah Minang yang ikut berpolitik praktis. Pengalaman tersebut merupakan pengalaman saya seumur hidup, karena pada proses pemilihan sebelumnya saya lebih bersikap diam dan juga tidak berselera bermia politik dan melakukan manuver-manuver politik, dengan bergaya cara dan tingkah. Ya, itulah yang namanya politik praktis,  ya seperti itulah. 

Waktu proses pemilihan tersebut, saya tak hanya melakukan berbagai manuver di dunia maya dengan berbagai cara dengan tujuan mempengaruhi masyarakat pemilih atau masyarakat yang punya hak suara. Bahkan, saya ikut berkampanye di daerah Dharmasraya dan keluar masuk di daerah Sitiung dan sampai ke perbatasan Dharmasraya dengan Solok Selatan. 

Yang serunya lagi, saya bersama Jamalus Datuak Rajo Balai Gadang, masuk ke suatu perkampungan penduduk yang jalannya masih tanah dan masyarakatnya masih taat dengan agama dan adat. Saking serunya, saya dan Jamalus Datuak, ikut rombogan perjalanan raja, istilah masyarakat adat dari Kabupaten Sijunjung tersebut. Hasilnya, penguasa dan wakil penguasa yang ikut saya perjuangan berhasil duduk di tahta kebesarannya.

Tapi dalam perjalanan waktu, apa yang saya lakukan bersama Datuk Jamalus hanya jadi kenangan indah dan pengalaman hidup berpolitik praktis. Yang namanya orang partai, so pasti akan memperjuangkan anggota partai. Kalau diluar partai, jangan berharap bakal dapat ucapan terima kasih dan bantuan apa pun. 

Rupanya, apa yang saya alami ini, juga dirasakan oleh anak bangsa dari Ranah Minang lainnya. Habis pemilihan, hanya bertahan beberapa bulan saja, diajak untuk bertemu dan makan bersama. Sesudah itu, mungkin karena kesibukan, sehingga orang yang kita dukung tersebut lupa atau pura-pura lupa. Bagi yang bermental "penjilat", so pasti akan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. .

Kemudian, prilaku petinggi partai itu seakan-akan tidak tahu dengan pendukung non partai dan mereka terlihat masa bodoh alias cuek dengan bantuan dan pengorbanan orang yang ikut mengantarkannya ke singasana kekuasaan. 

Padahal sebelumnya, tak hanya diajak makan berdua, tapi juga ditawarkan untuk makan bersama istri dengan satu meja berempat. Kenangan itu begitu indah, tapi hanya untuk dikenang saja.

Goresan hati ini, bukan untuk mengenang jasa dan bermaksud untuk minta balas jasa, tapi hanya lebih untuk memberikan masukan atau pandangan bagi masyarakat yang ikut diajak berpolitik praktis. 

Jadi, dari pada menyesal kemudian, lebih baik berhati-hati dan waspada dengan permainan politik sekelompok anak bangsa yang hanya akan memperhatikan orang separtai dengan mereka, Kalau tidak separtai, jangan berharap, ujungnya akan kecewa. (Bersambung---penulis wartawan tabloidbijak.com dan padangpos.com)

Post a Comment